Kisah Budiono, Pria Mirip Jokowi yang Blusukan Mengajarkan Reog di Magetan

Kompas.com - 08/04/2019, 22:08 WIB
Budiono, warga Kabupaten Magetan yang memiliki wajah mirip Presiden Jokowi mengabdikan hidupnya untuk kesenian reog di Magetan. Budiono berhara kemiripan wajahnya dengan orang nomor satu di Indonesia akan membawa berkah kepada kesenian reog. KOMPAS.com/SUKOCO Budiono, warga Kabupaten Magetan yang memiliki wajah mirip Presiden Jokowi mengabdikan hidupnya untuk kesenian reog di Magetan. Budiono berhara kemiripan wajahnya dengan orang nomor satu di Indonesia akan membawa berkah kepada kesenian reog.

Meski dikatakan mirip Jokowi, namun Budiono mengaku belum pernah bertemu dengan sosok Jokowi. Pun ketika Jokowi mengunjungi Kabupaten Magetan pada Februari lalu.

Padahal, saat itu, grup reog yang dipimpinnya juga main untuk menyambut kedatangan Jokowi. “Belum pernah bertemu langsung, padahal kemarin kami main di sana,” kata dia.

Mengabdi untuk reog

Karena kemiripan fisik Budiono dengan Jokowi, sejumlah pemilik grup reog di Magetan mendaulat Budiono sebagai presiden reog Magetan. Bukan hanya karena kesamaan fisik saja, tetapi karena dedikasi Budiono dalam mengajak generasi muda di Kabupaten Magetan untuk menggeluti seni reog.

Dengan kemiripan fisik dengan Jokowi yang dimilikinya, Budiono berharap ada dampak kepada nasib kesenian reog di Kabupaten Magetan. Meski di Kabupaten Magetan memiliki lebih dari 60 grup reog, dengan satu desa bisa memiliki 3 grup reog, namun belum ada ajang yang bisa menyatukan semua grup reog di Magetan.

Bahkan, perkumpulan seperti forum atau grup pengiat seni reog di Magetan pun tidak ada.

“Keinginan para borek reog di Magetan itu setidaknya ada event tahunan seperti di Ponorogo. Perkumpulan borek se-Kabupaten Magetan pun sampai saat ini belum ada,” kata dia.

Baca juga: Ketika Reog Ponorogo Jadi Pusat Perhatian Penonton Menoreh Art Festival 2018

Meski kesenian reog sempat diklaim oleh Malaysia, namun Budiono memastikan jika seni reog itu tidak akan pernah bisa lepas dari tanah kelahiran seni tersebut, karena seni reog merupakan penggambaran perjalanan sejarah masyarakat Ponorogo.

Yang diperlukan untuk menjaga nilai tradisi seni reog Ponorogo adalah bagaimana menurunkan nilai keluhuran dari seni reog Ponorogo tersebut kepada generasi penerus bangsa.

Selama ada generasi muda yang mau belajar seni reog, maka selamanya reog Ponorogo akan tetap ada.

“Bagaimanapun reog itu tetap dari Ponorogo, pun reog di Magetan tetap dari Ponorogo. Bahkan, orang Indonesia yang ada di luar negeri membuat grup reog di sana, tetap namanya reog Ponorogo,” pungkas dia.

Halaman:
Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Terkini Lainnya

Close Ads X