Program Citarum Harum dan Pengaruhnya pada Lesunya Industri Tekstil

Kompas.com - 13/01/2019, 11:16 WIB
Aparat TNI saat menbersihkan sungai Citarum beberapa waktu lalu. Dokumentasi Humas Pemkab Bandung Aparat TNI saat menbersihkan sungai Citarum beberapa waktu lalu.

BANDUNG, KOMPAS.comIndustri tekstil di Indonesia, khususnya di Jawa Barat, mengalami kelesuan. Salah satu faktor penghambat terbesarnya adalah faktor lingkungan.

“Program Citarum Harum banyak berpengaruh. Berapa banyak industri yang berdomisili di sekitaran Citarum,” ujar Sekretaris Jenderal Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Kevin Hartanto di Bandung, Minggu (13/1/2018).

Kevin menjelaskan, sejak Perpres soal Citarum keluar, banyak perusahaan yang ditindak karena baku mutu, Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), dan lainnya.

“Hal ini membuat industri tekstil terutama pencelupan harus mengurangi produksi. Tanpa mengurangi produksi, tidak akan bisa mengolah (sesuai aturan),” ucapnya.

Baca juga: Ridwan Kamil Sebut Ketidakkompakan Jadi Sebab Pemulihan Citarum Belum Berhasil

Sedangkan pembenahan IPAL, membutuhkan waktu. Walaupun pemerintah mengatakan hanya membutuhkan waktu 3 bulan, kenyataannya tidak demikian.

Pengusaha harus menyiapkan lahan, kemudian mencari pinjaman ke bank karena finansial cost-nya cukup tinggi. Kemudian ada studi kelayakan.

“Mayoritas, pembenahan butuh 1-2 tahun. Itu artinya, sejak pertengahan tahun lalu, rata-rata (industri) pencelupan langsung drop,” ucapnya.

Kondisi ini berimbas pula pada industri tekstil di hulu. Contohnya di Jateng. Selama ini banyak perusahaan yang mengirimkan bahan baku kain ke Bandung untuk pencelupan.

Baca juga: Dukung Citarum Harum, Gabungan Komunitas di Karawang Tanam 1.000 Bambu dan Tebar Ikan

Namun karena industri di Jabar mengurangi produksi, otomatis kain menumpuk di Jateng hingga mereka pun ikut mengerem produksi.

“Produsen benang sampai kain sedang lesu. Pasar lesu dan ada gap karena berkurangnya produksi,” ucapnya.

Meski demikian, jumlah permintaan tetap sama. Kevin khawatir, kekosongan ini nantinya diisi oleh impor.

Kontribusi tekstil bagi Jabar

Data Kementerian Perindustrian menyebutkan, Jabar merupakan provinsi dengan jumlah industri terbanyak. Dari 74 kawasan industri yang tersebar di Indonesia, 40 di antaranya berlokasi di Jabar.

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jabar pun memberikan kontribusi tertinggi ketiga sebesar 14.88 persen, setelah DKI Jakarta dan Jawa Timur pada Produk Domesti Bruto (PDB) Nasional.

Baca juga: Cemari Sungai Citarum, 4 Perusahaan Tekstil di Jabar Ditutup Sementara

Perkembangan pangsa pasar ekspor Jawa Barat pada akhir 2017 disumbangkan oleh subkelompok tekstil dan produk tekstil (19,8 persen), diikuti kendaraan bermotor (17,5 persen), elektronik (17,4 persen), dan kimia (7 persen).

Namun panga pasar ekspor tekstil terus mengalami penurunan. Kalaupun ada kenaikan, sambung Kevin, itu ditunjang ekspor pakaian jadi.

Untuk mendongkrak penjualan, API bekerja sama dengan Cotton Council International untuk mendalami tren fesyen 2019 dan inovasi teknologi tekstil terbaru kepada para pelaku industri tekstil.

"Kami berkomitmen untuk mendampingi para pelaku manufaktur dalam memahami tren fesyen, penggunaan teknologi terbaru, dan keunggulan kapas dalam menciptakan peluang serta manfaat lain bagi para pengusaha tekstil," ujar Program Representative Cotton Council International Indonesia, Andy Do.



Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Terkini Lainnya


Close Ads X