Ketika Habib Menyembunyikan Amal

Kompas.com - 31/12/2018, 08:53 WIB
Haul Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi Ke-107 1440 | 29 Desember 2018. Tangkapan layar Youtube/Majelis Ar-RaudhahHaul Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi Ke-107 1440 | 29 Desember 2018.

BILA Anda berkunjung ke Solo pada akhir Desember ini, Anda akan menyaksikan ramainya orang di sekitar jalan Gurawan, Pasar Kliwon.

Berpusat di Masjid Riyadh, yang berada di selatan keraton Solo itu, ribuan orang datang dari berbagai kota, guna menghadiri peringatan wafatnya (khaul) Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi, ulama kenamaan asal Hadhramaut, Yaman, yang menulis kitab maulid Nabi SAW berjudul Simtud-Dhirar.

Tak jauh dari situ, dahulu bermukim habib Muhammad bin Abdullah Alaydrus, yang namanya dikenal luas di Solo. Banyak tamu datang ke rumahnya setiap hari, pagi sampai malam.

Mereka selalu dijamu makan minum; tamu dari luar kota sering menginap di kediamannya, seberang RS Kustati, di kota batik itu.

Muhammad Alaydrus sengaja membangun semacam paviliun kecil di bagian depan rumahnya,lengkap dengan kamar mandi, yang khusus diperuntukkan bagi para tetamu yang menginap. Kediamannya berlokasi di Jalan Kapten Mulyadi, seberang agak ke selatan RS Kustati.

Selain dekar Masjid Riyadh itu, sekitar 300 meter ke utara dari rumah Muhammad Alaydrus ada Masjid Assegaf, tempat da’i kondang (dan penyanyi religi) Habib Syech AA dulu belajar mengaji saat ia kecil dipimpin ayahnya (yang menjadi imam di masjid itu), Habib Abdulkadir bin Abdulrahman (AA) Assegaf.

Pada masa-masa seperti sekarang ini rumah Muhammad Alaydrus nyaris tiada pernah kosong dari tamu yang hendak menghadiri acara khaul Habib Ali Al-Habsyi itu.

Baik saat ada khaul atau tidak, biasanya Muhammad Alaydrus sendiri secara rajin melayani para tetamu saat makan siang, makan malam, atau kadang ketika ngopi ‘majlas‘ (duduk-duduk) di sore hari, sambil membaca kitab-kitab agama bersama.

 

Selalu mengenakan sarung, pengusaha kaya dengan belasan anak itu tampil sangat bersahaja. Sehingga sepintas orang yang belum mengenalnya tidak akan menyangka bahwa Muhammad Alaydrus sebenarnya orang kaya.

Tetapi bagi penduduk di kampung Pasar Kliwon Solo itu, nyaris tidak ada yang tidak tahu bahwa pemilik pabrik tekstil itu sangat disegani karena sikapnya yang tawadhu’ (rendah hati).

Halaman:


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X