5 Fakta Erupsi Gunung Anak Krakatau, Aktivitas Masih Fluktuatif hingga Arah Semburan Debu Vulkanik

Kompas.com - 04/01/2019, 16:12 WIB
Gunung Anak Krakatau erupsi hingga ratusan kali selama 24 jam pada Sabtu (18/8/2018). Dokumentasi BNPB/BPBDGunung Anak Krakatau erupsi hingga ratusan kali selama 24 jam pada Sabtu (18/8/2018).

KOMPAS.com - Aktivitas Gunung Anak Krakatau terus berlangsung hingga saat ini. Berdasar pengamatan dari pos di Pasauran, Kecamatan Cinangka, Serang, Krakatau meletus 60 kali pada hari Rabu (2/1/2019).

Namun, letusan tersebut tidak menyebabkan tsunami seperti peristiwa pada hari Sabtu (22/12/2018) lalu.

Namun demikian, debu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau tersebut diperkirakan mengarah ke Pulau Jawa. Semburan debu vulkanik tersebut diduga tidak akan mempengaruhi aktivitas warga.

Berikut ini fakta perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau:

1. Gunung Anak Krakatau tercatat telah meletus 60 kali

Aktivitas letupan abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda terpantau dari udara yang diambil dari pesawat Cessna 208B Grand Caravan milik maskapai Susi Air, Minggu (23/12/2018). KOMPAS/RIZA FATHONI Aktivitas letupan abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda terpantau dari udara yang diambil dari pesawat Cessna 208B Grand Caravan milik maskapai Susi Air, Minggu (23/12/2018).

Petugas pos pemantauan di Pasauran, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, mencatat telah terjadi 60 kali pada Rabu (2/1/2019).

Namun, letusan tersebut sangat kecil peluangnya memicu tsunami.Hal tersebut disampaikan Petugas Pusat Vulkanologi, Mitigasi, dan Bencana Geologi (PVMBG) Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau, Deny Mardiono.

"Kalau letusan saat ini sangat kecil sekali peluangnya terjadi tsunami, karena sekarang gunungnya sudah jauh lebih rendah, tinggal 110 meter lagi," kata Deny saat ditemui di Posko Terpadu tsunami Selat Sunda, Labuan, Kabupaten Pandeglang, Kamis (3/1/2019).

Baca Juga: Krakatau Meletus 60 Kali Sehari, Peluang Picu Tsunami Kecil

2. Aktivitas Gunung Anak Krakatau masih fluktuatif

Asap hitam menyembur saat terjadi letusan Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda, Banten, Senin (10/12/2018). Berdasarkan data yang terekam di Pos Pengamatan GAK di Pasauran, Serang, sejak Jumat (7/12) hingga Minggu (9/12) GAK mengeluarkan 204 letusan awan hitam setinggi 150-300 meter dengan durasi 31-72 detik diiringi 22 kali gempa vulkanik sehingga statusnya masih pada level wasada. ANTARA FOTO/Weli Ayu Rejeki/af/hp.WELI AYU REJEKI Asap hitam menyembur saat terjadi letusan Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda, Banten, Senin (10/12/2018). Berdasarkan data yang terekam di Pos Pengamatan GAK di Pasauran, Serang, sejak Jumat (7/12) hingga Minggu (9/12) GAK mengeluarkan 204 letusan awan hitam setinggi 150-300 meter dengan durasi 31-72 detik diiringi 22 kali gempa vulkanik sehingga statusnya masih pada level wasada. ANTARA FOTO/Weli Ayu Rejeki/af/hp.

Deny Mardiono mengatakan, saat ini aktivitas Gunung Anak Krakatau masih fluktuatif sejak adanya peningkatan pada Juni 2018 lalu.

Gunung Anak Krakatau sempat menunjukkan tren penurunan aktivitas setelah terpantau ada rayapan pada badan hingga ukurannya menyusut dari 338 meter di atas permukaan laut (Mdpl) menjadi 110 Mdpl.

Sementara pada dua hari berturut-turut, Gunung Anak Krakatau tercatat meletus sebanyak 33 kali dan 60 kali letusan.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X