Buka Muktamar Pemuda Muhammadiyah, Jusuf Kalla Sempat Sindir Dahnil Anzar

Kompas.com - 26/11/2018, 14:11 WIB
Wakil Presiden Jusuf Kalla seusai Membuka Muktamar Pemuda Muhammadiyah di Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Senin (26/11/2018)Kompas.com/Markus Yuwono Wakil Presiden Jusuf Kalla seusai Membuka Muktamar Pemuda Muhammadiyah di Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Senin (26/11/2018)

YOGYAKARTA,KOMPAS.com- Wakil Presiden RI Jusuf Kalla sempat menyinggung pilihan politik Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak saat pidato dalam pembukaan Muktamar Pemuda Muhammadiyah XVII di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), pada Senin (26/11/2018)

"Ini tahun politik, demokrasi cara kita memilih pemimpin yang baik. Saya menghargai Muhammadiyah pilih yang terbaik, bukan memilih yang paling keras atau hebat kampanyenya. Walaupun Dahnil di pihak nomor 2 tapi tidak berarti Pemuda Muhammadiyah harus untuk ikut kebijakan politik dia," kata Jusuf Kalla, Senin.

Menurut dia, Ketua Umum PP Muhammadiyah memberikan kesempatan untuk memilih yang baik, dan merupakan demokrasi yang baik.


"Demokrasi bukan angka saja tapi memajukan bangsa ini. Bukan hitung-hitungan saja, tapi memajukan bangsa ini. Itu yang menjadi hak politik masyarakat," ucapnya.

Baca juga: Polemik Pengembalian Rp 2 Miliar Pemuda Muhammadiyah ke Kemenpora

Ditemui seusai pembukaan, Dahnil Anzar menanggapi hal itu mengatakan, Wapres Jusuf Kalla merupakan orang yang bijak.

"Saya pikir pak Jusuf Kalla orang yang bijak ya selama ini menjadi orang tua kami, dan saya juga sering berdiskusi dengan beliau, dan beliau terbuka. Bahwa kami selalu mengatakan, Pak kita bisa berbeda tetapi perbedaan itu bisa menggembirakan,"ucapnya

"Jadi sejatinya politik itu seperti yang disampaikan oleh pak Jusuf Kalla. Saya sebagai ketua umum PP Pemuda Muhammadiyah tentu harus memastikan secara institusional seperti fatsunnya Muhammadiyah netral, tapikan secara pribadi saya tentu berbeda," katanya.

Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir, mengatakan, dalam politik tidak ada yang baru di Muhammadiyah. Sejak zaman KH Ahmad Dahlan hingga sampai kapan pun.

"Tidak ada yang berubah dan tidak pernah berubah, Muhammadiyah berdiri di atas kepribadian dan khitahnya, berusaha menjaga jarak dengan pergumulan politik," ujar Haedar. 

Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X