Kisah Kristoforus, dari Gagal Panen Padi Beralih Panen Naga Ratusan Jutaan Rupiah Per Tahun

Kompas.com - 03/03/2019, 11:22 WIB
Kristoforus Jawa (50), seorang petani yang membudidayakan buah Naga di lahan sawahnya yang pernah gagal panen padi, Senin (25/2/2019). Bersama istrinya menunjukkan buah Naga yang siap panen dan dipasarkan di seluruh Pulau Flores, NTT. (KOMPAS.com/Markus Makur)KOMPAS.com/MARKUS MAKUR Kristoforus Jawa (50), seorang petani yang membudidayakan buah Naga di lahan sawahnya yang pernah gagal panen padi, Senin (25/2/2019). Bersama istrinya menunjukkan buah Naga yang siap panen dan dipasarkan di seluruh Pulau Flores, NTT. (KOMPAS.com/Markus Makur)


MAUPONGGO, KOMPAS.com - Peristiwa gagal panen pagi pada 2012-2013 membuat Kristoforus Jawa (50) dan istrinya gelisah.

Peristiwa gagal panen itu terjadi di sawah Kristoforus yang berada di Kampung Kibaru, Desa Maukeli, Kecamatan Mauponggo, Kabupaten Nagekeo, Flores, Nusa Tenggara Timur.

Padahal, Kristoforus saat itu harus memikirkan biaya kuliah anaknya yang mengambil jurusan keperawatan di Sekolah Perawat Saint Carolus, Jakarta, dengan biaya per tahun sekitar Rp 30 juta.

Sandaran utama untuk membiayai pendidikan anaknya itu memang bersumber dari padi hasil olahan yang dijualnya. 

Lalu, pada 2014, saudara Kristoforus, Girinus Sanda, seorang bruder di Ende, menyarankan agar dia membudidayakan buah naga di area persawahannya.

“Saya bingung dengan tawaran itu karena petani di Nusa Tenggara Timur, apalagi di Kabupaten Nagekeo, belum pernah mengetahui budidaya buah naga, sementara saya memikirkan untuk membiayai pendidikan anak di Jakarta. Motivasi demi motivasi disampaikan oleh saudara saya itu, akhirnya saya memutuskan untuk mencoba membudidaya buah naga di areal persawahannya itu,” kata Kristoforus, kepada Kompas.com, di NTT, beberapa waktu lalu.

Baca juga: Cerita Pini Sri Olah Buah Naga Jadi Mi, Kini Raup Belasan Juta Rupiah Per Bulan

Kristoforus mengungkapkan, selain motivasi, saudaranya juga memberikan bibit buah naga sebanyak 4 setek untuk memulai pembudidayaan di lahan persawahannya.

Bibit pertama buah naga yang dibawa saudaranya berasal dari Biara Bruder Konradus Ende.

“Awalnya saya berat karena belum terbiasa membudidayakan buah naga, sementara keseharian saya mengolah lahan pertanian, khusus olah persawahan dengan menanam padi. Didorong untuk membiayai pendidikan anak itu, saya mulai membudidayakan 4 setek bibit naga itu dengan membuah 4 tonggak di lahan persawahan tersebut. Saya ambil terobosan dan memulai menanam di lahan persawahan tersebut,” ujar dia.

Kristoforus mengatakan, pertumbuhan dan perkembangan bibit naga yang ia tanam itu menghasilkan buah yang bagus. Perlahan area sawahnya kemudian penuh dengan pohon buah naga.

Panen perdana 2014 itu menghasilkan 1,5 ton dan menjualnya ke pasar tradisional dengan harga Rp 50.000 per kilogram. Hasil jualan buah naga itu bisa mengirimkan uang sekolah anaknya di Jakarta. Pemasukan dari panen perdana itu sangat bagus, akhirnya saya terus menekuni dan fokus untuk mengembangkan hingga penuh satu lahan persawahan seluas 1,5 hektare,” ucap dia.

“Saya memutuskan mengubah lahan persawahan itu dengan menanam buah naga karena hasilnya menjanjikan bagi pemenuhan hidup keluarga serta membiayai pendidikan anak di Jakarta," tambah dia.

