Fakta Bencana Karhutla di Riau, Persediaan Air Menipis hingga 27 Titik Panas di Meranti

Kompas.com - 06/03/2019, 14:27 WIB
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau, yang dipantau PT SRL dari udara menggunakan drone, Senin (4/3/2019). Dok. Humas PT SRL KOMPAS.com/IDON TANJUNGKebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau, yang dipantau PT SRL dari udara menggunakan drone, Senin (4/3/2019). Dok. Humas PT SRL

KOMPAS.com - Berdasarkan pantauan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru hingga hari Minggu (3/3/2019), jumlah titik panas di Provinsi Riau mencapai 43 titik. 

Wilayah Kepulauan Meranti menjadi terbanyak yang memiliki titik panas. Hal ini membuat petugas bekerja keras untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan ( karhutla) di wilayah tersebut.

Sementara itu, persediaan sumber air di lokasi karhutla semakin menipis. Kondisi ini menjadi kendala bagi para petugas.

Sementara itu, TNI meminta warga untuk tidak membuat puntung rokok dan membakar sampah di lahan gambut. Hal tersebut dilakukan untuk mencegah terjadinya karhutla.

Berikut ini fakta lengkapnya:

1. Titik panas terpantau paling banyak di Kepulauan Meranti

Kebakaran hutan dan lahan di Kepulauan Meranti, Selasa (5/3/2019). KOMPAS.com/IDON TANJUNG Kebakaran hutan dan lahan di Kepulauan Meranti, Selasa (5/3/2019).

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru mendeteksi 43 hotspot atau titik panas di Provinsi Riau, Minggu (3/3/2019).

Jumlah hotspot pagi ini jauh meningkat dari pagi Sabtu kemarin, yakni 23 titik. Kepala BMKG Stasiun Pekanbaru Otto Sukisno mengatakan, hotspot paling banyak terdeteksi di wilayah Kabupaten Kepulauan Meranti.

"Hotspot di Riau pagi ini terdeteksi 43 titik. Paling banyak di Kepulauan Meranti 27 titik. Kemudian di Pelalawan 13 titik, Bengkalis 2 titik dan Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) 1 titik," kata Otto saat hubungi Kompas.com melalui seluler, Minggu.

Baca Juga: BMKG Deteksi 43 Titik Panas di Riau, Terbanyak di Meranti

2. Petugas gabungan lakukan pendinginan di lokasi karhutla

Tim Satgas Karhutla melakukan pemadaman api yang ada di dalam gambut di Kelurahan Terkul, Kecamatan Rupat, Kabupaten Bengkalis, Riau, Rabu (27/2/2019).KOMPAS.com/IDON TANJUNG Tim Satgas Karhutla melakukan pemadaman api yang ada di dalam gambut di Kelurahan Terkul, Kecamatan Rupat, Kabupaten Bengkalis, Riau, Rabu (27/2/2019).

Kapolres Kepulauan Meranti AKBP La Ode Proyek saat dihubungi Kompas.com melalui sambungan telepon menjelaskan, saat ini petugas gabungan sedang melakukan pendinginan di lokasi karhutla.

"Ya, Alhamdulillah visibility-nya normal. Kemarin sempat terbakar, Sekarang tinggal pendinginan," ucap La Ode, Minggu.

Dia menyebutkan, upaya pemadaman dan pendinginan dilakukan oleh petugas gabungan dari kepolisian, TNI, Manggala Agni, BPBD, perusahaan dan masyarakat peduli api (MPA).

"Dari jajaran Polres Meranti kita kerahkan 6 regu. Masing-masing regu 11 orang. Jadi kondisi sekarang sedang pendinginan," tutup La Ode.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Meranti Edy Afrizal, menjelaskan, pada Minggu (3/3/2019), pendinginan api di dalam gambut dilakukan di Desa Tanjung Peranap, Kecamatan Tebing Tinggi Barat dan Desa Sokop, Kecamatan Rangsang Pesisir.

