Cegah Konflik di Masyarakat, Festival Budaya untuk Perdamaian Dilaksanakan di 24 Daerah

Kompas.com - 02/04/2019, 13:44 WIB
Dari kiri ke kanan, Hasrul Edyar (Direktur Penanganan Daerah Pasca Konflik), Sugito (Setditjen PDTu), Mahmud Abdullah (Wakil Bupati Sumbawa), Anwar Sanusi (Sekjen Kemendes PDTT), Aisyah Gamawati (Dirjen PDTu Kemendes PDTT). Dok. Kemendes PDTTDari kiri ke kanan, Hasrul Edyar (Direktur Penanganan Daerah Pasca Konflik), Sugito (Setditjen PDTu), Mahmud Abdullah (Wakil Bupati Sumbawa), Anwar Sanusi (Sekjen Kemendes PDTT), Aisyah Gamawati (Dirjen PDTu Kemendes PDTT).

SUMBAWA, KOMPAS.com — Festival Budaya untuk Perdamaian 2019 berlangsung sukses di Desa Dete, Kecamatan Lape, Kabupaten Sumbawa, NTB, pada Sabtu (30/3/2019).

Atas kesuksesan tersebut, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) akan memperluas festival serupa di 23 daerah lain.

Hal ini disampaikan oleh Aisyah Gamawati, Dirjen Pengembangan Daerah tertentu Kemendes PDTT, melalui rilis ke Kompas.com, Selasa (2/4/2019).

Menurut dia, pelaksanaan ajang tersebut bertujuan untuk memperkuat pranata adat lingkup daerah untuk pencegahan konflik masyarakat sejak di tingkat desa.

"Sumbawa menjadi salah satu dari 24 daerah di Indonesia yang menjadi sasaran festival ini. Walaupun daerah ini (Sumbawa) terdiri dari berbagai suku, konflik tidak ada karena masyarakat Sumbawa memiliki pranata adat," kata Aisyah.

Baca juga: Festival Budaya Pangkal Pinang Hadirkan Perpaduan Melayu-Tionghoa

Pranata adat itulah yang kemudian akan didorong oleh Kemendes PDTT menjadi lembaga adat yang mampu menyelesaikan persoalan masyarakat di tingkat bawah.

"Ini akan menjadi model bagi Kemendes PDTT untuk menyampaikan kepada masyarakat bahwa keberagaman adat yang dimiliki merupakan kekuatan luar biasa membangun perdamaian," lanjut Aisyah.

Pelaksanaan di Sumbawa

Wakil Bupati Sumbawa Mahmud Abdullah mengatakan Sumbawa merupakan miniatur Indonesia mini. Sebab warga Sumbawa hidup di tengah keberagaman suku, ras, agama, dan budaya.

Menurut dia, Festival Budaya ini bisa menjadi sarana bagi masyarakat Sumbawa untuk lebih saling mengenal dan mengetahui cara penyelesaian masalah di daerah masing-masing.

Baca juga: Festival Budaya Sei Mahakam Perkenalkan Keragaman Budaya Kaltim

"Masalah di masyarakat akan selalu ada. Yang penting adalah bagaimana cara kita menyelesaikan masalah tersebut. Kami berharap festival ini bermanfaat dan membawa keharmonisan dan perdamaian serta dapat melestarikan nilai budaya asli Sumbawa," katanya.

Festival Budaya untuk Perdamaian 2019 menampilkan kesenian asli Sumbawa, seperti Marantok, atau kesenian 36 ibu berbaju adat yang menumbuk padi. Ada juga kesenian tembang dan syair Sakeco.

Selain itu, ada juga penampilan tarian adat NTT yang dipersembahkan warga NTT yang menetap di Sumbawa.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Video Bantuan Gempa Majene Diduga Dijarah Warga, Ini Penjelasan Polisi

Video Bantuan Gempa Majene Diduga Dijarah Warga, Ini Penjelasan Polisi

Regional
Hendak Ambil Ponsel yang Tertinggal, Gita Tewas Tertimpa Bangunan Saat Gempa Susulan

Hendak Ambil Ponsel yang Tertinggal, Gita Tewas Tertimpa Bangunan Saat Gempa Susulan

Regional
Mengungkap Fakta Aksi Perampokan yang Diduga Libatkan Ibu Hamil di Kabupaten Malang

Mengungkap Fakta Aksi Perampokan yang Diduga Libatkan Ibu Hamil di Kabupaten Malang

Regional
Banjir di Kalsel Meluas, Warga Menunggu Evakuasi dari Loteng

Banjir di Kalsel Meluas, Warga Menunggu Evakuasi dari Loteng

Regional
Fakta Lengkap Kasus Pembunuhan Mahasiswa Telkom di Karawang

Fakta Lengkap Kasus Pembunuhan Mahasiswa Telkom di Karawang

Regional
Gita Tewas Tertimpa Bangunan, Sang Ayah: Dia Lupa HP-nya, Lalu Masuk Lagi

Gita Tewas Tertimpa Bangunan, Sang Ayah: Dia Lupa HP-nya, Lalu Masuk Lagi

Regional
Fenomena Awan Mirip Gulungan Ombak di Langit Bandara YIA Kulon Progo, Ini Penjelasannya

Fenomena Awan Mirip Gulungan Ombak di Langit Bandara YIA Kulon Progo, Ini Penjelasannya

Regional
OJK Nobatkan Jateng Jadi Provinsi Terbaik Penggerak Keuangan Inklusif

OJK Nobatkan Jateng Jadi Provinsi Terbaik Penggerak Keuangan Inklusif

Regional
Kisah Tragis Fathan, Tewas Dibunuh Rekannya gara-gara Tak Meminjami Uang

Kisah Tragis Fathan, Tewas Dibunuh Rekannya gara-gara Tak Meminjami Uang

Regional
Update Bencana Longsor di Sumedang, 25 Orang Tewas hingga Kendala Pencarian Tim SAR

Update Bencana Longsor di Sumedang, 25 Orang Tewas hingga Kendala Pencarian Tim SAR

Regional
Detik-detik Gita Tewas Tertimpa Reruntuhan Saat Gempa, Kembali Masuk Rumah untuk Ambil Ponsel yang Tertinggal

Detik-detik Gita Tewas Tertimpa Reruntuhan Saat Gempa, Kembali Masuk Rumah untuk Ambil Ponsel yang Tertinggal

Regional
Bupati Tidak di Tempat, Vaksinasi Ditunda hingga Satgas Kecewa

Bupati Tidak di Tempat, Vaksinasi Ditunda hingga Satgas Kecewa

Regional
Sempat Unggah Foto dan Tulisan 'Takut Gempa Susulan', Gita Meninggal Tertimpa Reruntuhan di Mamuju

Sempat Unggah Foto dan Tulisan "Takut Gempa Susulan", Gita Meninggal Tertimpa Reruntuhan di Mamuju

Regional
Video Seorang Anak Terjebak Reruntuhan Bangunan di Mamuju Jadi Viral, Ini Penjelasan Tim SAR

Video Seorang Anak Terjebak Reruntuhan Bangunan di Mamuju Jadi Viral, Ini Penjelasan Tim SAR

Regional
Cuaca Ekstrem di Sulut, Air Naik ke Permukiman Warga di Sangihe

Cuaca Ekstrem di Sulut, Air Naik ke Permukiman Warga di Sangihe

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X