Kedua Pelaku Pelemparan Pos Lantas di Lamongan Kenal di Acara Ibadah

Kompas.com - 21/11/2018, 18:25 WIB
Kaca di pos lalu lintas yang ada di kawasan Wisata Bahari Lamongan (WBL). KOMPAS.com/HAMZAHKaca di pos lalu lintas yang ada di kawasan Wisata Bahari Lamongan (WBL).

LAMONGAN, KOMPAS.com – ER dan MSAH diamankan pihak kepolisian dengan dibantu warga, usai melakukan pelemparan pos lalu lintas ( pos lantas) di kawasan Wisata Bahari Lamongan (WBL) di Kecamatan Paciran, Lamongan, Selasa (20/11/2018) dini hari.

Polisi pun sudah melakukan serangkaian pemeriksaan dan penyidikan terkait hal tersebut.

Dalam pengembangan kasus berupa penggeledahan yang dilakukan di kediaman kedua pelaku, polisi menemukan beberapa dokumen dan buku tentang radikalisme.


Kapolres Lamongan AKBP Feby DP Hutagalung mengatakan, antara ER dan MSAH sudah saling kenal sejak beberapa bulan sebelum mereka terlibat dalam pelemparan di pos lantas tersebut lantaran memiliki akidah atau kepercayaan yang sama.

“Menurut keterangan Eko (ER), mereka saling mengenal itu saat acara ibadah di musholla, di salah satu musholla di Lamongan, mungkin tiga atau empat bulan lalu. Karena memiliki akidah yang sama, memiliki satu konsep yang sama, mereka pun akrab,” ujar Feby, Rabu (21/11/2018).

Baca juga: Soal Penghargaan Bripka AA, Kapolres Lamongan Serahkan kepada Pimpinan

Sejak perkenalan tersebut, menurut Feby yang didasarkan dari pengakuan pelaku, baik ER dan MSAH sudah beberapa kali merencanakan aksi anarkis. Utamanya, aksi anarkis kepada pihak kepolisian.

“Makanya beberapa kali mereka sempat melakukan perancangan-perancangan, seperti penyerangan pos lantas karena adanya kesamaan itu, sehingga itu terjadi. Tiga sampai empat bulan perencanaan. Tapi untuk detailnya, kami akan kembali periksa,” jelasnya.

Feby juga tidak menampik, dari hasil pemeriksaan yang dilakukan terhadap pelaku, mereka juga sempat melakukan aksi pelemparan sebelumnya.

Hanya saja, saat itu kaca pos lantas di WBL tidak sampai pecah dan hanya mengalami retak.

“Sebelumnya sempat melakukan hal yang sama di pos lantas di Lamongan, tapi tidak menyebabkan kerusakan, hanya retak saja. Dan itu tidak diketahui polisi, karena pada saat itu pos sedang kosong. Mereka sengaja membuat agar polisi terteror dan merasa takut,” kata dia.

Feby lantas menambahkan, pihaknya sejauh ini sudah berusaha untuk meminimalisir dan mencegah adanya tindak anarkis maupun radikal di wilayah Lamongan.

Menurut dia, ER dan MSAH, dalam hal ini, telah salah terkait pemahaman agama yang diyakini.

“Ada pemahaman yang salah terkait keagamaan mereka. Keberadaan kami di sini akan melakukan evaluasi untuk melakukan pencegahan. Sebenarnya (upaya pencegahan) sudah kami lakukan jauh hari, dengan menghimbau kepada warga supaya melaporkan bila menemui hal-hal yang mencurigakan di lingkungannya,” tutur dia.

“Bagi yang mengetahui hal-hal yang dianggap menyimpang dan radikal, agar diinformasikan segera, baik ke pemerintahan setempat, TNI, maupun kami (polisi). Kami juga sudah koordinasi dengan tokoh-tokoh agama, baik NU (Nahdlatul Ulama), Muhammadiyah, yang memang mempunyai rasa memiliki dan terdorong untuk meluruskan hal itu,” pungkasnya.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X