Tingginya Kasus HIV/AIDS di Sumedang, Jatinangor Paling Rawan

Kompas.com - 12/02/2019, 17:55 WIB
Ketua KPA Sumedang Herman Suryatman membuka Rapat Kerja dan Evaluasi Akhir Tahun 2018 KPA Sumedang di Gedung Negara, Sumedang, Jawa Barat, Senin (12/2/2019). AAM AMINULLAH/KOMPAS.comKOMPAS.com/AAM AMINULLAH Ketua KPA Sumedang Herman Suryatman membuka Rapat Kerja dan Evaluasi Akhir Tahun 2018 KPA Sumedang di Gedung Negara, Sumedang, Jawa Barat, Senin (12/2/2019). AAM AMINULLAH/KOMPAS.com

SUMEDANG, KOMPAS.com - Jumlah penderita HIV/AIDS di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, disebut terus bertambah setiap tahun.

Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Sumedang menyebutkan, penderita yang terinfeksi pada tahun 2016 berjumlah 67 orang, tahun 2017 sebanyak 132 orang, dan di tahun 2018 sebanyak 55 orang.

Sekretaris KPA Sumedang Retno Ernawati mengatakan, secara kumulatif, untuk warga Sumedang yang terinfeksi HIV/AIDS hingga akhir tahun 2018 sebanyak 543 orang.

Faktor penyebabnya, banyak warga di Sumedang yang menjadi pekerja seks komersial (PSK) di kota-kota besar di Indonesia.

Namun, setelah dinyatakan positif HIV/AIDS di tempat mereka mencari nafkah dengan cara yang salah itu, mereka kembali lagi ke kampung halamannya.

"Tingginya angka penderita HIV/AIDS di wilayah ini karena faktor pekerjaan. Banyak yang jadi wanita pekerja seks di kota-kota besar. Kemudian setelah mereka terinfeksi, mereka kembali ke wilayah desanya dan kembali menetap di sana," tuturnya seusai Rapat Kerja dan Evaluasi Akhir Tahun 2018 KPA Sumedang di Gedung Negara, Sumedang, Jawa Barat, Selasa (12/2/2019).

Ironisnya, lanjut Retno, para penderita HIV/AIDS yang merupakan mantan pekerja seks di luar kota ini menularkan virus HIV/AIDS-nya ini kepada anak-anaknya.

"Maka dari itu sejak tahun lalu kami mewajibkan ibu hamil di Sumedang untuk melakukan tes HIV/AIDS sebelum melahirkan. Ini sebagai upaya untuk mencegah agar jika Ibu hamil terinveksi virus HIV/AIDS, nanti tidak menularkannya kepada anaknya," ungkap Retno.

Jatinangor paling rawan

Retno menyebutkan, penyebaran virus HIV/AIDS saat ini juga didominasi melalui homoseksual. KPA Sumedang mencatat, akhir tahun 2018 ini ada 2.500 lelaki suka lelaki (LSL).

"Wilayah lain yang paling rawan penyebaran HIV/AIDS di Sumedang ada di Jatinangor. Di wilayah ini, selain masih banyak pengguna narkoba suntik, juga kawasan kampus dan merupakan wilayah yang penduduknya terpadat di Sumedang," ucapnya.

Di tempat yang sama, Sekretaris KPA Provinsi Jawa Barat Imam Teja Kusuma menyatakan, Sumedang berada di urutan ke-8 antara kabupaten dengan kasus HIV/AIDS tertinggi di Jawa Barat.

"Di Sumedang ini juga tercatat paling banyak LSL-nya. Data tahun 2018 ada 2.500 LSL. Jadi dalam hal ini peranan keluarga sangat penting. Di mana, tidak hanya anak perempuan saja yang harus dicemaskan oleh orangtuanya, tapi juga orangtua yang punya anak lelaki harus bisa lebih dijaga dan diperhatikan," ucapnya.

Sementara itu, Sekda Sumedang Herman Suryatman mengatakan, tingginya kasus HIV/AIDS di Kabupaten Sumedang harus menjadi perhatian bersama. Tidak hanya pemerintah, tapi dibutuhkan peran serta semua pihak.

"Peran keluarga harus diperkuat lagi. Sebab, di era industri 4.0 saat ini, yang dekat terasa jauh, yang jauh terasa dekat karena teknologi. Dan penanggulangan masalah HIV/Aids ini adalah ketahanan keluarga," kata Ketua KPA Sumedang ini. 

 

Catatan penting:

Kompas.com telah meralat sebagian isi berita ini setelah KPA Sumedang mengakui membagikan informasi yang salah sebelumnya. Data yang seharusnya untuk Kabupaten Sumedang secara keseluruhan, disebutkan sebagai data untuk Desa Cimanintin di Kecamatan Jatinunggal.

KPA Sumedang meminta maaf atas kekeliruan data yang telah disampaikan.

"Kami menyampaikan permohonan maaf karena dirilis itu keliru. Seharusnya data tiap tahun itu adalah data kumulatif yang terjadi se-Kabupaten Sumedang," ujar Retno.


Terkini Lainnya


Close Ads X