Tanam Buah Naga Organik di Banyuwangi yang Berakhir Manis

Kompas.com - 24/01/2019, 16:30 WIB
Seorang petani sedang menyemprot pupuk organik di salah satu lahan kebun buah naga di desa Jambewangi Kecamatan Sempu Kabupaten Banyuwangi KOMPAS.com/IRA RACHMAWATISeorang petani sedang menyemprot pupuk organik di salah satu lahan kebun buah naga di desa Jambewangi Kecamatan Sempu Kabupaten Banyuwangi

Ia mencontohkan, kotoran kambing yang dia beli hanya dengan harga Rp 7.000 rupiah per karung yang berisi 40 kilogram, dan untuk mencukupi lahan 1,5 hektar dia membutuhkan 200 zak kotoran kambing.

“Jika satu hektar petani lain membutuhkan biaya produksi sekitar Rp 10 juta, sedangkan dengan organik biaya produksi bisa dipangkas hingga setengahnya. Kami juga tidak bingung jika terjadi kelangkaan pupuk. Selain itu, saat harga buah naga anjlok seperti sekarang, kami masih mendapatkan untung karena memiliki pangsa pasar khusus walaupun dari 100 persen, hanya 5-10 persen yang mengonsumi buah organik,” jelasnya.

Ia mencontohkan, pekan lalu saat mulai musim raya, buah naga BS sebanyak 1 ton dihargai Rp 1,1 juta, sementara untuk buah naga organik sebanyak 360 kilogram dihargai Rp 1,8 juta.

“Semurah-murahnya dibeli masih untung dan tentunya biaya produksi lebih murah. Kalau ongkos kawin bunga dan ongkos petik sama saja dengan buah yang anorganik,” jelasnya.

Masrul, petani buah naga organik lainnya, juga menjelaskan kepada Kompas.com bahwa keuntungan buah naga organik adalah lebih tahan lama dibandingkan buah naga yang anorganik.  

Jika buah naga anorganik hanya bertahan tiga hari, buah naga organik bertahan hingga 20 hari pasca-panen.

“Tapi sayangnya tidak banyak petani yang mau bertanam secara organik karena memang ribet dan prosesnya lama serta berkotor-kotor seperti ini. Lahan kita saja benar-benar bebas kimia baru dua tahun terakhir dan akhirnya baru tahun kemarin mendapatkan sertifikat organik,” katanya.

Diminati eksportir luar negeri

Masrul mengatakan, ia dan petani buah naga organik di Desa Jambewangi sering mendapatkan kunjungan dari petani-petani buah naga lainnya yang tertarik beralih ke cara tanam organik.

Bahkan, tahun lalu dia dan keluarganya juga mendapatkan kunjungan eksportir dari China dan Malaysia yang meminta Sugeng dan Masrul mengirim buah naga organik ke China sebanyak 20 ton setiap minggu.

“Kami mampu memenuhi permintaan mereka, tapi masih terkendala surat administrasi. Jika saat ini 40-60 persen saja buah naga dikirim ke luar negeri, harga buah naga akan stabil dan bagus. Tapi sayangnya kan tidak semua buah naga lolos pengecekan,” katanya.

Baca juga: Petani Buang Buah Naga Merah ke Sungai karena Harganya Murah

Masrul berharap banyak petani buah naga yang beralih ke cara tanam organik karena selain buahnya berkualitas dan aman dikonsumsi, harganya masih aman di saat musim panen raya serta lebih tahan lama serta biaya produksi lebih murah.

"Tapi semuanya dikembalikan ke masing-masing pribadi. Kadang ada yang tidak sabar dan maunya instan, jadi pupuk kimianya diperbanyak. Kalau saya tetap akan organik karena aman dikonsumsi, juga ramah lingkungan dan jelasnya lebih menguntungkan," kata Masrul.

Halaman:


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Tantang Petahana, PKB Usung Cucu Pendiri NU di Pilkada Kabupaten Malang

Tantang Petahana, PKB Usung Cucu Pendiri NU di Pilkada Kabupaten Malang

Regional
Seorang Remaja Cabuli Pacarnya, Terungkap Saat Orangtua Periksa Ponsel Korban

Seorang Remaja Cabuli Pacarnya, Terungkap Saat Orangtua Periksa Ponsel Korban

Regional
Jubir Komite Peralihan Aceh: Pengibaran Bendera Bulan Bintang Sesuai Aturan

Jubir Komite Peralihan Aceh: Pengibaran Bendera Bulan Bintang Sesuai Aturan

Regional
Listrik di Pekanbaru Padam karena Gangguan Transmisi, PLN Minta Maaf

Listrik di Pekanbaru Padam karena Gangguan Transmisi, PLN Minta Maaf

Regional
Ketua DPRD Jabar: 7 Anggota Dewan yang Positif Covid-19 Karantina Mandiri

Ketua DPRD Jabar: 7 Anggota Dewan yang Positif Covid-19 Karantina Mandiri

Regional
Bantah Didorong Risma, Fuad Belum Minta Restu untuk Maju di Pilkada Surabaya

Bantah Didorong Risma, Fuad Belum Minta Restu untuk Maju di Pilkada Surabaya

Regional
Seorang Warga Ditembak OTK, TNI-Polri Kejar Pelaku

Seorang Warga Ditembak OTK, TNI-Polri Kejar Pelaku

Regional
Detik-detik Laode Ditembak dari Belakang oleh Orang Tak Dikenal Saat Jaga Warung

Detik-detik Laode Ditembak dari Belakang oleh Orang Tak Dikenal Saat Jaga Warung

Regional
Seorang ASN Curi Uang Nasabah dengan Ganjal ATM Pakai Tusuk Gigi

Seorang ASN Curi Uang Nasabah dengan Ganjal ATM Pakai Tusuk Gigi

Regional
Gempa Magnitudo 5,2 Guncang Sangihe, Sulut, BPBD: Belum Ada Laporan Kerusakan

Gempa Magnitudo 5,2 Guncang Sangihe, Sulut, BPBD: Belum Ada Laporan Kerusakan

Regional
Seorang Warga Ditembak di Intan Jaya, Papua, Pelaku Pura-pura Pinjam Pulpen

Seorang Warga Ditembak di Intan Jaya, Papua, Pelaku Pura-pura Pinjam Pulpen

Regional
Ridwan Kamil Tegaskan Belum Disuntik Vaksin Covid-19, Siapkan Dulu Fisik

Ridwan Kamil Tegaskan Belum Disuntik Vaksin Covid-19, Siapkan Dulu Fisik

Regional
Kisah Mbah Khotimah, Uang dan Dagangan Dibawa Kabur Penipu, Terpaksa Pulang Berjalan Kaki

Kisah Mbah Khotimah, Uang dan Dagangan Dibawa Kabur Penipu, Terpaksa Pulang Berjalan Kaki

Regional
Kembalikan Kejayaan Lada, Gubernur Babel Lepas Ekspor 45.000 Kg Lada ke Jepang

Kembalikan Kejayaan Lada, Gubernur Babel Lepas Ekspor 45.000 Kg Lada ke Jepang

Regional
Siap Maju Pilkada, Putra Sulung Risma Mengaku Masuk Dalam Survei Internal PDI-P

Siap Maju Pilkada, Putra Sulung Risma Mengaku Masuk Dalam Survei Internal PDI-P

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X