Hadapi Siswa seperti AA, Para Guru Akui dalam Posisi Dilematis

Kompas.com - 11/02/2019, 14:35 WIB
Nur Khalim (kiri) dan AA, siswa yang merokok di dalam kelas dan menantangnya hingga videonya viral di media sosial sepakat berdamai dalam mediasi di kantor Polsek Wringinanom, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, Minggu (10/2/2019). KOMPAS.com/HAMZAH ARFAH Nur Khalim (kiri) dan AA, siswa yang merokok di dalam kelas dan menantangnya hingga videonya viral di media sosial sepakat berdamai dalam mediasi di kantor Polsek Wringinanom, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, Minggu (10/2/2019).

GRESIK, KOMPAS.com — Kejadian yang dialami Nur Khalim yang ditantang oleh salah seorang siswanya AA di SMP PGRI Wringinanom, yang kemudian viral di berbagai media sosial (medsos), turut memacu keprihatinan bagi kalangan staf pendidik di sekolah yang ada di Gresik.

Meski kompak mengecam perilaku yang dilakukan oleh AA, dan sudah sepantasnya AA mendapatkan sebuah shock therapy, para guru juga mengakui kondisi mereka sebenarnya cukup dilematis apabila menghadapi siswa dengan perangai kasar.

"Bagi kami yang berprofesi sebagai guru, memang miris juga melihat video kejadian itu. Sebab, bagi kami, apa yang dilakukan oleh anak didik seperti itu sudah pasti mencoreng institusi pendidikan, apalagi itu terjadi di wilayah Gresik," ujar guru SMA NU 1 Gresik, Kris Aji, Senin (11/2/2019).


Baca juga: Inspirasi dari Nur Khalim, Guru Bergaji Rp 450.000 yang Diejek dan Ditantang oleh Siswanya di Kelas

Tindakan yang dilakukan Nur Khalim terhadap AA dianggap Kris sudah tepat. Ia juga angkat topi dan memuji tingkat kesabaran yang dimiliki Nur Khalim dalam menghadapi siswa bandel seperti AA meski status Nur Khalim masih tenaga honorer di SMP PGRI Wringinanom.

"Saya sendiri salut dengan apa yang dilakukan Nur Khalim, kesabarannya. Apalagi, memang sudah banyak contoh yang terjadi, guru yang bermaksud ingin memberikan shock therapy bagi siswa yang bandel, kadang malah harus berurusan dengan hukum akibat melanggar HAM (hak asasi manusia)," ujarnya.

Menurut Kris, yang juga seorang budayawan, peran orangtua dalam mendidik anaknya juga diperlukan.

Tidak sekedar mereka yang sudah bersekolah, maka kemudian semua tanggung jawab itu menjadi kewajiban mendidik anak mutlak berada di pundak para guru.

"Jangan sampai orangtua lepas tanggung jawab, dengan sekolah dianggap sebagai penitipan. Mereka juga harus peka dengan mengontrol sehari-hari anaknya masing-masing, termasuk pergaulan anaknya, dengan siapa dia sehari-hari berteman. Karena bisa jadi, perilaku kurang baik itu juga disebabkan lingkungan dan pergaulan si anak sehari-harinya," tutur Kris.

Selain itu, Kris juga berharap, adanya kesepakatan ataupun peraturan yang juga melindungi profesi tenaga pendidik di sekolah, dari model persekusi seperti yang sudah sempat dialami oleh Nur Khalim dari salah seorang anak didiknya.

"Ke depan saya pribadi berharap, ada peraturan yang juga melindungi para guru seperti kami, dalam menghadapi hal-hal semacam itu. Karena biar fair, masak hanya kami yang berpotensi berhadapan dengan hukum, sementara bila ada kasus seperti ini siswa terkesan bisa seenaknya minta maaf tanpa diberi sanksi supaya dia jera dan menjadi contoh bagi yang lain," kata dia.

Hal senada diakui guru SMA NU yang lain, Ahmad Muzakki.

Ia sependapat dengan Kris Aji bila staf pengajar seperti dirinya juga memerlukan perlindungan dalam sebuah peraturan bila menghadapi kasus seperti yang dialami oleh Nur Khalim.

"Saya juga sepakat, para orang tua lebih aktif dalam mengawasi pergaulan anak-anaknya sehari-hari, dan lebih memberikan perhatian selama anaknya selesai sekolah," kata Zakki, sapaan akrab Ahmad Muzakki.



Terkini Lainnya


Close Ads X