Kemendikbud Tarik Buku yang Kelompokan NU sebagai Organisasi Radikal

Kompas.com - 07/02/2019, 15:53 WIB
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy saat menghadiri Sarasehan Kebangsaan Pra Tanwir Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Kamis (7/2/2019). KOMPAS.com/ANDI HARTIKMenteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy saat menghadiri Sarasehan Kebangsaan Pra Tanwir Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Kamis (7/2/2019).


MALANG, KOMPAS.com - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ( Kemendikbud) RI menarik buku pegangan siswa kelas V sekolah dasar (SD) yang mengelompokkan organisasi Nahdlatul Ulama ( NU) sebagai bagian dari organisasi radikal.

Kalimat yang tertera di dalam buku tematik terpadu kurikulum 2013 dengan judul 'Peristiwa Dalam Kehidupan' itu dianggap rawan menyudutkan organisasi tertentu.

"Tarik dan nanti guru-guru bisa mengambil bagian itu dari website Kemendikbud. Yang penting harus segera ditarik," kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy, saat menghadiri Sarasehan Kebangsaan Pra Tanwir Muhammadiyah, di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis (7/2/2019).

Baca juga: Kelompokkan NU Sebagai Organisasi Radikal, Buku Ajar SD Diprotes

Muhadjir mengatakan, buku itu dicetak pada masa menteri sebelumnya. Sebab, selama dirinya menjabat sebagai Mendikbud, tidak pernah melakukan revisi buku.

"Selama saya menjadi menteri belum pernah merevisi buku kecuali menambah dengan Peraturan Menteri Nomor 24 Tahun 2018, Desember kemarin itu adalah untuk menambah mata pelajaran informatika. Itu saja, jadi saya belum pernah melakukan revisi. Artinya, buku itu sebelum saya sudah ada," kata dia.

Menurut dia, kalimat dalam buku itu ingin menjelaskan masa perjuangan melawan penjajah di mana ada sejumlah organisasi yang tidak mau kompromi dengan penjajah Belanda.

Organisasi itu lantas dikelompokan dan disebut bersifat radikal.

Kata radikal ini yang memunculkan polemik karena akhir-akhir ini kata radikal cenderung dikonotasikan negatif.

Kara radikal ini pula yang dikhawatirkan akan membuat nilai sejarah perjuangan oleh NU keluar dari konteks yang sebenarnya.

"Konteksnya kata-kata radikal itu sebetulnya adalah di dalam buku itu sejarah tentang perjuangan kemerdekaan nasional tahun 1920-an, berdiri organisasi-organisasi. Kemudian oleh tim penulis itu dicirikan dengan memiliki watak yaitu non-kooperatif, tidak mau berkompromi sama pemerintah kolonial," ujar dia.

"Nanti itu lah yang kemudian dikategorikan sebagai organisasi radikal. Jadi, sebetulnya kata radikal itu dalam konteks melawan penjajah kolonial," tambah dia.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

MLTR Mendapat Sambutan Hangat Saat Konser di Semarang

MLTR Mendapat Sambutan Hangat Saat Konser di Semarang

Regional
Fakta Lengkap Banjir dan Longsor di Agam, Diduga karena Pembalakan Liar hingga Tetapkan Status Tanggap Darurat

Fakta Lengkap Banjir dan Longsor di Agam, Diduga karena Pembalakan Liar hingga Tetapkan Status Tanggap Darurat

Regional
[POPULER NUSANTARA] Respon Wishnutama soal Bali Tak Layak Dikunjungi | Driver Ojek Online Minta Maaf

[POPULER NUSANTARA] Respon Wishnutama soal Bali Tak Layak Dikunjungi | Driver Ojek Online Minta Maaf

Regional
Fakta Bali Disarankan Tak Dikunjungi Pada 2020, Tanggapan Pemerintah hingga Akan Kumpulkan Pelaku Pariwisata

Fakta Bali Disarankan Tak Dikunjungi Pada 2020, Tanggapan Pemerintah hingga Akan Kumpulkan Pelaku Pariwisata

Regional
Angin Puting Beliung di Enrekang, 6 Rumah Rusak, 1 Nyaris Roboh

Angin Puting Beliung di Enrekang, 6 Rumah Rusak, 1 Nyaris Roboh

Regional
Warga Surabaya Ingin Risma Buat Taman Berisi Pohon Tabebuya

Warga Surabaya Ingin Risma Buat Taman Berisi Pohon Tabebuya

Regional
Lima Gempa Bumi Guncang Sumbar dalam Kurun Seminggu

Lima Gempa Bumi Guncang Sumbar dalam Kurun Seminggu

Regional
Kulon Progo Bakal Terapkan Denda hingga Penjara bagi Perokok di Kawasan Tanpa Rokok

Kulon Progo Bakal Terapkan Denda hingga Penjara bagi Perokok di Kawasan Tanpa Rokok

Regional
Turis Belanda Tewas Bunuh Diri, Tinggalkan Surat Wasiat Minta Maaf

Turis Belanda Tewas Bunuh Diri, Tinggalkan Surat Wasiat Minta Maaf

Regional
Izin Operasional Bandara Notohadinegoro Jember Mati Sejak Maret 2018

Izin Operasional Bandara Notohadinegoro Jember Mati Sejak Maret 2018

Regional
Kronologi Bentrok Antar Mahasiswa Universitas HKBP Nommensen

Kronologi Bentrok Antar Mahasiswa Universitas HKBP Nommensen

Regional
Setelah 48 Jam, Akses Jalan yang Tertutup Longsor di Agam Bisa Terbuka

Setelah 48 Jam, Akses Jalan yang Tertutup Longsor di Agam Bisa Terbuka

Regional
Nenek Hilang 7 Hari di Hutan, Tim SAR Gabungan Hentikan Pencarian

Nenek Hilang 7 Hari di Hutan, Tim SAR Gabungan Hentikan Pencarian

Regional
Investor Serbu Jateng, Nilai Investasi Masuk Capai Rp 211,19 Triliun

Investor Serbu Jateng, Nilai Investasi Masuk Capai Rp 211,19 Triliun

Regional
Gubernur Olly Lobi Pemerintah Pusat agar KTT G20 Tahun 2023 Digelar di Sulawesi Utara

Gubernur Olly Lobi Pemerintah Pusat agar KTT G20 Tahun 2023 Digelar di Sulawesi Utara

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X