Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kisah di Balik Genteng Anti Gempa, Bobot Ringan hingga Diklaim Cocok di Wilayah Gempa

Kompas.com - 27/11/2018, 20:57 WIB
Michael Hangga Wismabrata,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Inovasi genteng anti gempa karya mahasiswa Universitas Diponegoro Semarang meraih medali emas di kontes International Trade Fair of Ideas Invention and New Product di Jerman beberapa waktu lalu.

Para mahasiswa tersebut membuat genteng dari adonan pasir, semen, air dan limbah styrofoam.

Kelebihan genteng tersebut adalah lebih ringan dan diklaim cocok untuk dipakai di daerah rawan gempa.

Berikut ini fakta terkait inovasi genteng anti gempa.

1. Tambahan styrofoam membuat genteng lebih ringan

Genteng anti gempa, karya mahasiswa asal Undip Semarang, menangi kontes dengan raihan medali emas di Jerman,  Senin(26/11/2018)KOMPAS.com/NAZAR NURDIN Genteng anti gempa, karya mahasiswa asal Undip Semarang, menangi kontes dengan raihan medali emas di Jerman, Senin(26/11/2018)

Salah satu keunggulan genteng styrofoam karya mahasiswa Undip adalah lebih ringan dari genteng pada umumnya.

Dengan sifat ringan itu, genteng ini diklaim tidak membahayakan warga yang berada di daerah rawan gempa.

Ketua tim Genteng Styrofoam Yunnia Rahmadani menjelaskan, genteng itu dibuat khusus di daerah tempat tinggalnya di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah.

Yunnia mengaku membutuhkan beberapa kali percobaan agar genteng yang dibuat sesuai dengan spesifikasi yang diharapkan.

Baca Juga: Genteng Anti Gempa Inovasi Mahasiswa Undip Raih Emas di Jerman

2. Komposisi bahan harus tepat 

Ilustrasi rumahKementerian PUPR Ilustrasi rumah

Yunnia mengatakan, proses menemukan komposisi yang pas ternyata tidak mudah. Namun, belajar dari proses pembuatan genteng di tempat asalnya, Grobogan, Yunnia akhirnya berhasil menemukan komposisi yang tepat.

“Ini gentengnya dibuat di Grobogan, langsung di daerah sentra kerajinan. Genteng ini berbeda karena ada tambahan limbah styrofoam,” ujar Yunnia, saat ditemui di kampus Undip, Senin (26/11/2018).

Yunnia menjelaskan perbedaan genteng karyanya dengan genteng pada umumnya adalah material styrofoam.

“Pembedanya cuma itu dibanding genteng lainnya. Hasilnya, genteng lebih ringan, karena ada styrofoam. Kalau unsur kimia, styrofoam bahan yang tidak bisa didaur ulang, dan memudarnya sangat lama sekali,” katanya.

Baca Juga: Unimal Siapkan Asrama Gratis untuk Mahasiswa Korban Gempa Palu

3. Genteng yang ramah lingkungan raih medali emas

Industri genteng di Kecamatan Jatiwangi, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, menghadapi kesulitan memasarkan genteng karena ada persaingan dengan industri besar yang bermodal lebih kuat. Dari sekitar 550 pengusaha genteng pada 2015, hanya 50 persen yang beroperasi maksimal. Pengusaha genteng, Arif Taufik Hidayat, mengatakan para pengusaha mengalami kesulitan permodalan dan tidak mendapat perhatian dari pemerintah daerah.KOMPAS/HARYO DAMARDONO Industri genteng di Kecamatan Jatiwangi, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, menghadapi kesulitan memasarkan genteng karena ada persaingan dengan industri besar yang bermodal lebih kuat. Dari sekitar 550 pengusaha genteng pada 2015, hanya 50 persen yang beroperasi maksimal. Pengusaha genteng, Arif Taufik Hidayat, mengatakan para pengusaha mengalami kesulitan permodalan dan tidak mendapat perhatian dari pemerintah daerah.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Fakta dan Kronologi Bentrokan Warga 2 Desa di Lombok Tengah, 1 Orang Tewas

Fakta dan Kronologi Bentrokan Warga 2 Desa di Lombok Tengah, 1 Orang Tewas

Regional
Komunikasi Politik 'Anti-Mainstream' Komeng yang Uhuyy!

Komunikasi Politik "Anti-Mainstream" Komeng yang Uhuyy!

Regional
Membedah Strategi Komunikasi Multimodal ala Komeng

Membedah Strategi Komunikasi Multimodal ala Komeng

Regional
Kisah Ibu dan Bayinya Terjebak Banjir Bandang Berjam-jam di Demak

Kisah Ibu dan Bayinya Terjebak Banjir Bandang Berjam-jam di Demak

Regional
Warga Kendal Tewas Tertimbun Longsor Saat di Kamar Mandi, Keluarga Sempat Teriaki Korban

Warga Kendal Tewas Tertimbun Longsor Saat di Kamar Mandi, Keluarga Sempat Teriaki Korban

Regional
Balikpapan Catat 317 Kasus HIV Sepanjang 2023

Balikpapan Catat 317 Kasus HIV Sepanjang 2023

Regional
Kasus Kematian akibat DBD di Balikpapan Turun, Vaksinasi Tembus 60 Persen

Kasus Kematian akibat DBD di Balikpapan Turun, Vaksinasi Tembus 60 Persen

Regional
Puan: Seperti Bung Karno, PDI-P Selalu Berjuang Sejahterakan Wong Cilik

Puan: Seperti Bung Karno, PDI-P Selalu Berjuang Sejahterakan Wong Cilik

Regional
Setelah 25 Tahun Konflik Maluku

Setelah 25 Tahun Konflik Maluku

Regional
BMKG: Sumber Gempa Sumedang Belum Teridentifikasi, Warga di Lereng Bukit Diimbau Waspada Longsor

BMKG: Sumber Gempa Sumedang Belum Teridentifikasi, Warga di Lereng Bukit Diimbau Waspada Longsor

Regional
Gempa Sumedang, 53 Rumah Rusak dan 3 Korban Luka Ringan

Gempa Sumedang, 53 Rumah Rusak dan 3 Korban Luka Ringan

Regional
Malam Tahun Baru 2024, Jokowi Jajan Telur Gulung di 'Night Market Ngarsopuro'

Malam Tahun Baru 2024, Jokowi Jajan Telur Gulung di "Night Market Ngarsopuro"

Regional
Sekolah di Malaysia, Pelajar di Perbatasan Indonesia Berangkat Sebelum Matahari Terbit Tiap Hari

Sekolah di Malaysia, Pelajar di Perbatasan Indonesia Berangkat Sebelum Matahari Terbit Tiap Hari

Regional
Kisah Pengojek Indonesia dan Malaysia di Tapal Batas, Berbagi Rezeki di 'Rumah' yang Sama...

Kisah Pengojek Indonesia dan Malaysia di Tapal Batas, Berbagi Rezeki di "Rumah" yang Sama...

Regional
Menara Pengintai Khas Dayak Bidayuh Jadi Daya Tarik PLBN Jagoi Babang

Menara Pengintai Khas Dayak Bidayuh Jadi Daya Tarik PLBN Jagoi Babang

Regional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com