Puncak Semeru Tampak "Bertopi", Jalur Pendakian Tetap Dibuka Normal - Kompas.com

Puncak Semeru Tampak "Bertopi", Jalur Pendakian Tetap Dibuka Normal

Kompas.com - 11/12/2018, 19:16 WIB
Puncak Gunung Semeru atau Mahameru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur tertutup awan sehingga terlihat seperti bertopi pada Senin (10/12/2018)Dok. BB TNBTS Puncak Gunung Semeru atau Mahameru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur tertutup awan sehingga terlihat seperti bertopi pada Senin (10/12/2018)

MALANG, KOMPAS.com - Pendakian di Gunung Semeru, Jawa Timur tetap dibuka dengan normal meski ada fenomena awan mengelilingi Puncak Semeru atau dikenal Mahameru yang membuatnya seperti bertopi.

Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) John Kennedie mengatakan, pendakian menuju puncak para dewa itu tetap dibuka seperti biasanya.

"Betul mas. (Pendakian) lancar dan landai - landai saja mas," katanya melalui pesan tertulis kepada Kompas.com, Selasa (11/12/2018).

John mengatakan, adanya fenomena Puncak Semeru 'bertopi' itu tidak berpengaruh terhadap aktivitas pendakian di gunung dengan ketinggian 3.676 meter dari permukaan laut itu.

John mengatakan, rencana penutupan jalur pendakian akan dilakukan pada Januari 2019 untuk pemulihan ekosistem seperti yang dilakukan sebelum - sebelumnya.

"Kemungkinan Januari rencana ditutupnya," katanya.

Baca juga: Gunung Semeru Tampak Cantik Bertopi, Fenomena Apa?

Puncak Gunung Semeru atau yang dikenal dengan sebutan Mahameru dikelilingi oleh awan yang membuatnya seperti sedang memakai topi. Fenomena itu terjadi pada Senin (10/12/2018).

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana ( BNPB) Sutopo Purwo Nugroho menyampaikan, fenomena itu terjadi lantaran Puncak Mahameru tertutup awan jenis lentikularis atau altocumulus lenticularis yang terbentuk karena pusaran angin di puncak.

"Gunung Semeru di Lumajang Jawa Timur bertopi. Puncak gunung tertutup awan jenis lentikularis atau altocumulus lenticularis. Awan ini terbentuk akibat adanya pusaran angin di puncak," tulis Sutopo dalam akun instagramnya, @sutopopurwo.

Sutopo menyampaikan, fenomena itu merupakan fenomena biasa dan pernah dialami oleh puncak gunung lainnya.

"Ini fenomena alam biasa saja. Beberapa gunung pernah mengalami hal yang sama. Tergantung dinamika atmosfer lokal," katanya.

Sementara itu, kondisi itu sangat berbahaya bagi pendakian. Para pendaki rentan terkena hyphotermia karena cuaca sangat dingin.


Terkini Lainnya


Close Ads X