Kisah Dunga, Bocah 2 Tahun Berkelamin Ganda yang Derita Tumor Ganas di Perut

Kompas.com - 01/12/2018, 06:45 WIB
Yani Sutiyan menggendong buah hatinya, Dunga Putra Heri (2), balita yang menderita tumor ganas di bagian perut, Jumat (30/11/2018).

KOMPAS.com/ FARIDA FARHANYani Sutiyan menggendong buah hatinya, Dunga Putra Heri (2), balita yang menderita tumor ganas di bagian perut, Jumat (30/11/2018).

KARAWANG, KOMPAS.com - Dunga Putra Heri, balita yang pada Desember 2018 tepat berusia dua tahun itu lemas di gendongan ibunya. Dia tak selincah sebelumnya.

Buah hati pasangan Yani Sutian (38) dan Heri Suheri (50) itu divonis mengidap tumor ganas. Berat badannya kini hanya 8,5 kilogram.

"Pada Agustus 2018 lalu, saya mendapati ada benjolan di bagian perut Dangu. Tetapi saya pikir waktu itu tidak apa-apa," kata Yani saat ditemui di rumahnya, Blok Karangmekar, RT 004 RW 021, Kelurahan Cigadung, Kecamatan Subang, Kabupaten Subang, Jawa Barat, Jumat (30/11/2018).

Sebulan kemudian, bocah yang tadinya lincah mendadak lemas. Yani dan suaminya kemudian membawanya ke puskesmas lalu dirujuk ke RSUD Ciereng.

"Dokter kemudian mengatakan, itu tumor ganas dan harus segera dibawa ke Bandung (Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung). Saat itu, benjolannya sebesar telur dan membesar," ujar Yani.

Yani mengaku sudah bolak-balik ke RSHS Bandung untuk berobat dan berkonsultasi dengan dokter demi kesembuhan buah hatinya.

"Seminggu yang lalu diambil jaringan (tumor) untuk menentukan tindakan selanjutnya," tambahnya.

Dokter sendiri, lanjut dia, sempat mengatakan bahwa pengangkatan sel tumor melalui operasi terlalu berisiko. Dokter kemudian menyarankan Dunga untuk menjalani kemoterapi.

"Insya Allah, pada Senin (3/11/2018) mau ke (RSHS) Bandung untuk mengambil jadwal kemoterapi dan mendengarkan penjelasan dokter," tambahnya.

Yani menuturkan, Dunga lahir dengan kelamin ganda. Namun dia tak terlalu ambil pusing soal itu. Yang terpenting adalah kesembuhan Dunga dari ancaman tumor ganas di perutnya.

"Kalau soal itu (kelamin ganda), kata dokter penentuannya saat kecenderungannya sudah muncul," katanya.

Yani berharap, doa dari semua pihak demi kesembuhan putra keempatnya itu. Meskipun bukan dari keluarga mampu, ia dan suaminya tak pernah letih berjuang.

"Kami terus berikhtiar dan memasrahkan kepada yang Maha Kuasa," katanya.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X