Baca Juga: Pemadaman Titik Api Karhutla di Kepulauan Meranti Riau Masih Dilakukan

3. Lokasi kebakaran di lahan gambut sedalam 3 meter lebih

Sejumlah personel pemadam kebakaran dari PT Sumatera Riang Lestari melakukan proses pemadaman kebakaran hutan yang berbatasan dengan konsesi perusahaan di Pulau Rupat Kabupaten Bengkalis, Riau, Rabu (27/2/2019). Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Pulau Rupat sudah berlangsung sebulan sejak mulai membara pada 28 Januari 2019, dan tim pemadam gabungan dari Satgas Darurat Karhutla Riau dibantu perusahaan kini mulai bisa mengendalikan kebakaran di daerah tersebut. ANTARA FOTO/FB Anggoro/ama.ANTARA FOTO/FB Anggoro Sejumlah personel pemadam kebakaran dari PT Sumatera Riang Lestari melakukan proses pemadaman kebakaran hutan yang berbatasan dengan konsesi perusahaan di Pulau Rupat Kabupaten Bengkalis, Riau, Rabu (27/2/2019). Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Pulau Rupat sudah berlangsung sebulan sejak mulai membara pada 28 Januari 2019, dan tim pemadam gabungan dari Satgas Darurat Karhutla Riau dibantu perusahaan kini mulai bisa mengendalikan kebakaran di daerah tersebut. ANTARA FOTO/FB Anggoro/ama.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Meranti Edy Afrizal, menjelaskan, lahan yang terbakar merupakan kebun sagu dan lahan kosong semak belukar milik masyarakat. 

"Lokasi kebakaran tanah gambut, kedalamannya satu hingga tiga meter. Luas lahan yang terbakar belum dihitung," kata Edy.

Upaya pemadaman dan pendinginan, kata dia, dilakukan tim gabungan dari kepolisian, TNI, BPBD, PT SRL (Sumatera Riang Lestari), Manggala Agni dan masyarakat. Jumlahnya sekitar 200 orang.

Baca Juga: Hari Kedelapan, Pendinginan Dilakukan di Lokasi Karhutla di Meranti 

4. Persediaan air menipis menjadi kendala petugas

Upaya pemadaman karhutla di Kecamatan Rupat, Kabupaten Bengkalis, Riau, Jumat (23/2/2019). KOMPAS.com/IDON TANJUNG Upaya pemadaman karhutla di Kecamatan Rupat, Kabupaten Bengkalis, Riau, Jumat (23/2/2019).

Petugas gabungan sempat kewalahan untuk memadamkan karhutla di Kabupaten Kepulauan Meranti, karena sumber air terbatas.

Untuk mendapatkan sumber air, petugas terpaksa membuat embung darurat dengan tangan kosong.

"Sumber air terbatas. Sehingga kami terpaksa membuat embung dengan menggali tanah gambut dengan cara manual," kata Edy Afrizal, saat dihubungi Kompas.com, melalui sambungan telepon, Selasa (5/3/2019).

Edy mengatakan, kebakaran lahan gambut cukup parah terjadi beberapa hari lalu, yang membakar kebun sagu warga dan semak belukar. Saat itu, pemadaman api sulit dilakukan.

"Selain sumber air terbatas, angin di lokasi juga kencang, sehingga api cepat membesar. Kemudian akses ke lokasi juga sulit," kata Edy.

Menurut Edy, masih ada titik api di dalam gambut yang mengeluarkan asap. Petugas masih terus melacak titik tersebut dan melakukan pendinginan.

"Jadi, titik asap yang masih ada, kami lakukan pendinginan. Hingga hari ini, pendinginan masih dilanjutkan," sambung dia.

Baca Juga: Sumber Air Terbatas, Petugas Buat Embung Darurat untuk Padamkan Karhutla di Meranti

5. Dilarang buang puntung rokok dan bakar sampah di lahan gambut

Dandim 0303/Bengkalis Letkol Inf Timmy Prasetya Hermianto bertemu dengan sejumlah masyarakat untuk menyampaikan sosialisasi supaya tidak terjadi lagi karhutla di Kecamatan Rupat, Kabupaten Bengkalis, Riau, Minggu (3/3/2019).KOMPAS.com/IDON TANJUNG Dandim 0303/Bengkalis Letkol Inf Timmy Prasetya Hermianto bertemu dengan sejumlah masyarakat untuk menyampaikan sosialisasi supaya tidak terjadi lagi karhutla di Kecamatan Rupat, Kabupaten Bengkalis, Riau, Minggu (3/3/2019).

Terkait bencana karhutla di sejumlah wilayah di Provinsi Riau, Komandan Kodim 0303/Bengkalis Letkol Inf Timmy Prasetya Hermianto menjelaskan pentingnya sosialiasi bahaya puntung rokok dan kebiasaan membakar sampah di lahan gambut.

