Ribuan Warga Purwakarta Shalat Gaib untuk Korban Tsunami Selat Sunda

Kompas.com - 28/12/2018, 15:21 WIB
Dedi Mulyadi bersama Ribuan orang warga Purwakarta, Karawang, Subang dan Bekasi menggelar shalat ghaib untuk korban bencana tsunami Banten, usai menjalatkan ibadah shalat Jumat di Masjid Tajug Gede Cilodong, Purwakarta, Jumat (28/12/2018). KOMPAS.com/ISTIMEWADedi Mulyadi bersama Ribuan orang warga Purwakarta, Karawang, Subang dan Bekasi menggelar shalat ghaib untuk korban bencana tsunami Banten, usai menjalatkan ibadah shalat Jumat di Masjid Tajug Gede Cilodong, Purwakarta, Jumat (28/12/2018).

BANDUNG, KOMPAS.com - Ribuan warga Purwakarta, Karawang, Subang dan Bekasi menggelar shalat gaib untuk korban bencana tsunami Selat Sunda di Banten dan Lampung.

Shalat gaib digelar usai menjalatkan ibadah shalat Jumat di Masjid Tajug Gede Cilodong, Purwakarta, Jumat (28/12/2018).

Mewakili para jamaah, Ketua Dewan Kesejahteraan Masjid (DKM) Tajug Gede Cilodong Dedi Mulyadi menyampaikan bela sungkawa yang sedalam-dalamnha atas peristiwa yang tidak diduga tersebut.

Menurut Dedi, duka para korban tsunami Banten dan Lampung merupakan duka seluruh warga Indonesia. Karena itu, semua pihak harus turun tangan dan bahu membahu membantu para korban.

“Kita berduka, Indonesia berduka. Sebagai saudara sebangsa dan setanah air kita harus membantu mereka. Doa dan bantuan lebih mereka butuhkan dibandingkan mengaitkan peristiwa ini dengan politik,” kata Dedi usai shalat ghaib, Jumat siang.

Baca juga: BMKG Hanya Keluarkan Peringatan Gelombang Tinggi di Manado, Bukan Tsunami

Dedi pun memberikan dukungan moral untuk para korban agar diberikan kesabaran dan ketabahan dalam memulihkan situasi.

“Semoga seluruh korban diberikan ketabahan dan dipulihkan kondisinya. Para korban yang meninggal semoga ditempatkan di tempat terbaik,” ujarnya

Sementara itu, Kiai Ni’amillah Aqil Siradj, selaku khatib shalat Jumat di Tajug Gede Cilodong menambahkan, fenomena alam harus dijadikan momentum untuk melakukan introspeksi diri. Karena itu, tidak pantas jika ada pihak yang menggunakannya sebagai alat penghakiman kebenaran pilihan politik.

“Mengaitkan bencana alam dengan politik hanya akan menambah derita dan sakit hati para korban. Saya selaku khatib mengimbau agar itu semua segera dihentikan. Lebih baik, kita doakan semua korban berada dalam kenikmatan dari Allah,” jelasnya.

Baca juga: Bantuan Rp 50 Juta untuk Tiap Desa Terdampak Tsunami Selat Sunda

Pengasuh Pondok Pesantren Kempek, Cirebon, Jawa Barat, itu juga menyampaikan duka mendalam untuk para korban. Dia berharap, doa yang dikirimkan lewat shalat ghaib yang dilakukan hari ini bisa meringankan derita para korban.

Baca tentang


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Dalam Dua Hari, Kota Tegal Temukan 64 Kasus Baru Positif Covid-19

Dalam Dua Hari, Kota Tegal Temukan 64 Kasus Baru Positif Covid-19

Regional
Dedi Mulyadi: Jangan Sampai Pulau Komodo Berubah Jadi Pulau Mang Dodo

Dedi Mulyadi: Jangan Sampai Pulau Komodo Berubah Jadi Pulau Mang Dodo

Regional
Mengolah Cacing Merah Jadi Pundi-pundi Rupiah, Kisah Petani Desa Rejosari Riau (2)

Mengolah Cacing Merah Jadi Pundi-pundi Rupiah, Kisah Petani Desa Rejosari Riau (2)

Regional
Ganjar Sebut Pertemuan dengan Ridwan Kamil Bahas Kegiatan Pramuka

Ganjar Sebut Pertemuan dengan Ridwan Kamil Bahas Kegiatan Pramuka

Regional
Mengolah Cacing Merah Jadi Pundi-pundi Rupiah, Kisah Petani Desa Rejosari Riau (1)

Mengolah Cacing Merah Jadi Pundi-pundi Rupiah, Kisah Petani Desa Rejosari Riau (1)

Regional
Kisah di Balik Balita yang Kerap Bilang 'Maaf', Orangtua Dipenjara, Trauma Dianiaya Paman dan Bibi

Kisah di Balik Balita yang Kerap Bilang "Maaf", Orangtua Dipenjara, Trauma Dianiaya Paman dan Bibi

Regional
Hari Pertama Operasi Zebra Lodaya 2020 di Cianjur, Sasar Warga yang Tak Pakai Masker

Hari Pertama Operasi Zebra Lodaya 2020 di Cianjur, Sasar Warga yang Tak Pakai Masker

Regional
Wali Kota Madiun Izinkan SD, SMP dan SMA Gelar KBM Tatap Muka

Wali Kota Madiun Izinkan SD, SMP dan SMA Gelar KBM Tatap Muka

Regional
Libur Panjang, Pemeriksaan Kendaraan di Puncak Akan Diperketat

Libur Panjang, Pemeriksaan Kendaraan di Puncak Akan Diperketat

Regional
Sensasi Berkeliling Danau Laut Tawar di Dataran Tinggi Aceh Tengah

Sensasi Berkeliling Danau Laut Tawar di Dataran Tinggi Aceh Tengah

Regional
Kurang dari 7 Jam, Pembunuh Pedagang Pakaian di Kudus Berhasil Ditangkap

Kurang dari 7 Jam, Pembunuh Pedagang Pakaian di Kudus Berhasil Ditangkap

Regional
Pengakuan Pemandu Karaoke yang Pingsan Dipukuli Usai Menolak Diantar Pulang Tamu: Kami Baru Kenal

Pengakuan Pemandu Karaoke yang Pingsan Dipukuli Usai Menolak Diantar Pulang Tamu: Kami Baru Kenal

Regional
[POPULER NUSANTARA] Pernikahan Siswi SMP di Lombok | Puluhan Rumah Rusak akibat Gempa M 5,9 Pangandaran

[POPULER NUSANTARA] Pernikahan Siswi SMP di Lombok | Puluhan Rumah Rusak akibat Gempa M 5,9 Pangandaran

Regional
Debat Pilgub Jambi, Walhi Sebut Semua Cagub Beri Karpet Merah untuk Investor Tambang

Debat Pilgub Jambi, Walhi Sebut Semua Cagub Beri Karpet Merah untuk Investor Tambang

Regional
Tebang Pohon karena Halangi Papan Reklame di Jalan, 4 Orang Ditangkap

Tebang Pohon karena Halangi Papan Reklame di Jalan, 4 Orang Ditangkap

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X