Berulang Kali Diserang Hoaks, Jokowi Cuma Bilang Hati-hati...

Kompas.com - 16/03/2019, 21:50 WIB
Capres Jokowi di acara Silaturrahim dan dan Pembekalan Calon Legislatif Koalisi Indonesia Kerja Bersama di Hotel JW Marriot, Medan, Sabtu (16/3/2019) KOMPAS.com / MEI LEANDHA Capres Jokowi di acara Silaturrahim dan dan Pembekalan Calon Legislatif Koalisi Indonesia Kerja Bersama di Hotel JW Marriot, Medan, Sabtu (16/3/2019) 

MEDAN, KOMPAS.com - Calon Presiden nomor urut 01 Joko Widodo ( Jokowi) memulai orasi politiknya dihadapan pimpinan partai politik dan ratusan calon legeslatif dengan menceritakan dirinya sudah berulang kali diserang badai fitnah dan berita bohong.

Namun kini saatnya tiba untuk meluruskan berita-berita sampah itu karena dampaknya dapat menurunkan elektabilitas partai, para caleg, dan dirinya.

Hal ini disampaikan Jokowi di acara Silaturrahim dan dan Pembekalan Calon Legislatif Koalisi Indonesia Kerja Bersama di Hotel JW Marriot, Medan, Sabtu (16/3/2019).   

"Waktu kita tinggal 31 hari lagi, ini sudah mepet. Tim kampanye, partai koalisi dan pendukung, relawan dan seluruh masyarakat harus bekerja maksimal. Luruskan dan jawab semua isu dan hoaks yang menyerang. Setengah tahun saya diamkan, sekarang waktunya..." kata Jokowi. 

Baca juga: Jokowi: Sumatera Utara Miniatur Indonesia

Fitnah keji yang menimpa dirinya cukup banyak mulai dari Jokowi antek asing, PKI, anti-Islam dan ulama, melarang suara azan, pendidikan agama akan dihapus, pelegalan zina, sampai perkawinan sejenis.

Tentang Jokowi disebut PKI, berita yang menyebar di media sosial memperlihatkan foto Ketua PKI DN Aidid sedang berpidato pada acara Pemilu 1955 danada foto Jokowi di dekatnya.

"Saya sampaikan, saya lahir tahun 1961, sementara PKI dibubarkan 1965-1966. Jadi umur saya waktu itu baru empat tahun, tidak ada PKI balita. Hati-hati..." katanya disambut gelak tawa para peserta. 

"Hasil survei akhir Desember 2018 lalu menyatakan, sembilan juta orang percaya dengan isu antek asing dan PKI ini, jadi hati-hati. Kalau kita tidak meluruskan, nanti akan menjadi sebuah kebenaran. Setengah tahun saya bersabar menahan isu ini, sekarang saya jawab, tapi ini saya bukan marah, ya... Saya menjawab isu-isu supaya nanti tidak dibelok-belokkan ke mana-mana," katanya lagi. 

Baca juga: Makan Durian di Medan, Jokowi jadi Tontonan Warga

Soal isu yang menyerang dirinya tersebut, sambil tersenyum Jokowi bilang, kalau dirinya anti-Islam maka tidak akan menandatangani Hari Santri pada 22 Oktober 2015.

Kemudian lihat, calon wakilnya adalah ulama besar sekaligus Ketua Majelis Ulama Indonesia, Kyai Haji Ma'ruf Amin.

"Kok, saya dibilang anti-Islam? Logikanya enggak masuk. Tapi kalau tidak dijelaskan kepada masyarakat, ini akan termakan dan bisa masuk dalam survei sembilan juta itu. Kalau kita tidak menjawab, angka bisa terus bertambah, jadi hati-hati..." ucapnya.

"Semua isu itu sudah mulai masuk di kalangan bawah, kalau tidak kita jawab dan luruskan dengan logika sederhana dan masuk akal, masyarakat bisa termakan dengan isu itu. Percaya sama saya?" tanya dia yang dijawab dengan koor 'percaya' oleh para peserta.

Baca juga: Jokowi Merasa Diuntungkan jika Partisipasi Pemilih Tinggi

Menjawab semua fitnah itu, Jokowi menerangkan soal blok minyak terbesar Mahakam yang selama 50 tahun lebih dikuasai Perancis dan Jepang kini 100 persen berhasil dimiliki Pertamina. 

Begitu juga dengan blok minyak Rokan di Riau yang dikelola PT Chevron selama 90 tahun lebih, sejak 2018 pun sudah 100 persen diserahkan ke Pertamina.

Di akhir Desember 2018, PT Inalum berhasil menguasai 51,2 persen PT Freeport Indonesia. Selama 40 tahun, tambang emas dan tembaga terbesar di dunia ini dikuasai PT Freeport-McMoran.

"Itu dibilang antek asing? Dipikir mengambil alih seperti itu mudah, gampang? Kalau mudah dan gampang sudah kita ambil dari dulu," ujar dia dengan mimik heran.

 

Baca juga: Kampanye di Medan, Jokowi Perkenalkan Menantunya

Para peserta langsung meneriakkan yel-yel kebanggaan Capres nomor urut 01 ini.  

"Ini pekerjaan besar dan sangat sulit, jangan dipikir masalah ini tidak ada intrik politik besar. Menteri-menteri yang saya perintahkan maju-mundur, terus saya sampaikan, 'pelaksanaannya itu di kamu, tapi resiko politiknya ke saya.' Saya tanggungjawab, gak apa resikonya ke saya. Tapi jalankan, selesaikan, rampungkan. Ya... Alhamdulillah selesai," pungkasnya diikuti sorak-sorai para pendukung yang kebanyakan mengenakan baju merah dan putih itu.



Terkini Lainnya


Close Ads X