Fakta di Balik Kerja Keras "Profesor" Pisang dari Bantul, Lulusan Paket B hingga Jadi Pembicara di Forum Internasional

Kompas.com - 18/01/2019, 19:09 WIB
Lasiyo Menunjukkan Lokasi Pembuatan Pupuk Organiknya di Rumahnya Dusun Ponggok, Sidomulyo, Kecamatan Bambanglipuro, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, Rabu (16/1/2019)KOMPAS.com/MARKUS YUWONO Lasiyo Menunjukkan Lokasi Pembuatan Pupuk Organiknya di Rumahnya Dusun Ponggok, Sidomulyo, Kecamatan Bambanglipuro, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, Rabu (16/1/2019)

KOMPAS.com - Lasiyo Syaifudin (64) akhirnya menemukan cara untuk bangkit dari keterpurukan pascagempa Yogyakarta tahun 2006 lalu, yaitu dengan cara menanam pohon pisang.

Tak hanya menanam, namun Lasiyo juga mengembangkan berbagai varietas pisang. Beberapa varietas pisang miliknya pun digemari banyak orang. Hasil penjualan bibit pisang varietas miliknya mampu menopang kehidupan keluarganya.

Tak hanya menjual, ketekunan Lasiyo bergelut dengan pohon pisang membuat dirinya diundang ke berbagai kampus baik dalam dan luar negeri untuk mempresentasikan hasil kerjanya.

Lasiyo pun dikenal sebagai "profesor" pisang atas kepiawaiannya mengenal pohon pisang. Berikut ini fakta lengkapnya:

1. Berawal dari gempa Yogyakarta 2006

Poster pemain sepak bola yang langsung dipasang di pohon, serta karung bekas yang kembali dikumpulkan untuk alas tidur. Di Dusun Bondalem, Kelurahan Sidomulyo, Kecamatan Bambang Lipuro, Kabupaten Bantul, ini hampir semua rumah telah rata tanah akibat gempa Yogyakarta pada 27 Mei 2006.KOMPAS.com/AMIR SODIKIN Poster pemain sepak bola yang langsung dipasang di pohon, serta karung bekas yang kembali dikumpulkan untuk alas tidur. Di Dusun Bondalem, Kelurahan Sidomulyo, Kecamatan Bambang Lipuro, Kabupaten Bantul, ini hampir semua rumah telah rata tanah akibat gempa Yogyakarta pada 27 Mei 2006.

Lasiyo tinggal bersama keluarganya di Dusun Ponggok, Sidomulyo, Kecamatan Bambanglipuro, Bantul, DIY.

Dia menceritakan, setelah gempa besar melanda Yogyakarta dan sekitarnya, masyarakat di desanya penuh kekalutan.

Lalu, dirinya mencoba mencari cara bagaiamana membantu warga untuk bangkit dari kekalutan dan keterpurukan pascagempa. Lasiyo pun berkoordinasi dengan pihak kelurahan.

"Dulu mikirnya, bagaimana caranya menghilangkan suasana kalut warga, bagaimana kalau warga budidaya pohon pisang," ucapnya, Rabu (16/1/2019).

Saat itu dukungan pemerintah Desa Sidomulyo langsung didapatkannya, dengan mengeluarkan Peraturan Desa (Perdes) yang mengatur pemberian bantuan untuk warga.

Salah satunya, siapa menanam bibit pisang raja satu hamparan lahan lebih 50 buah, dibelikan senilai Rp 5.000 per batang.

"Karena saya yang pertama kali, waktu itu menanam 100 batang," katanya.

"Setelah ada budidaya bibit pisang dan ada yang tanya pisang, kondisi lingkungan bisa terjaga. Pekarangan yang biasanya kosong dan gersang bisa ada manfaatnya," katanya.

Baca Juga: Mengenal Lasiyo, Penjaga Toko yang Jadi "Profesor" Pisang, hingga Jadi Pembicara di Luar Negeri

2. Dikenal sebagai " profesor pisang"

Lasiyo Sang ProfesorPisang Tengah Memindahkan Bibit Pisangnya di Pekarangan Rumahnya diDusun Ponggok, Sidomulyo, Kecamatan Bambanglipuro, Kabupaten Bantul, Yogyakarta Rabu (16/1/2019) KOMPAS.com/MARKUS YUWONO Lasiyo Sang ProfesorPisang Tengah Memindahkan Bibit Pisangnya di Pekarangan Rumahnya diDusun Ponggok, Sidomulyo, Kecamatan Bambanglipuro, Kabupaten Bantul, Yogyakarta Rabu (16/1/2019)

Saat itu Lasiyo memang memilih cara pengembangan pisang secara organik dan bukan menggunakan pestisida. Menurut Lasiyo, cara organik akan lebih menguntungkan dalam waktu lama dibandingkan menggunakan bahan-bahan kimia.

