Kodam Diponegoro Antisipasi Meletusnya Gunung Merapi

Kompas.com - 15/01/2019, 18:05 WIB
Puncak Gunung Merapi pasca meletus, Jumat (1/6/2018), pukul 08.20 WIB, dilihat dari objek wisata Ketep Pass, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, atau sekitar 8 kilometer dari puncak. KOMPAS.com/IKA FITRIANA Puncak Gunung Merapi pasca meletus, Jumat (1/6/2018), pukul 08.20 WIB, dilihat dari objek wisata Ketep Pass, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, atau sekitar 8 kilometer dari puncak.

SEMARANG, KOMPAS.comGunung Merapi di Jawa Tengah dan DIY kini masih berstatus waspada level 2. Erupsi yang terjadi bekalangan ini dianggap masih aman untuk kegiatan warga setempat, di luar radius 3 km dari puncak.

Kendati demikian, personel TNI siap diperbantukan untuk membantu mengatasi kemungkinan-kemungkinan terburuk.

“Kita siap membantu mengamankan, kapanpun diminta. Aparat teritorial sudah digelar. Kita sudah melaksanakan mitigasi, melaksakan bersama BPBD dan kepala daerah jika bencana itu terjadi,” ujar Kepala Penerangan Kodam IV Diponegoro, Kolonel Zainuddin, saat ditemui di kantornya, Selasa (15/1/2019).

Dikatakan Kapendam, personel TNI selalu standby siap untuk membantu evakuasi bencana jika dibutuhkan. Jumlah personel yang dikirim berikut alat akan disesuaikan dengan kebutuhan.

Baca juga: Status Waspada Gunung Merapi sejak 21 Mei 2018 Jadi Status Waspada Terpanjang

“Kita selalu siap, dan sifatnya kan diperbantukan. Kalau butuh personel dan alat tinggal berapa yang diminta kami akan bantu,” tambahnya.

Namun untuk saat ini, kata dia, lantaran status Merapi masih dianggap normal, personel belum ada yang diperbantukan. Personel akan bergerak jika pemerintah menaikkan status Gunung Merapi dan melakukan evakuasi terhadap warga sekitar.

“Saat ini belum ada gelar personel, karena belum ada alarm bahaya. Tapi ketika sudah masa evakuasi, personel di semua wilayah terkait pasti ikut membantu all out,” tambahnya.

“Untuk saat ini, karena status masih waspada 2, Babinsa yang ada di daerah Merapi yang bekerja, mengabari masyarakat sekitar untuk berhati-hati,” katanya.

Baca juga: BPBD Jateng Siapkan 150 Alat Pantau Erupsi Gunung Merapi

Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta Hanik Humaida sebelumnya menyampaikan bahwa sampai hingga Senin (14/1/2019) status Gunung Merapi masih di level Waspada (Level II).

Status Waspada terus diberlakukan sejak 21 Mei 2018. Dinaikkannya status Gunung Merapi dari aktif normal menjadi Waspada karena adanya peningkatan aktivitas.

BPPTKG Yogyakarta kemudian merekomendasikan radius 3 km dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk.

"Kalau sebelum - sebelumnya, seperti tahun 2006, status Waspada itu cuma beberapa minggu, ini sudah delapan bulan," katanya.

Dia menjelaskan, BPPTKG memiliki banyak parameter yang digunakan untuk menetapkan status pada Gunung Merapi. Pemantauan yang digunakan BPPTKG Yogyakarta pun juga berbagai macam. Seperti pemantauan sesmisitas, deformasi, kemudian juga kimianya.

Status Waspada juga ditetapkan bukan berdasarkan letusan gunung api, namun pada ancaman yang ditimbulkan akibat dari aktivitas gunung api tersebut. 



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Program Petahana dan Adik Menaker di Pilkada Mojokerto, Kartu UMKM Keren Jadi Andalan

Program Petahana dan Adik Menaker di Pilkada Mojokerto, Kartu UMKM Keren Jadi Andalan

Regional
UPDATE Covid-19 di Jabar, Jateng, Banten, Sumsel, Babel, dan Lampung 26 Oktober 2020

UPDATE Covid-19 di Jabar, Jateng, Banten, Sumsel, Babel, dan Lampung 26 Oktober 2020

Regional
Pria Ini Bakar 2 Bangunan Penginapan, Sebelumnya Marah-marah dan Ancam Resepsionis

Pria Ini Bakar 2 Bangunan Penginapan, Sebelumnya Marah-marah dan Ancam Resepsionis

Regional
15 Pegawai Terinfeksi Covid-19, PLN Ponorogo Tetap Buka Pelayanan

15 Pegawai Terinfeksi Covid-19, PLN Ponorogo Tetap Buka Pelayanan

Regional
Penjelasan BCA Digugat Nasabah karena Deposito Rp 5,4 M Tak Cair

Penjelasan BCA Digugat Nasabah karena Deposito Rp 5,4 M Tak Cair

Regional
Pilkada Mojokerto, Pasangan 'Yoni' Janjikan Bantuan Modal Rp 50 Juta hingga Kemudahan Berinvestasi

Pilkada Mojokerto, Pasangan "Yoni" Janjikan Bantuan Modal Rp 50 Juta hingga Kemudahan Berinvestasi

Regional
Tidak Dibela Saat Dihajar Kakak Ipar, Perempuan Ini Pukul Ibu Kandung di Pinggir Jalan

Tidak Dibela Saat Dihajar Kakak Ipar, Perempuan Ini Pukul Ibu Kandung di Pinggir Jalan

Regional
UPDATE Covid-19 di Jatim, DIY, Bali, NTT, NTB, Kalbar dan Kalsel 26 Oktober 2020

UPDATE Covid-19 di Jatim, DIY, Bali, NTT, NTB, Kalbar dan Kalsel 26 Oktober 2020

Regional
Pemuda yang Jatuh dari Jembatan Layang Kelok 9 Diduga Bunuh Diri

Pemuda yang Jatuh dari Jembatan Layang Kelok 9 Diduga Bunuh Diri

Regional
Sekolah Tatap Muka di Banjarmasin, Siswa Tak Boleh Cium Tangan Guru

Sekolah Tatap Muka di Banjarmasin, Siswa Tak Boleh Cium Tangan Guru

Regional
Perempuan yang Pukul Lansia Dalam Video yang Viral Ternyata Ibu dan Anak

Perempuan yang Pukul Lansia Dalam Video yang Viral Ternyata Ibu dan Anak

Regional
Pelaku Pembunuhan Perempuan Pekerja Kafe di Berau Ditangkap di Kalteng

Pelaku Pembunuhan Perempuan Pekerja Kafe di Berau Ditangkap di Kalteng

Regional
Warga yang Keluar dan Masuk ke Riau Wajib Punya Hasil Rapid Test

Warga yang Keluar dan Masuk ke Riau Wajib Punya Hasil Rapid Test

Regional
Ini Program Pasangan 'Ikbar' di Pilkada Mojokerto, dari Bantuan Desa Rp 5 M hingga Insentif untuk Guru

Ini Program Pasangan "Ikbar" di Pilkada Mojokerto, dari Bantuan Desa Rp 5 M hingga Insentif untuk Guru

Regional
Perempuan Ini Suruh Keponakannya yang Masih SD Antar Sabu, Tak Diberi Jajan jika Menolak

Perempuan Ini Suruh Keponakannya yang Masih SD Antar Sabu, Tak Diberi Jajan jika Menolak

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X