Kisah Mbah Siam, Tukang Pijat Tradisional yang Berjuang Melawan Kanker Mata (1) - Kompas.com

Kisah Mbah Siam, Tukang Pijat Tradisional yang Berjuang Melawan Kanker Mata (1)

Kompas.com - 22/12/2018, 08:17 WIB
Semenjak terserang kanker di bagian mata, penglihatan Mbah Siam menjadi buta. Untuk ke kamar mandi ia berjalan merangkak dan meraba-raba dengan tongkat kayu.KOMPAS.com/MUHLIS AL ALAWI Semenjak terserang kanker di bagian mata, penglihatan Mbah Siam menjadi buta. Untuk ke kamar mandi ia berjalan merangkak dan meraba-raba dengan tongkat kayu.

MADIUN, KOMPAS.comMbah Siam (86) tak menyangka keisengannya menggaruk tahi lalat didekat mata kiri dua tahun lalu berakibat fatal. Nenek yang tinggal di RT 04 RW 02, Dusun Kwangsen, Desa Kwangsen, Kecamatan Jiwan, Kabupaten Madiun itu kini mata kirinya tak dapat melihat.

Bukan tanpa sebab, semenjak kanker menyerang di bagian sekitar mata kirinya, Mbah Siam yang kesehariannya menjadi tukang pijat ini kehilangan penglihatannya.

Petaka itu bermula saat Mbah Siam memiliki tahi lalat kecil di dekat mata kirinya dua tahun lalu. Setelah tumbuh tahi lalat ia merasakan gatal di bagian tumbuhnya tahi lalat.

Tak tahan dengan rasa gatal, tangan kananya menggaruk tahi lalatnya itu hingga sobek. Namun bukan darah merah yang keluar dari bekas tahi lalat yang disobeknya.

Baca juga: Kisah Asep Bocah dari Bandung Barat yang Keluarkan Suara Peluit Saat Kecapekan

"Raosipun gatal, trus kulo kukur kok medal ireng-ireng kados getih mati ngoten niko. (Rasanya gatal. Makanya saya garuk. Tetapi keluar hitam-hitam seperti darah mati itu)," kata Mbah Siam yang ditemui di kediamannya di Desa Kwangsen, Kecamatan Jiwan, Kabupaten Madiun, Kamis (20/12/2018).

Setelah keluar darah hitam, berlahan-lahan lubang bekas tahi lalatnya itu membesar berbentuk luka menganga berwarna merah dan mengeluarkan cairan seperti nanah.

Dua tahun berlalu, luka itu terus menganga dan tumbuh daging sekepal tangan anak kecil. Daging tumbuh pada luka menganga warna merah akhirnya menggerogoti dan menutup penglihatannya.

Belum usai kanker menyerang bagian sekitar mata kirinya, kini Mbah Siam juga mengalami gangguan pengelihatan pada mata kananya sejak lima bulan lalu. Hanya cahaya samar-samar yang terlihat dari mata kanannya.

Baca juga: Kisah TKI Lari dari Penyanderaan Kelompok Abu Sayyaf di Filipina

"Saya tanyakan ke orang katanya mata kananya tidak bisa melihat dampak dari mata kiri saya yang sakit," kata Mbah Siam.

Akibat gangguan penglihatan dua matanya, Mbah Siam tak lagi melayani permintaan pijat dari warga setempat. Sebelumnya Mbah Siam tetap melayani pesanan pijat bagi warga yang capek meski mata kirinya mengalami gangguan penglihatan.

"Dulu saya biasa mijat warga yang kecapekan. Sekali pijat, warga memberi uang seikhlasnya. Kadang ada yang memberi Rp 10.000 sampai Rp 20.000. Tetapi kadang yang memberi beras," ujar Mbah Siam.

Selain tak dapat melihat, Mbah Siam sering merasakan nyeri pada mata bagian kirinya. Namun, Mbah Siam hanya bisa pasrah saja. Meski kondisinya semakin memprihatinkan tidak ada obat-obatan sebagai penawar rasa sakitnya.

Kecewa layanan kesehatan

Inilah kondisi Mbah Siam (86) saat ditemui di rumahnya di Dusun Kwangsen, Desa Kwangsen, Kecamatan Jiwan, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, Kamis ( 20/12/2018) siang.KOMPAS.com/MUHLIS AL ALAWI Inilah kondisi Mbah Siam (86) saat ditemui di rumahnya di Dusun Kwangsen, Desa Kwangsen, Kecamatan Jiwan, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, Kamis ( 20/12/2018) siang.

Mbah Siam bercerita suatu saat pernah mendatangi layanan medis milik pemerintah. Namun setibanya di rumah sakit, hanya dikompres matanya dan tidak dikasih obat.

Padahal ia bersama anaknya sudah mengantri sejak pagi hari dan pulang hingga sore hari. "Oalah adoh-adoh gak dikei obat. (Sudah jauh-jauh datang tapi malah gak dikasih obat ). Mata saya hanya dikompres saja," ungkap Mbah Siam.

Mbah Siam mengaku pernah diberi bantuan oleh dari pemerintah berupa uang Rp 350 ribu. Uang itu sudah habis digunakan untuk berobat. Tak hanya itu ada beberapa orang yang datang ke rumahnya membawa bantuan sembako.

Baca juga: 7 Kisah Jimmy Lolos dari Tragedi di Nduga Papua, Dua Kali Tertangkap KKB hingga 16 Jam Terjebak Baku Tembak 

Sebelum luka dibagian matanya membesar, dokter menyarankan untuk segera dioperasi. Lantaran takut, badan Mbah Siam sering panas dingin bila diharuskan dioperasi matanya.

"Kemarin ada rombongan TKI yang bekerja di Taiwan membantu mau membiayai operasi mata saya. Tetapi saya tidak mau karena takut," ungkap Mbah Siam.

Kini Mbah Siam hanya bisa terbaring tak berdaya tinggal bersama Jumiran, anak lelakinya di rumah tua sederhananya yang hanya berlantai tanah. Beberapa bagian dindingnya juga tampak sudah retak dimakan usia. Tak ada televisi, radio dan telepon seluler.

Bersambung ke  Kisah Mbah Siam, Tukang Pijat Tradisional yang Berjuang Melawan Kanker Mata (2)


Terkini Lainnya


Close Ads X