Setelah itu, Lasiyo mencoba mengembangkan sejumlah varietas pisang dan hingga saat ini, sudah ada 20 varietas.

Pria yang juga bekerja sebagai penjaga toko tersebut menjelaskan jenis varietasnya adalah pisang jenis raja bulu, raja bagus, klutuk, ambon barangan, raja kuning, pisang emas kirana, dan pisang emas saling Jogja.

Selain itu ada juga juga pisang kongo, dan pisang gading. Bibit unggulannya pisang raja, ambon, gepok, dan raja susu. Bibitnya berasal dari berbagai wilayah, dirinya rutin mencari bibit pisang ke pelbagai daerah.

"Banyak yang membeli dari Jawa Tengah, Jawa Timur ngambilnya ke sini," katanya.

Untuk satu bibit pohon pisang, Lasiyo mematok harga sekitat Rp 13.000. Selain itu, dirinya juga mengembangkan pupuk organik yang berasal dari sampah di sekitar rumahnya.

"Saya juga dapat julukan pemulung sampah," ujarnya sembari tersenyum.

Baca Juga: Prihatin Monyet Sering Mengemis di Jalan, Erwin Tanam Pohon Buah di Hutan

3. Hanya lulusan Paket B, Lasiyo panen penghargaan

Pisangshutterstock Pisang

Meski hanya lulus paket B, keahlian dirinya mengembangkan bibit pisang sudah melambungkan namanya. Sejumlah perguruan tinggi ternama di Yogyakarta, bahkan hingga ke Dinas Pertanian kabupaten dan provinsi DIY, pernah memberikan penghargaan.

Tak heran jika sederet penghargaan diperolehnya, ada sekitar 50 pernghargaan baik dari pemerintah maupun lembaga.

"Semua pisang tak sulit dibudidayakan. Tergantung pembelajaran," ucapnya. Lasiyo mengatakan,dirinya mengelola koperasi beranama Agromirasa Bantul Yogyakarta (Amboy) dengan anggota 33 orang dari 12 kecamatan di Bantul.

Saat ini kantornya berada di rumah miliknya yang roboh akibat gempa 2006. Hampir setiap hari tamu dari berbagai daerah ataupun lembaga pendidikan mendatangi rumah sederhana itu.

"Banyak yang ingin belajar ke sini," katanya.

Baca Juga: Presiden Jokowi Sajikan Pisang Goreng dan Wedang Jahe untuk PM Australia

4. Menjadi pembicara di luar negeri

Pohon pisang lain yang juga berbuah di pekarangan belakang rumah pasangan Muhajir-Jumiati.KOMPAS.com / Hamzah Pohon pisang lain yang juga berbuah di pekarangan belakang rumah pasangan Muhajir-Jumiati.

Kerja keras Lasiyo pernah dihadirkan dalam sebuah forum internasional di Turin, Italia pada 2016 silam.

Saat itu karyanya didokumentasikan dan diputar kepada 62 perwakilan negara. Saat itu dirinya diminta berbicara proses budidaya bibit pohon yang dilakukan secara organik

"Saya tidak bisa bahasa Inggris, dan waktu itu berbicara melalui penerjemah," katanya.

"Saya seminggu memakai sorjan dan blangkon. Ternyata itu memang acara yang setiap tahun digelar untuk memberikan kesempatan orang yang memiliki inovasi, mengambangkan potensi lokal dan ramah lingkungan," katanya.

Tak hanya itu, dirinya sempat pergi ke Malaysia pada 2017. Namun, saat itu Lasiyo bersama sebuah lembaga melakukan survei lahan yang hendak ditanami pisang di Batam dan berlanjut hingga wilayah Malaysia

Baca Juga: Tuntut Ganti Rugi, Warga Tanam Kelapa dan Pisang di Tengah Jalan

Sumber: KOMPAS.com (Markus Yuwono)


Terkini Lainnya


Close Ads X