Satu Tungku Tiga Batu, Penguat Toleransi di Fakfak, Papua Barat

Kompas.com - 19/11/2018, 20:05 WIB
Anak-anak Pondok Baca Brongkendik Distrik Fakfak Tengah Kabupaten Fakfak menggunakan kebaya setelah menari untuk menyambut tamu yang datang di kampungnyaKOMPAS.COM/IRA RACHMAWATI Anak-anak Pondok Baca Brongkendik Distrik Fakfak Tengah Kabupaten Fakfak menggunakan kebaya setelah menari untuk menyambut tamu yang datang di kampungnya

Namun, menurut Fauzhya, filosofi satu tungku tiga batu bukan hanya dipraktikkan dalam kehidupan sosial, tetapi juga di lingkungan keluarga, yaitu dalam anggota keluarga dalam satu nama marga memeluk agama yang berbeda.

“Marga saya Uswanas beragama Islam, tapi ada saudara saya yang beragama lain tetapi juga menggunakan marga Uswanas. Hal ini sangat tidak jadi masalah. Kalaupun ada yang berpindah agama, nama marga masih bisa tetap digunakan. Inilah yang disebut satu tungku tiga batu, ada beberapa agama dalam satu marga keluarga,” jelas Fauzhya.

Folosofi etnis Mbaham Matta Wuh

Buku Jati Diri Perempuan Asli Fakfak yang ditulis Ina Samosir Lefaan dan Heppy Leunard Lelapary menjelaskan, filosofi satu tungku tiga batu adalah pengejawantahan dari filsafat hidup etnis Mbaham Matta Wuh yang disebut “Ko, on, kno mi mbi du Qpona” yang artinya adalah kau, saya dengan dia bersaudara. Filosofi ini mengarah kepada adat, agama dan pemerintah.

 

Etnis Mbaham Matta Wuh adalah masyarakat adat tertua yang ada di Kabupaten Fakfak Provinsi Papua. Fakfak juga menjadi salah satu kota tertua di provinsi tersebut.

Halaman:
Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Terkini Lainnya

Close Ads X