Diduga Terjadi Pencemaran, Polisi Tutup Operasi Perusahan Tambang di Gunung Botak - Kompas.com

Diduga Terjadi Pencemaran, Polisi Tutup Operasi Perusahan Tambang di Gunung Botak

Kompas.com - 11/01/2019, 22:55 WIB
Tim dari Bareskrim Mabes Polri menutup aktifitas perusahan tambang emas di kawasan Gunung Botak, Pulau Buru, Maluku beberapa hari  lalu. Penutupan tersebut dilakukan lantaran perusahan diduga menggunakan bahan kimia berbahaya. FOTO Humas Polda Maluku Kontributor Ambon, Rahmat Rahman Patty Tim dari Bareskrim Mabes Polri menutup aktifitas perusahan tambang emas di kawasan Gunung Botak, Pulau Buru, Maluku beberapa hari lalu. Penutupan tersebut dilakukan lantaran perusahan diduga menggunakan bahan kimia berbahaya. FOTO Humas Polda Maluku

AMBON, KOMPAS.com - Tim dari Bareskrim Mabes Polri yang ditugaskan untuk melakukan penyelidikan terkait masalah kerusakan lingkungan di kawasan tambang Gunung Botak, Pulau Buru, Maluku, menutup sebuah areal tambang milik perusahan PT PIP yang dijadikan lokasi pengolahan emas.

Penutupan lahan seluas dua hektare di kawasan tersebut karena ada dugaan perusahan tersebut selama ini menggunakan bahan berbahaya dan bercun seperti sianida dan mercuri untuk mengolah material emas di kawasan itu.

Kasubdit II Tipiter Bareskrim Mabes Polri, Kombes Sulistiyon, kepada sejumlah wartawan di ruang Humas Polda Maluku mengatakan, kasus dugaan kerusakan lingkungan yang diduga dilakukan perusahan tersebut kini sedang dalam penyelidikan.


Baca juga: KPK: Suap DPRD Kalteng agar Tak Ada Rapat Pencemaran Lingkungan

“Itu yang kami police line  ada 2 kolam, 3 kolam, 4 kolam. Ada dugaan limba berbahaya yang sudah kita ambil sampelnya dan diuji di Jakarta. Ada kurang lebih 2 hektare itu di wilayah perkantoran PT PIP, kami kasih plang bahwa dia masih dalam penyelidikan,” kata Sulistiono.

Selama melakukan penyelidikan di Gunung Botak, tim dari Bareskrim Mabes Polri ikut didampingi Ditreskrimsus Polda Maluku. Selain PT PIP, tim dari Mabes Polri juga mengusut keterlibatan dua perusahan lain yakni PT BPS dan PT SSS.

Sejauh ini sejumlah pihak terus dimintai keterangannya terkait kasus pertambangan ilegal, yakni 10 orang dari PT BPS, 2 dari BLH Kabupaten Buru, dan empat orang lagi dari Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Maluku.

“Sudah pasti ada (penetapan tersangka), itu kalau kami yang urus lingkungan hidup itu ya pasti koorporasi atau perusahan yang bertanggung jawab,” ujar dia.

Baca juga: Cegah Pencemaran Lingkungan, TPA Benowo Surabaya Ditanami Pohon

Sulistiono menambahkan, sejauh ini pihaknya hanya ditugaskan untuk mengusut kerusakan lingkungan akibat aktivitas penambangan di Gunung Botak.

“Tim yang dikirim kalau saya kan bicara masalah lingkungan hidup, jadi di sana diduga ada limbah B3 untuk mengeruk emas, itu dia (perusahan) mengolahnya mungkin ada sianida dan lain-lain," ujar dia.

"Kalau kontribusi (perusahan) dia hanya mengumpulkan bahan baku untuk mengolah emas. Kalau dia memakai sianida dan lain-lain itu yang akan kita dalami,” tambah dia. 


Terkini Lainnya


Close Ads X