"Curhat" Petani ke Sandiaga: Kami Menanam Bawang, Hasilnya Utang...

Kompas.com - 11/02/2019, 16:36 WIB
Salah seorang petani memeluk Calon Wakil Presiden nomor urut 02 Sandiaga uno di Desa Krasak, Brebes, Jawa Tengah, Senin (11/2/2019). Tim media BPN Prabowo- Sandi Salah seorang petani memeluk Calon Wakil Presiden nomor urut 02 Sandiaga uno di Desa Krasak, Brebes, Jawa Tengah, Senin (11/2/2019).

BREBES, KOMPAS.com - Calon Wakil Presiden nomor urut 02 Sandiaga Uno bertemu ratusan petani di Desa Krasak, Brebes, Jawa Tengah, Senin (11/2/2018). Dalam kesempatan ini Sandiaga Uno atau akrab disapa Sandi mendengarkan aspirasi dari para petani.

Sandi membuka dialog dengan para petani bawang Brebes dari perwakilan berbagai desa yang mengeluhkan harga bawang yang turun dan tidak lagi bisa menghidupi petaninya.

Kagin, salah satu petani bawang dari desa lembahrawa bahkan menyatakan para petani sekarang dalam kondisi nandur bawang, thukule utang (menanam bawang hasilnya utang).

"Sudah sejak empat tahun lalu para petani bawang sengsara pak. Ya itu nandur bawang thukule utang," Kata Kagin, Senin. 

Baca juga: Ganjar: Harga Bawang Merah yang Anjlok Saat Panen Raya Perlu Diakali

Hal yang sama juga dikatakan Cakrim, petani bawang lainnya. Ia meminta Sandi agar harga bawang tetap stabil dan membuat petani bawang di Brebes sejahtera.

"Harga bawang harus stabil pak. Jadi jangan sampai terjadi lagi menanam bawang, jangan sampai hasilnya utang, tapi untung," ucap Cakrim.

Sandi berjanji akan menampung semua keluhan yang disampaikan para petani. Termasuk curhat petani bawang bernama Ratna yang meminta jangan menanam bawang di luar Jawa.

Menurut Ratna, produksi bawang di Brebes dan daerah Jawa lainnya sudah berlebih. Penanaman di luar Jawa makin membuat harga bawang jatuh.

Baca juga: Datang ke Madiun, Grace Natalie Buktikan Rp 100.000 Tak Hanya Dapat Cabai dan Bawang

Menurut Sandi, dirinya punya pengalaman terkait harga bawang saat menjabat sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta. Dia membeli langsung dari petani bawang Brebes melalui PT Food Station Tjipinang Jaya untuk menjaga pasokan bawang yang saat itu langka dan harganya meroket.

"Waktu itu di DKI, bawang merah harganya naik dan langka. Kami mengambil inisiatif dengan PT Food Station Tjipinang Jaya, menjalin kerja sama dengan petani bawang Brebes," katanya. 

"Alhamdulillah kami patahkan mitos harga tinggi di hari Lebaran, karena pasokan terjaga. Petani bawang Brebes sejahtera, pedagang bahagia, pembeli tersenyum."

"Kalau Allah mengizinkan kami akan melakukan hal yang sama, namun untuk Indonesia dengan Bulog atau pemangku kepentingan lainnya juga dengan pihak ketiga melalui public private partnership." 

Baca juga: Kisah Petani Bawang Merah di Magetan yang Merugi Saat Harga Tinggi...

Menurut Sandi, dengan menggunakan teknologi Control Atmosphere Storage (CAS), produk pertanian seperti bawang bisa disimpan selama enam sampai sembilan bulan.

"Jadi nanti jika mendapatkan amanat, kami akan membeli langsung produksi petani bawang Brebes. Dengan harga bawah dan harga atas, sehingga petani tidak akan lagi nandur bawang thukule utang," tutup Sandi.



Close Ads X