Korban Skimming Nasabah BNI Cabang Bima Bertambah, 2.800 Rekening Diblokir

Kompas.com - 31/01/2019, 19:54 WIB
Pimpinan BNI kantor Cabang Bima, H Muhamad AmirKOMPAS.com/SYARIFUDIN Pimpinan BNI kantor Cabang Bima, H Muhamad Amir

BIMA, KOMPAS.com- Nasabah BNI cabang Bima yang menjadi korban kejahatan skimming dilaporkan makin bertambah.

Untuk mencegah bertambahnya korban, pihak bank telah memblokir sebanyak 2.800 rekening nasabah.

Pimpinan BNI kantor cabang Bima Muhamad Amir mengatakan, hingga Kamis (1/2/2019), total nasabah yang mengalami kerugian akibat kejahatan perbankan dengan metode skimming bertambah menjadi 101 nasabah dengan potensi kerugian hingga ratusan juta rupiah.

Sebelumnya, korban kejahatan skimming atau duplikasi data BNI setempat hanya berjumlah 23 nasabah dengan total kerugian Rp 200 juta.

"Totalnya ada 101 nasabah dengan kerugian yang diperkirakan berkisar Rp 200-300 juta. Dari jumlah nasabah ini adalah nasabah yang melakukan transksi melalui mesin ATM yang terkena skimming," kata Amir di kantor BNI setempat.

Baca juga: Puluhan Nasabah BNI Cabang Bima Jadi Korban Skimming, Ratusan Juta Raib

Amir menyebutkan, ada tiga mesin ATM milik BNI yang terkena skimming.

Ketiga ATM yang menjadi sasaran pelaku kejahatan perbankan tersebut terletak di 3 titik di luar kantor BNI. Dua unit diantaranya terletak di SPBU Penatoi dan Arta Bima Mall.

Dari hasil pengecekan, pihaknya juga mengaku sudah menemukan alat skimmer yang terpasang di perangkat mesin ATM sebagai penyalin data untuk melakukan tindak kejahatan.

"Alat tersebut sudah dapat kami amankan, alhamdulillah tindakan mereka tidak lagi berkelanjutan,"ucapnya

Ia mengatakan, aksi skimming yang dilakukan pelaku adalah dengan memasang alat berupa skimmer dan kamera yang ditempel pada perangkat mesin ATM, sehingga kartu serta PIN nasabah dapat terbaca dan disalahgunakan oleh pelaku dari jarak jauh.

Menurut dia, pelaku mengambil uang di rekening nasabah bervariasi mulai dari Rp 1,5 juta hingga belasan juta rupiah.

"Dari hasil penelusuran kami, pelaku melakukan penarikan di Banjarmasin, Provinsi Kalimantan Selatan," terangnya.

Melalui sistem yang dimiliki, BNI telah mendeteksi rekening nasabah yang terkena skimming dan secepatnya melakukan pencegahan dengan memblokir kartu nasabah yang terkena skimming tersebut.

Tidak hanya itu, sejumlah rekening nasabah lain juga ikut diblokir agar korban kejahatan skimming tidak bertambah.

Tindakan itu dilakukan setelah pihak bank memastikan, di 3 mesin yang terindikasi dipasang alat skimmer dan setelah dicek terdapat ribuan nasabah yang pernah melakukan transaksi di ATM tersebut.

Demi keamanan nasabah, pihak BNI pun melakukan tindakan pencegahan dengan melakukan pemblokiran dan meminta nasabah yang telah diblokir tersebut untuk mengganti kartu baru tanpa biaya.

“Ada sekitar 2.800 rekening yang terindikasi dan sudah kami blokir. Pemblokiran ini merupakan langkah pencegahan untuk menjaga keamanan uang direkening nasabah,” tuturnya.

Untuk itu, pihaknya meminta pada para nasabah agar tetap tenang dan tidak panik. Terkait kejadian ini, semua kerugian yang dialami nasabah akibat skimming menjadi tanggung jawab pihak bank.

"Atas kejadian ini, kami berharap agar nasabah jangan terlalu khwatir, saat ini kami sudah melakukan pengamanan secara intensif. Kalau memang ada rekening nasabah yang terbukti skimming, uangnya kami ganti," kata Amir.

Selain itu, pihak BNI juga telah mengembalikan seluruh dana nasabah yang terbukti hilang di rekening. Pengembalian uang nasabah yang terkena skimming ini diklaim terbilang cepat.

“Alhamdulillah, dana nasabah yang menjadi korban tersebut, semuanya telah kami kembalikan ke rekening masing-masing nasabah,” ujarnya.

Disamping itu, pihak BNI mengimbau nasabah selalu waspada dan melaporkan jika ada kejadian janggal yang terjadi saat melakukan transaksi melalui ATM.

Nasabah juga perlu secara rutin mengubah nomor PIN sebagai langkah pengamanan.

"Di ATM itu memang terpasang CCTV, tapi tetap tidak bisa mencegah juga. Karena itu, sebelum melakukan transaksi, pastikan di mesin ATM tidak ada barang-barang asing yang mencurigakan,"ujarnya.



Close Ads X