18.794 Warga Serang dan Pandeglang Masih Mengungsi, Takut Tsunami Susulan

Kompas.com - 27/12/2018, 17:49 WIB
Puluhan pengungsi masih bertahan di Posko Pengungsian Tenjohalang, Kecamatan Jiput, Kabupaten Pandeglang, Kamis (27/12/2018). Sebagian pengungsi memilih bertahan di pengungsian lantaran takut akan tsunami susulan. KOMPAS.com/ACEP NAZMUDIN Puluhan pengungsi masih bertahan di Posko Pengungsian Tenjohalang, Kecamatan Jiput, Kabupaten Pandeglang, Kamis (27/12/2018). Sebagian pengungsi memilih bertahan di pengungsian lantaran takut akan tsunami susulan.

PANDEGLANG, KOMPAS.com - Korban tsunami Selat Sunda hingga saat ini masih mengungsi di sejumlah titik pengungsian yang tersebar di Kabupaten Serang dan Pandeglang. Data terkini warga yang mengungsi berjumlah 18.794 jiwa.

Berdasarkan data yang diperoleh dari posko media center Polda Banten, warga yang mengungsi terbagi dalam dua kabupaten yakni Pandeglang dan Serang. Jumlah pengungsi paling banyak terdapat di Pandeglang yakni 14.395 jiwa yang tersebar di 43 lokasi.

Sementara di Kabupaten Serang pengungsi yang masih bertahan sebanyak 4.399 jiwa tersebar di 11 lokasi.

Pantauan Kompas.com pada Kamis (27/12/2018), para pengungsi memenuhi posko-posko pengungsian yang dibangun di sejumlah tempat seperti kantor desa, kantor kecamatan, masjid, sekolah hingga stasiun radio.

Baca juga: Aktivitas Gunung Anak Krakatau Meningkat, Tsunami Berpotensi Terjadi

Sebagain besar masih bertahan di pengungsian dengan alasan takut pulang ke rumah lantaran adanya isu tsunami susulan, atau rumahnya hancur akibat tsunami yang menerjang pada Sabtu (22/12/2018) lalu.

Satu di antara pengungsi yang masih bertahan adalah Ani, warga Kampung Siruang, Desa Caringin, Kecamatan Labuan. Ibu dua anak ini mengaku belum berani pulang ke rumah lantaran masih khawatir dengan kabar soal tsunami akan kembali menerjang.

"Dapat kabar dari orang-orang kalau bakal ada tsunami lagi, Gunung Anak Krakatau masih meletus, saya belum belum berani turun," kata dia yang mengungsi di Posko Tenjohalang, Kecamatan Jiput, berjarak lima kilometer dari rumahnya.

Ani memilih pengungsian yang berada di kawasan perbukitan, kendati jarak dari rumahnya cukup jauh. Ini dilakukan untuk mengindari tsunami, dimana menurut kabar yang dia dapat kekuatan lebih besar dibanding tsunami kemarin.

Baca juga: Krakatau Siaga Level III, Warga Diimbau Waspada Tsunami Susulan

"Jaga-jaga saja, kalau mengungsi di dataran rendah sama saja, mending yang jauh sekalian," ujar dia.

Sementara pengungsi lain, Wahyudi warga kampung Panguseupan, Labuan memilih bertahan di pengungsian lantaran rumahnya rusak karena tsunami kemarin.

"Saya kemarin sudah pulang ke rumah, eh malah banjir, ya sudah mau bagaimana lagi, mending di sini dulu, yang penting keluarga aman, urusan nyaman atau enggak, itu belakangan, asal selamatkan diri dulu," kata dia.

Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X