Anna Wardiyati, Pejuang Emansipasi dari Lereng Dieng

Kompas.com - 15/02/2019, 13:15 WIB
Anna Wardiyati (34), Ketua PKBM Cemerlang, Wonosobo, saat menerima kunjungan dari PKBM Mukti Utama, Desa Karangsari, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Demak, Jateng, Sabtu (9/2/2019) KOMPAS.com (ARI WIDODO)Anna Wardiyati (34), Ketua PKBM Cemerlang, Wonosobo, saat menerima kunjungan dari PKBM Mukti Utama, Desa Karangsari, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Demak, Jateng, Sabtu (9/2/2019)

WONOSOBO, KOMPAS.com - "Titik balik saya berawal saat melihat jasad ibu dimasukkan ke liang lahat. Saya terhenyak, ternyata harta yang kita miliki di dunia tak akan dibawa serta saat dipanggil Sang Pencipta," kata Anna Wardiyati (34).

Mata perempuan ayu itu berkaca, suaranya tersendat mengenang masa lalu. Penampilannya bersahaja, tutur katanya lembut tak dibuat-buat. Demikianlah sosok Anna.

Dia merupakan Ketua Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Cemerlang, Wonosobo, yang lahir dan dibesarkan di Wonosobo, sebuah kota berhawa dingin di wilayah selatan Jawa Tengah.

PKBM adalah lembaga di bawah pengawasan dan bimbingan Dinas Pendidikan, yang dibentuk oleh masyarakat untuk masyarakat, yang bergerak dalam bidang pendidikan.

Baca juga: Ketika Serena William Berbagi Inspirasi untuk Kaum Perempuan...

Sebelumnya, bertahun-tahun ia bekerja di sebuah perusahaan swasta yang cukup bonafide, dengan penghasilan yang tinggi.

Bersama sang suami yang seorang anggota polisi, ia terus mengumpulkan pundi-pundi untuk kehidupan pribadi.

Kematian ibu terkasihlah yang menyadarkannya bahwa ternyata bekal ke alam baka bukan harta, tetapi amal ibadah semasa hidup manusia.

"Pada akhirnya, saya keluar dari pekerjaan dan segera mendapat ilham untuk berjuang di jalur non-profit, untuk saudara-saudara yang kurang beruntung dalam hidupnya," kata Anna, saat ditemui Kompas.com, seusai menerima rombongan study banding dari PKBM Mukti Utama, Desa Karangsari, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Demak Jateng, belum lama ini.

Perjuangannya dimulai dari rasa prihatin terhadap nasib sesama perempuan di Lereng Dieng yang kurang beruntung.

"Saya amati, di wilayah Kecamatan Mojotengah Wonosobo, sebelum tahun 2010 banyak kasus pernikahan dini dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), tentunya para perempuan rawan menjadi korban," ungkap perempuan tiga anak, yang mengaku tak punya dasar pendidikan sarjana.

Usut punya usut, masalah sosial yang terjadi di Lereng Dieng tersebut bukan karena kenakalan remaja atau pun moralitas masyarakat yang minus.

Dia menilai, adanya pernikahan dini dan kurangnya pendidikan kesetaraan gender disebabkan karena belum ada dukungan pemerhati masyarakat yang betul-betul konsen di bidang pendidikan masyarakat. 

"Di sini, masyarakatnya religius, jadi ketika anak sudah beranjak remaja langsung dinikahkan oleh orangtuanya tanpa menunggu kesiapan mental dari mempelai, alhasil banyak masalah yang terjadi dalam rumah tangga pasangan pernikahan dini tersebut," tutur dia.

Halaman:


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ibu Rumah Tangga Histeris Minta Tolong Saat Diterkam dan Diseret Buaya

Ibu Rumah Tangga Histeris Minta Tolong Saat Diterkam dan Diseret Buaya

Regional
Tak Cuma Online, Pelajar SD dan SMP di Surabaya Bisa Belajar lewat Televisi

Tak Cuma Online, Pelajar SD dan SMP di Surabaya Bisa Belajar lewat Televisi

Regional
Bayi Usia 8 Hari di Kudus Meninggal, Terkonfirmasi Positif Covid-19

Bayi Usia 8 Hari di Kudus Meninggal, Terkonfirmasi Positif Covid-19

Regional
4 Orang Tertimbun Longsor di Sibolga, 2 Tewas

4 Orang Tertimbun Longsor di Sibolga, 2 Tewas

Regional
Rekor Baru Penambahan Kasus Covid-19 di Riau

Rekor Baru Penambahan Kasus Covid-19 di Riau

Regional
Kapolda Maluku Menyuapi Sejumlah Taruna Akpol, Ingatkan Jangan Serakah

Kapolda Maluku Menyuapi Sejumlah Taruna Akpol, Ingatkan Jangan Serakah

Regional
Pengunjung Pulau Komodo Dibatasi Maksimal 50.000 Orang Setahun

Pengunjung Pulau Komodo Dibatasi Maksimal 50.000 Orang Setahun

Regional
Satu Penumpang Positif Corona, Lion Air: Bukan Kesalahan dan Kesengajaan Maskapai

Satu Penumpang Positif Corona, Lion Air: Bukan Kesalahan dan Kesengajaan Maskapai

Regional
Erick Thohir: Bio Farma Siap Produksi 250 Juta Dosis Vaksin Covid-19, Tersedia Mulai Desember 2020

Erick Thohir: Bio Farma Siap Produksi 250 Juta Dosis Vaksin Covid-19, Tersedia Mulai Desember 2020

Regional
Masuk Zona Hijau Covid-19, Pemkot Kupang Pertimbangkan Buka Sekolah

Masuk Zona Hijau Covid-19, Pemkot Kupang Pertimbangkan Buka Sekolah

Regional
Kronologi Lengkap Temuan Kerangka Wanita Berjaket Merah Wonogiri, Hilang Jejak Usai Jual Motor

Kronologi Lengkap Temuan Kerangka Wanita Berjaket Merah Wonogiri, Hilang Jejak Usai Jual Motor

Regional
Soal Klaim Risma Surabaya Jadi Hijau, Kadis: Yang Berubah Bukan Zona, tapi Reproduksi Efektif

Soal Klaim Risma Surabaya Jadi Hijau, Kadis: Yang Berubah Bukan Zona, tapi Reproduksi Efektif

Regional
Anggota DPRD Maluku Positif Covid-19: Sebelum Swab, Saya Ikut Rapat di Kantor

Anggota DPRD Maluku Positif Covid-19: Sebelum Swab, Saya Ikut Rapat di Kantor

Regional
Mahasiswa Unnes Adukan Mendikbud Nadiem Makarim ke Komnas HAM

Mahasiswa Unnes Adukan Mendikbud Nadiem Makarim ke Komnas HAM

Regional
Pegunungan Menoreh Akan Dilengkapi Kereta Gantung

Pegunungan Menoreh Akan Dilengkapi Kereta Gantung

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X