Geliat Kehidupan Warga Lampung Selatan Pasca-tsunami Selat Sunda...

Kompas.com - 18/03/2019, 11:05 WIB
Kondisi huntara di Desa Way Muli Timur Lampung Selatan. Huntara ini kemungkinan akan menjadi tempat tinggal tetap warga korban tsunami Selat Sunda Kontributor Lampung, Eni MuslihahKondisi huntara di Desa Way Muli Timur Lampung Selatan. Huntara ini kemungkinan akan menjadi tempat tinggal tetap warga korban tsunami Selat Sunda

Sebagian besar warga di sana bermata pencaharian sebagai nelayan. Namun, pasca-tsunami mereka tak dapat lagi bernelayan.

"Perahu kami hancur bagaimana kami bisa mencari ikan sedangkan ingin membuat perahu baru, kami perlu punya biaya Rp 10 juta. Dari mana kami punya uang sebanyak itu," kata dia.

Sedangkan hidup dalam pengungsian juga, menurutnya tak bisa mengandalkan terus bantuan dari orang lain.

"Di awal-awal pasca-kejadian, kebutuhan kami semuanya terpenuhi, tetapi sebulan terakhir mulai terasa sulitnya," kata dia lagi.

Beberapa rumah tangga yang tinggal di huntara terlihat aktivitas berdagang makanan seperti sayuran, makanan matang dan warung kecil-kecil yang dilakukan oleh kelompok perempuan.

"Usaha seadanya itu sebagai hiburan saja, agar kami tidak terlalu menganggur di sini dan juga untuk menopang kebutuhan harian keluarga," ujar dia.

Sedangkan kelompok laki-lakinya, mengisi kesibukan dengan gotong royong memperbaiki fasilitas umum yang tersedia.

Salah satunya memperbaiki fasilitas MCK warga hunian. "Di sini sering sekali kejadian anak-anak dan perempuan terperosok karena licin terutama saat musim hujan," tambah dia.

Kelompok laki-laki terlihat memperbaiki pijakan tapak jalan agar tidak licin. Secara bergantian, mereka juga menyusun jadwal bergilir membersihkan tampungan air dan toilet yang tersedia.

Baca juga: Pasca-Tsunami Selat Sunda, Muncul Kasus Gigitan Ular di Pandeglang

Warga setempat berencana membuat tempat mencuci yang diperuntukan ibu-ibu di sana karena fasilitas kamar mandi tersedia 7 unit untuk melayani 21 keluarga.

"Kasihan kalau ada warga yang terburu-buru ingin mandi atau ingin buang air besar, tetapi di dalam ada warga yang sedang mencuci pakaian," ujar dia.

Kondisi apapun yang mereka hadapi saat ini, dapat diterima dengan baik. Hanya saja, mereka membutuhan pasokan sembako yang berkelanjutan sambil mendapatkan pendampingan pemulihan ekonomi.

"Kami bersyukur pemerintah memperhatikan kami, hanya kami masih bingung akan sampai kapan kami seperti ini," tutup dia.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kronologi Bocah 3 Tahun Tewas Dianiaya Ayah Kandungnya karena Rewel Saat Mandi

Kronologi Bocah 3 Tahun Tewas Dianiaya Ayah Kandungnya karena Rewel Saat Mandi

Regional
Menguak Bisnis Pen Gun di Makassar, Fenomena Baru hingga Peluru dari Luar Negeri

Menguak Bisnis Pen Gun di Makassar, Fenomena Baru hingga Peluru dari Luar Negeri

Regional
Mobil Polisi Digembok karena Parkir di Jalan, Ini Penjelasan Polisi

Mobil Polisi Digembok karena Parkir di Jalan, Ini Penjelasan Polisi

Regional
Pawang yang Digigit King Kobra Disebut Lakukan Ritual Jinakkan Ular, Bukan Atraksi

Pawang yang Digigit King Kobra Disebut Lakukan Ritual Jinakkan Ular, Bukan Atraksi

Regional
Cerita Mahasiswa Indonesia yang Keluar dari China Saat Corona Mulai Mewabah

Cerita Mahasiswa Indonesia yang Keluar dari China Saat Corona Mulai Mewabah

Regional
Bolos Kerja 176 Hari, Ini Sanksi bagi 3 Guru SD dan 1 Pegawai Administrasi SMP di Kudus

Bolos Kerja 176 Hari, Ini Sanksi bagi 3 Guru SD dan 1 Pegawai Administrasi SMP di Kudus

Regional
Cerita Ayah Telepon Putrinya di Wuhan 3 Jam Sekali Hanya untuk Tanya Kabar

Cerita Ayah Telepon Putrinya di Wuhan 3 Jam Sekali Hanya untuk Tanya Kabar

Regional
60 Ternak di Gunungkidul Mati Mendadak Sejak Desember 2019, 6 karena Antraks

60 Ternak di Gunungkidul Mati Mendadak Sejak Desember 2019, 6 karena Antraks

Regional
Balita asal China Masih Diisolasi di RSUD NTB

Balita asal China Masih Diisolasi di RSUD NTB

Regional
Zuhri Pantau Istrinya yang Sedang Selesaikan Program Doktor di Wuhan Lewat Telepon

Zuhri Pantau Istrinya yang Sedang Selesaikan Program Doktor di Wuhan Lewat Telepon

Regional
Begini Nasib Siswi SD yang Diculik dan Dicabuli hingga Hamil 9 Bulan

Begini Nasib Siswi SD yang Diculik dan Dicabuli hingga Hamil 9 Bulan

Regional
Cegah Penyebaran Corona, Pemkab Bantul Pantau Warung Makan yang Sajikan Kelelawar

Cegah Penyebaran Corona, Pemkab Bantul Pantau Warung Makan yang Sajikan Kelelawar

Regional
174 Turis China di Solo Akan Segera Dipulangkan

174 Turis China di Solo Akan Segera Dipulangkan

Regional
Diduga Suspect Corona, Seorang Pasien di Malang Ternyata Batuk Biasa

Diduga Suspect Corona, Seorang Pasien di Malang Ternyata Batuk Biasa

Regional
Maju Pilkada Samarinda, Wasekjen DPP PAN Ingin Stop Izin Tambang Batu Bara

Maju Pilkada Samarinda, Wasekjen DPP PAN Ingin Stop Izin Tambang Batu Bara

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X