Mengenal Ritual Tiwah, Cara Suku Dayak Menghargai Kematian (1)

Kompas.com - 05/12/2018, 11:00 WIB
Prosesi upacara Tiwah di Komplek Balai Induk Kahaingan Kota Palangkaraya. Handout,Kurnia TariganProsesi upacara Tiwah di Komplek Balai Induk Kahaingan Kota Palangkaraya.

PALANGKARAYA, KOMPAS.com – Belasan liau atau kerangka jenazah diambil dari kuburnya, dibersihkan, lalu dibaringkan di peti mati dalam pelaksanaan upacara tiwah, ritual yang dilakukan Suku Dayak untuk bertujuan mengantar arwah menuju tempat asal (lewu tatau) bersama Ranying (dewa tertinggi dalam kepercayaan Kaharingan), Selasa (04/12/2018).

Merupakan kebahagiaan dan kehormatan bagi keluarga apabila telah melaksanakan upacara Tiwah bagi keluarga yang telah meninggal dunia, karena mereka terlepas dari Pali Belum (Barutas Matei) akibat kematian keluarganya. 

Jika sudah melakukan ritual Tiwah, maka keluarga almarhum dianggap sudah menunaikan kewajiban mulia dan tanggung jawab mutlak.

Diharapkan dengan melaksanakan Upacara Tiwah, Liau Haring Kaharingan atau orang yang ditiwahkan mendapat tempat yang Maha Suci dan Mulia “Lewu tatau Dia Rampang Tulang, Rundung Raja Isen Kamalesu Uhat.


Baca juga: Melihat dari Dekat Kehidupan Suku Dayak di Lamandau Kalteng

Kali ini Upacara Tiwah digelar secara bersama, yang dilaksanakan oleh belasan keluarga dihalaman Komplek Balai Induk Kaharingan Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah.

Ada beberapa tahapan dalam proses pelaksanaan upacara tiwah, pertama, keluarga harus mendirikan balai nyahu, yaitu tempat untuk menyimpan tulang belulang yang sudah dibersihkan.

Kedua keluarga harus membuat anjung-anjung atau bendera kain yang jumlahnya harus sama dengan jenazah yang akan ditiwahkan, serta ketiga, keluarga memasukkan tulang belulang ke balai nyahu. 

Tahapan ini disebut tabuh 1, tabuh 2, dan tabuh 3, ini merupakan tahapan yang riskan karena di sinilah roh mulai diantarkan ke lewu tatau, tabuh dilakukan secara tiga hari berturut-turut.

Baca juga: Kisah Lulantatibu, Batik Pemersatu Suku Dayak di Perbatasan

Menurut Tirtak, Pengurus Lembaga Upacara Hindu Kaharingan, mengatakan bahwa pelaksanaan upacara tiwah ini berlangsung hingga satu bulan penuh, dimana satu keluarga akan menyiapkan satu hewan kurban yang memiliki tahapan mulai dari ayam, babi, sebelum kurban utama yang akan dipersembahkan, yaitu sapi.

Kurban sapi akan ditusuk sambil peserta menari, hewan kurban tersebut akan ditusuk hingga tidak bisa lagi berdiri atau mati. Setelah semua hewan kurban mati, akan dimasak dan dimakan bersama. 

Karena hewan kurban dan pesertanya banyak, biaya untuk melaksanakan upacara tiwah ini sangat besar. Dalam setiap pelaksanaan biasanya membutuhkan biaya antara Rp 50 juta-Rp 100 juta.

Ditambahkan oleh Tirkan, bahwa Upacara Tiwah tidak sembarangan dilaksanakan, Dia mengatakan membutuhkan banyak proses untuk bisa melaksanakan Upacara Tiwah ini lantaran ini merupakan Upacara atau Ritual yang sakral.

(Bersambung)

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Geledah 2 Rumah Terduga Teroris di Sukoharjo, Densus 88 Amankan Buku Jihad

Geledah 2 Rumah Terduga Teroris di Sukoharjo, Densus 88 Amankan Buku Jihad

Regional
Satu Pembunuh dan Pemerkosa Gadis 13 Tahun Divonis 7,5 Tahun Penjara

Satu Pembunuh dan Pemerkosa Gadis 13 Tahun Divonis 7,5 Tahun Penjara

Regional
Viral Foto 2 Bule Lecehkan Tempat Suci di Bali

Viral Foto 2 Bule Lecehkan Tempat Suci di Bali

Regional
Sempat Dilarang, Kini Demonstrasi Jelang Pelantikan Presiden Diperbolehkan

Sempat Dilarang, Kini Demonstrasi Jelang Pelantikan Presiden Diperbolehkan

Regional
Soal Video Mesum Tuban, Polisi Hanya Berlakukan Wajib Lapor

Soal Video Mesum Tuban, Polisi Hanya Berlakukan Wajib Lapor

Regional
Siswi Korban Pencabulan Guru Les Sembunyikan Kandungan Gunakan Hijab Besar

Siswi Korban Pencabulan Guru Les Sembunyikan Kandungan Gunakan Hijab Besar

Regional
Guru Silat Cabuli 5 Murid sejak 2016, Modusnya Pijat Peregangan Otot

Guru Silat Cabuli 5 Murid sejak 2016, Modusnya Pijat Peregangan Otot

Regional
Jual Miras ke Anak di Bawah Umur, Kakek-Nenek Ditangkap

Jual Miras ke Anak di Bawah Umur, Kakek-Nenek Ditangkap

Regional
Kisah Kakek Germanus, Puluhan Tahun Hidup di Gubuk Reyot Tanpa Listrik, Makan dari Belas Kasih Tetangga

Kisah Kakek Germanus, Puluhan Tahun Hidup di Gubuk Reyot Tanpa Listrik, Makan dari Belas Kasih Tetangga

Regional
“Si Perut Laper” Milik Jabar Raih Apresiasi dari Pemerintah Pusat

“Si Perut Laper” Milik Jabar Raih Apresiasi dari Pemerintah Pusat

Regional
Gara-gara 'TeLe ApIK' Jateng Raih Penghargaan Top 45 Inovasi Pelayanan Publik

Gara-gara "TeLe ApIK" Jateng Raih Penghargaan Top 45 Inovasi Pelayanan Publik

Regional
7 Tahanan Kabur dari Polsek Peusangan Bireuen Dibantu 2 Wanita

7 Tahanan Kabur dari Polsek Peusangan Bireuen Dibantu 2 Wanita

Regional
Guru Les Vokal yang Cabuli Siswi SMP Jadi Tersangka

Guru Les Vokal yang Cabuli Siswi SMP Jadi Tersangka

Regional
Pembunuh Sopir Mobil Rental Divonis Mati, Kejari Garut Akan Banding

Pembunuh Sopir Mobil Rental Divonis Mati, Kejari Garut Akan Banding

Regional
Dibesuk Mendikbud, Frans, Siswa SMP Wamena Ceritakan Saat Wajahnya Alami Luka Bakar karena Tolak Ikut Demo

Dibesuk Mendikbud, Frans, Siswa SMP Wamena Ceritakan Saat Wajahnya Alami Luka Bakar karena Tolak Ikut Demo

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X