Kisah Pipin Sulap Pohon Mati Jadi Patung Maleo, Babi Rusa, dan Julang Sulawesi - Kompas.com

Kisah Pipin Sulap Pohon Mati Jadi Patung Maleo, Babi Rusa, dan Julang Sulawesi

Kompas.com - 07/12/2018, 16:50 WIB
Seniman pahat Gorontalo, Pipin Idris sedang membentuk burung Maleo (Macrocephalon maleo) pada sebuah pohon mati di RTH taman Kota.KOMPAS.COM/MUKMIN BADU Seniman pahat Gorontalo, Pipin Idris sedang membentuk burung Maleo (Macrocephalon maleo) pada sebuah pohon mati di RTH taman Kota.

GORONTALO, KOMPAS.com –  Kayu tua dan mati ini disulap menjadi patung berbagai satwa dan aktivitas budaya masyarakat Gorontalo.

Tanpa memindahkan lokasi pohon ini di Taman Kota, seniman Gorontalo Pipin Idris memahat batang kayu berdiameter lebih dari 1 meter ini menjadi beragam bentuk dalam satu batang kayu.

Taman Kota adalah Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang berada di tengah Kota Gorontalo. Selain menjadi lokasi berkumpulnya masyarakat untuk bersantai, di tempat ini juga terdapat pohon-pohon besar yang berumur puluhan tahun.

Salah satu pohon tua telah lama mati, cabang-cabangnya sudah dipotong, dan hanya menyisakan batang yang besar setinggi 4 meter.

Saat Pemerintah Kota Gorontalo akan menebangnya, para penggiat lingkungan memberi alternatif, akan menjadikan pohon ini sebagai patung kayu yang unik.  

Wali kota Marten Taha pun membekali gergaji mesin mungil untuk Pipin Idris, pemahat kayu.

“Ada burung maleo (Macrocephalon maleo), julang sulawesi (Aceros cassidix), babi rusa (Babyrousa), penari saronde, penabuh buruda, dan ragam hias lain dalam satu pohon,” kata Rahman Dako, Ketua Forum Komunitas Hijau (FKH) Kota Gorontalo, Kamis (6/12/2018).

Baca juga: Cerita Sutaryono, Pemahat Barong Kesenian Jaranan di Kediri...

Pembuatan patung keanekaragaman hayati ini sudah berjalan beberapa bulan. Sang pemahat Pipin Idris mengerjakan di kala waktu senggang, kadang juga beberapa hari tidak disentuh.

“Melalui patung ini kami mengingatkan kepada masyarakat bahwa Gorontalo memiliki satwa endemik Sulawesi yang unik, kami mengenalkan bentuknya dalam wujud patung kayu karena tidak semua orang bisa menjelajah hutan,” kata Pipin Idris.

Burung julang sulawesi atau yang biasa disebut Alo oleh masyarakat Gorontalo adalah salah satu jenis rangkong yang paling eksotik di Indonesia. Burung ini memiliki paruh besar yang berwarna menyolok. Masyarakat juga menyebut julang sulawesi ini sebagai burung raja yang memiliki kekuatan magis.

Burung maleo yang khas terpahat di sisi barat, kepalanya ada tonjolan dan dikenal memiliki telur yang besar. Sepasang maleo adalah simbol kesetiaan. Burung ini bertelur di dalam tanah yang memiliki sumber panas bumi atau pasir pantai, selama 60 hari akan menetas yang anakannya bisa langsung terbang.

Sementara babi rusa merupakan satwa pemalu yang hidup di hutan primer. Babi rusa jantan memiliki 4 taring yang mencuat di bagian depan mulutnya, biasanya hidup menyendiri mengelana dalam rimba. Yang betina biasa ditemukan bersama anak-anaknya.

Patung keragaman hayati ini akan diresmikan Wali Kota Marten Taha dalam kegiatan Festival Hijau yang digagas FKH.

“Patung kayu keragaman  hayati dan budaya ini adalah simbol semangat kami untuk mewujudkan Kota Gorontalo yang bersih dan hijau,” ujar Sri Sutarni Arifin, Ketua Festival Hijau.

Dengan menghadirkan isi rimba di tengah kota, pengurus FKH berharap dapat memotivasi warga untuk menanam pohon dan memperbanyak ruang hijau.



Close Ads X