"Sosialisasi kepada masyarakat, setiap kami ketemu di warung, ketemu di mana, kami selalu menyampaikan supaya apabila berkebun di dalam (kawasan tanah gambut), janganlah sambil merokok. Karena setelah merokok tanpa sadar puntungnya dibuang ke tanah gambut bisa menjadi terbakar," ungkap Timmy saat diwawancarai Kompas.com, Minggu (3/3/2019).

Timmy juga meminta masyarakat untuk tidak membakar sampah lalu ditinggal begitu saja. Hal tersebut berpotensi terjadinya karhutla. Apalagi, di Kecamatan Rupat rata-rata tanah gambut mudah terbakar.

"Kami kan enggak tahu setelah bakar sampah kemudian ditinggal, apinya bisa loncat ditiup angin, itu yang kadang-kadang menjadi sumber kebakaran," sebutnya.

Baca Juga: Cegah Karhutla, Masyarakat Diminta Tak Buang Puntung Rokok di Lahan Gambut

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ratusan Ikan di Cianjur Mati Mendadak Diduga Akibat Aeromonas

Ratusan Ikan di Cianjur Mati Mendadak Diduga Akibat Aeromonas

Regional
Gubernur Edy: Januari 2020 Lelang Dibuka, Tender yang Benar, Jangan Ada Istilah Aneh-aneh

Gubernur Edy: Januari 2020 Lelang Dibuka, Tender yang Benar, Jangan Ada Istilah Aneh-aneh

Regional
Detik-detik Aula SMKN 1 Miri Sragen Roboh Timbun 22 Siswa

Detik-detik Aula SMKN 1 Miri Sragen Roboh Timbun 22 Siswa

Regional
Pakai Knalpot Racing, Pengendara Motor di Cianjur Ditilang

Pakai Knalpot Racing, Pengendara Motor di Cianjur Ditilang

Regional
Subuh-subuh, Seorang Pria di Bandung Pamer Kemaluan di Depan Wanita

Subuh-subuh, Seorang Pria di Bandung Pamer Kemaluan di Depan Wanita

Regional
Seorang Ibu di Ciamis Jual Ganja 1 Kilogram Per Bulan

Seorang Ibu di Ciamis Jual Ganja 1 Kilogram Per Bulan

Regional
Awal 2020, Proyek Jalan Metropolitan Medan-Karo Segera Dimulai

Awal 2020, Proyek Jalan Metropolitan Medan-Karo Segera Dimulai

Regional
Hujan Lebat di Pangkal Pinang, Lalu Lintas Tersendat karena Jalan Banjir

Hujan Lebat di Pangkal Pinang, Lalu Lintas Tersendat karena Jalan Banjir

Regional
Mari Bantu Siswa SD Filial yang Berseragam Lusuh dan Gedung Sekolah Rusak

Mari Bantu Siswa SD Filial yang Berseragam Lusuh dan Gedung Sekolah Rusak

Regional
Penjelasan Pemda soal Orangtua dari Bayi yang Jenazahnya Dibawa Paksa Ojol Tak Miliki JKN

Penjelasan Pemda soal Orangtua dari Bayi yang Jenazahnya Dibawa Paksa Ojol Tak Miliki JKN

Regional
Inovasi Sulsel Buka Direct Call Export Sukses Tingkatkan Nilai Ekspor

Inovasi Sulsel Buka Direct Call Export Sukses Tingkatkan Nilai Ekspor

Regional
Kajari Parepare: di Atas Lubang Pemusnahan Detonator Kerap Ditempati untuk Pembakaran Sampah

Kajari Parepare: di Atas Lubang Pemusnahan Detonator Kerap Ditempati untuk Pembakaran Sampah

Regional
Ini Alasan Pria Bunuh Kekasih yang Jenazahnya Terbungkus Seprai

Ini Alasan Pria Bunuh Kekasih yang Jenazahnya Terbungkus Seprai

Regional
Aula SMKN 1 Miri Sragen Roboh Timbun 22 Siswa, Sebagian Patah Tulang

Aula SMKN 1 Miri Sragen Roboh Timbun 22 Siswa, Sebagian Patah Tulang

Regional
Benci Mantan Suami, Ibu Siksa Anak Balitanya hingga Patah Kaki

Benci Mantan Suami, Ibu Siksa Anak Balitanya hingga Patah Kaki

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X