Tahun kedua, ia menghasilkan 3 ton buah naga dan dijual dengan harga Rp 35.000 per kilogram. Pendapatannya mencapai Rp 105 juta.

Page:


Terkini Lainnya

[POPULER MEGAPOLITAN] Sandiaga Tak Hadiri Syukuran di TMII | Anies Revisi Kebijakan Penggratisan PBB

[POPULER MEGAPOLITAN] Sandiaga Tak Hadiri Syukuran di TMII | Anies Revisi Kebijakan Penggratisan PBB

Megapolitan
Tak Ada Lagi Teriakan Anak-anak, Jalanan di Sri Lanka Kini Hening

Tak Ada Lagi Teriakan Anak-anak, Jalanan di Sri Lanka Kini Hening

Internasional
Situng KPU Data 32,15 Persen: Jokowi-Ma'ruf 55,80 Persen, Prabowo-Sandiaga 44,20 Persen

Situng KPU Data 32,15 Persen: Jokowi-Ma'ruf 55,80 Persen, Prabowo-Sandiaga 44,20 Persen

Nasional
Kontainer Berisi 5 Karung Sabu Diamankan, Kakak Beradik Ditangkap

Kontainer Berisi 5 Karung Sabu Diamankan, Kakak Beradik Ditangkap

Megapolitan
'Kalau 'Nyebut' Curang, Manipulasi, Beban Pembuktian kepada yang Ngomong'

"Kalau 'Nyebut' Curang, Manipulasi, Beban Pembuktian kepada yang Ngomong"

Nasional
Ini Sejumlah Wilayah di Jabodetabek yang Diprediksi Hujan Nanti Siang hingga Malam

Ini Sejumlah Wilayah di Jabodetabek yang Diprediksi Hujan Nanti Siang hingga Malam

Megapolitan
Terkait Teror, Parlemen Sri Lanka: Ada Kesengajaan Sembunyikan Laporan Intelijen

Terkait Teror, Parlemen Sri Lanka: Ada Kesengajaan Sembunyikan Laporan Intelijen

Internasional
Kesaksian Polisi Tangkap Pembunuh Satu Keluarga di Bekasi hingga ke Kaki Gunung Guntur

Kesaksian Polisi Tangkap Pembunuh Satu Keluarga di Bekasi hingga ke Kaki Gunung Guntur

Megapolitan
KPU: Mikir kalau Mau Bilang Curang

KPU: Mikir kalau Mau Bilang Curang

Nasional
4 Pelaku Pembacokan Anggota FBR Ditangkap, Satu Ditembak

4 Pelaku Pembacokan Anggota FBR Ditangkap, Satu Ditembak

Megapolitan
[BERITA POPULER] TKN Jokowi-Ma'ruf Akan Buktikan Kecurangan Kubu 02 | Sandiaga Tak Hadiri Syukuran Prabowo-Sandi

[BERITA POPULER] TKN Jokowi-Ma'ruf Akan Buktikan Kecurangan Kubu 02 | Sandiaga Tak Hadiri Syukuran Prabowo-Sandi

Nasional
[POPULER INTERNASIONAL] Kanada Bikin Geram Duterte| India Peringatkan Sri Lanka

[POPULER INTERNASIONAL] Kanada Bikin Geram Duterte| India Peringatkan Sri Lanka

Internasional
Mengintip 'War Room' TKN Jokowi-Ma'ruf, 250 Personel Bekerja 24 Jam

Mengintip "War Room" TKN Jokowi-Ma'ruf, 250 Personel Bekerja 24 Jam

Nasional
Komisioner: Dalam Sehari Situs KPU Bisa Diserang Ratusan Peretas

Komisioner: Dalam Sehari Situs KPU Bisa Diserang Ratusan Peretas

Nasional
Siswa SD Tendang Gurunya hingga Tangan Korban Patah, Pemkot Surabaya Turun Tangan

Siswa SD Tendang Gurunya hingga Tangan Korban Patah, Pemkot Surabaya Turun Tangan

Regional

Close Ads X