Tsunami Banten, Warga di Pesisir Pantai Pandeglang Mengungsi

Kompas.com - 23/12/2018, 06:47 WIB
Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono saat menyampaikan konferensi pers pada Minggu (23/12/2018). BMKG menyatakan bahwa yang terjadi di pesisir Serang Banten dan juga di Lampung adalah tsunami. 
Bidik layar KompastvKepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono saat menyampaikan konferensi pers pada Minggu (23/12/2018). BMKG menyatakan bahwa yang terjadi di pesisir Serang Banten dan juga di Lampung adalah tsunami.
Editor Khairina

PANDEGLANG, KOMPAS.com-Warga yang tinggal di pesisir Pantai Pandeglang, Banten, mengungsi akibat diterjang gelombang pasang setinggi lima meter hingga merobohkan rumah.

Mereka mengungsi ke masjid, sekolah, perkantoran, terminal, dan gedung tsunami.

"Kami bersama keluarga mengungsi ke masjid jami Al Mukmin," kata Yudi, warga Lantera, Desa Cigodang Kecamatan Labuan, Pandeglang, Minggu (23/12/2018), seperti ditulis Antara.

Baca juga: BNPB: Dampak Tsunami Banten, 20 Orang Meninggal dan 165 Orang Luka-luka

Ia mengaku, saat ini bingung setelah rumahnya roboh akibat diterjang gelombang pasang. Namun, beruntung anggota keluarganya selamat setelah berlarian ke perbukitan yang jaraknya mencapai dua kilometer.

Ketinggian air laut sangat menakutkan karena arusnya cukup kuat, sehingga Yudi dan keluarga langsung menyelamatkan dengan berlarian ke perbukitan.

Saat ini, kata dia, dirinya mengungsi di masjid bersama isteri dan dua anak.

Yudi menjelaskan, peristiwa gelombang pasang terjadi pukul 21.20 WIB. Saat itu, dirinya tengah duduk di halaman rumah yang jaraknya ke pantai 200 meter.

Namun, tiba-tiba air laut menerjang permukiman masyarakat hingga kendaraan terseret dan ratusan rumah roboh.

"Kami tidak terbayangkan jika tengah tidur, karena gelombang pasang itu cukup tinggi hingga lima meter," katanya.

Tak hanya Yudi, Memed, warga Laba, Desa Cigodang, Kecamatan Labuan, mengatakan saat gelombang pasang, ia langsung membawa anak dan istri ke tempat yang lebih aman.

Ia berlarian dengan kondisi gelap sepanjang 1,5 kilometer untuk menyelamatkan jiwa dari bencana gelombang pasang itu.


"Kami saat ini belum berani kembali ke rumah, karena khawatir terjadi gelombang pasang susulan," kata Memed yang mengungsi di gedung tsunami.

Berdasarkan pantauan, Minggu pagi hujan lebat masih berlangsung sehingga pengungsi belum melihat kondisi rumahnya.

Mereka saat ini masih di pengungsian dan membutuhkan makanan.

Saat ini, pemerintah daerah belum melakukan penyaluran bantuan makanan karena masih melakukan pendataan korban gelombang pasang.



Sumber Antara
Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X