2 Bulan Setelah Gempa dan Tsunami, Nelayan Palu Mulai Berbenah

Kompas.com - 29/11/2018, 09:30 WIB
Sebagian masyarakat nelayan di Kota Palu sudah mulai membangun rumah semi permanen di pesisir pantai. Mereka belum mengetahui apakah wilayahnya masuk dalam zona yang tidak boleh ada aktifitas ekonomi atau tidak, Kamis (29/11/2018). KOMPAS.com/ ERNA DWI LIDIAWATISebagian masyarakat nelayan di Kota Palu sudah mulai membangun rumah semi permanen di pesisir pantai. Mereka belum mengetahui apakah wilayahnya masuk dalam zona yang tidak boleh ada aktifitas ekonomi atau tidak, Kamis (29/11/2018).

PALU, KOMPAS.com – Bagi masyarakat nelayan, dua bulan hidup di tenda pengungsian tentu saja sangat menjenuhkan dan sangat membosankan.

Bagaimana tidak, sebelum gempa bumi terjadi, puluhan kepala keluarga yang tinggal di Kelurahan Mamboro Barat, Kecamatan Palu Utara, Kota Palu, Sulawesi Tengah, ini adalah nelayan. Laut buat mereka adalah tempat mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya.

Namun, pasca-gempa bumi yang menyebabkan tsunami, rumah para nelayan ini hancur disapu ombak. Saat bencana itu terjadi, mereka mengungsi di ketinggian.

Di pengungsian, tak banyak yang bisa dikerjakan. Kini, warga yang mata pencahariannya adalah melaut, mulai turun gunung.

Mereka mulai membangun rumah kayu di pesisir pantai. Beberapa rangka bangunan rumah dari kayu mulai berdiri. Mereka saling membantu.

“Tidak bisa juga kita hanya berharap bantuan terus, makanya kita sudah bangun ini pondok lagi,” kata Ambo (46), Kamis (29/11/2018).

Baca juga: Di Depan Sandiaga, Gubernur Longki Mengaku Tak Berada di Palu Saat Gempa dan Tsunami

Dia beruntung, walau rumahnya habis disapu tsunami, tanah miliknya tak ambles ke laut saat gempa datang.

Begitu pun Haji Padju (75), ia mengaku tidak bisa kalau tidak ke laut. Dengan sejuta asa dan harapan baru, Haji Padju dan beberapa nelayan turun gunung. Mereka kembali membangun rumah sementara untuk tempat berteduh bagi istri dan anak-anaknya.

“Mau bagaimana lagi kita. Cuma sekarang ini kita belum melaut, karena perahu mereka hancur. Jadi biasa kita dapat ikan dari daerah pantai barat. Trus di sini kita jemur,” kata Hi Padju

Beberapa hari tinggal di pesisir pantai, aktivitas sebagai nelayan sudah terlihat. Di hamparan puing, bekas rumah warga yang rata tanah, ikan permukaan, seperti ikan lajang yang didatangkan dari Kabupaten Donggala terlihat tengah dijemur.

Baca juga: Pemkot Surabaya Kirim Tim Ahli Bangunan untuk Korban Gempa-Tsunami di Palu

Namun sejauh ini, para nelayan belum mengetahui apakah boleh ada aktivitas ekonomi atau tidak. Sementara peta ruang yang baru akan dikeluarkan pada Desember 2018 mendatang.

Menurut Ambo maupun Hi Padju, jika Desember nanti peta ruang keluar, mereka pasrah jika wilayah mereka masuk zona merah atau kawasan yang tidak boleh ada aktivitas ekonomi dan budidaya.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X