Satu Tungku Tiga Batu, Penguat Toleransi di Fakfak, Papua Barat

Kompas.com - 19/11/2018, 20:05 WIB
Fauzhya (berkacamata) sedang mengajar membaca di salah satu distrik di Fakfak, Papua Barat.KOMPAS.COM/IRA RACHMAWATI Fauzhya (berkacamata) sedang mengajar membaca di salah satu distrik di Fakfak, Papua Barat.

FAKFAK, KOMPAS.com – Beberapa bocah perempuan mengenakan kebaya dominan berwarna putih dan kain bawahan batik menari di halaman gereja.

Mereka menari dengan gembira diiringi alat musik pukul yang dimainkan oleh beberapa bocah laki-laki untuk menyambut tamu yang datang di Pondok Baca Brongkendik, perpustakaan kampung di Distrik Fakfak Tengah, Kabupaten Fakfak, Papua Barat, pada akhir Agustus 2018.

Pondok Baca Brongkendik berada tepat di sebelah gereja. Setelah selesai menari, mereka bermain di halaman gereja yang cukup luas.

Reki Remos Siner (37), pengelola pondok baca kepada Kompas.com mengatakan, mereka diperbolehkan memanfaatkan halaman gereja untuk aktivitas pondok baca yang telah didirikan sejak tahun 2008.


“Pihak gereja mengizinkan kami untuk menggunakan halaman gereja untuk aktivitas rumah baca. Tapi jika ada ibadah, ya kami berhenti,” jelas Reki.

Saat ini, ada sekitar 50-an anak yang berasal dari tiga desa di Distrik Fakfak Tengah yang aktif bergabung di rumah baca tersebut. Walaupun bersebelahan dengan gereja, pondok baca tersebut terbuka untuk semua anak yang ada di distrik itu.

“Pondok baca ini milik kampung jadi semua bisa gabung. Dari semua agama. Kami tidak pernah membeda-bedakan. Apalagi kami memegang prinsip satu tungku tiga batu yang dari suku besar Mbahham Matta Wuh yang mendiami jazirah Onim Fakfak sejak dulu,” jelas Reki.

Baca juga: Menjaga Toleransi di Tenjowaringin Tasikmalaya

Lelaki yang memeluk agama Kristen tersebut mengaku filosofi satu tungku tiga batu tersebut dikenalkan secara turun temurun oleh nenek moyang mereka sebagai dasar kerukunan di Fakfak Papua Barat. Tungku adalah simbol dari kehidupan, sedangkan tiga batu adalah simbol dari "kau", "saya" dan "dia" yang membuhul perbedaan baik agama, suku, status sosial dalam satu wadah persaudaraan.

“Banyak kerabat, kawan saya yang muslim dan kami baik-baik saja. Hidup berdampingan, tidak pernah ada masalah besar yang disebabkan keyakinan yang berbeda,” kata Reki sambil tersenyum.

Ia menceritakan di keluarga istrinya jika berpindah agama, maka akan tetap menggunakan nama marga sebagai bentuk identitas. Hanya saja mereka akan mendapatkan nama baru sesuai agama yang mereka ikuti.

Hal senada juga dijelaskan oleh Fauzhya (26), warga kompleks Pantai Raja Fakfak. Perempuan berjilbab tersebut menjelaskan, filosofi satu tungku tiga batu secara spontan mengajarkan bahwa perbedaan justru menjadi sarana untuk menyatukan.

”Nyaris kami tidak pernah bahkan tidak ada waktu untuk membeda-bedakan agama satu dengan yang lain. Satu tungku tiga batu ini senafas dengan Bhineka Tunggal Ika,” jelasnya.

Halaman:
Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Terkini Lainnya

Syukur Warga Samosir yang Anak-anaknya Masih Belajar Pakai Lampu Teplok

Syukur Warga Samosir yang Anak-anaknya Masih Belajar Pakai Lampu Teplok

Regional
Akun Lisa Marlina Sebut Pelecehan Seks di Bali Biasa, Ni Luh Djelantik Lapor Polisi

Akun Lisa Marlina Sebut Pelecehan Seks di Bali Biasa, Ni Luh Djelantik Lapor Polisi

Regional
Preman Tewas Ditembak setelah Palak Truk, Sopirnya Ternyata Polisi

Preman Tewas Ditembak setelah Palak Truk, Sopirnya Ternyata Polisi

Regional
Didi Kempot, The Godfather of Broken Heart Asal Solo yang Ciptakan 800 Lagu

Didi Kempot, The Godfather of Broken Heart Asal Solo yang Ciptakan 800 Lagu

Regional
Cerita Lilik Gantikan Nazar Amien Rais, Idolakan Wayang Sengkuni hingga Hati Geram

Cerita Lilik Gantikan Nazar Amien Rais, Idolakan Wayang Sengkuni hingga Hati Geram

Regional
Jenazah Perempuan yang Diduga Korban Pembunuhan di Sukabumi Tiba di Rumah Duka

Jenazah Perempuan yang Diduga Korban Pembunuhan di Sukabumi Tiba di Rumah Duka

Regional
[POPULER NUSANTARA] Lilik Gantikan Nazar Amien Rais | Viral Kicauan Lisa Marlina tentang Bali

[POPULER NUSANTARA] Lilik Gantikan Nazar Amien Rais | Viral Kicauan Lisa Marlina tentang Bali

Regional
Upaya Menyelamatkan Anisa, TKW yang Disiksa Majikan Malaysia hingga Gigi Rontok

Upaya Menyelamatkan Anisa, TKW yang Disiksa Majikan Malaysia hingga Gigi Rontok

Regional
Ditemukan Reruntuhan Diduga Ruang Tamu Istana Kesultanan Banten

Ditemukan Reruntuhan Diduga Ruang Tamu Istana Kesultanan Banten

Regional
Keluarga Nunung di Solo: Tak Sangka Orang Sebaik Mama Nunung Pakai Sabu...

Keluarga Nunung di Solo: Tak Sangka Orang Sebaik Mama Nunung Pakai Sabu...

Regional
Kisah Pilu TKW Turini, Tak Digaji 21 Tahun hingga 'Dipenjara' Dalam Rumah

Kisah Pilu TKW Turini, Tak Digaji 21 Tahun hingga "Dipenjara" Dalam Rumah

Regional
Harapan Sang Taruna yang Berujung Maut di Sekolah Impian

Harapan Sang Taruna yang Berujung Maut di Sekolah Impian

Regional
6 Fakta Baru Kebakaran Hutan Gunung Panderman, 60 Hektar Dilalap Api hingga Semua Pendaki Selamat

6 Fakta Baru Kebakaran Hutan Gunung Panderman, 60 Hektar Dilalap Api hingga Semua Pendaki Selamat

Regional
Ini Nama 50 Anggota DPRD Kota Bandung 2019-2024

Ini Nama 50 Anggota DPRD Kota Bandung 2019-2024

Regional
Terungkap, Identitas Mayat Perempuan Nyaris Tanpa Busana di Sukabumi

Terungkap, Identitas Mayat Perempuan Nyaris Tanpa Busana di Sukabumi

Regional
Close Ads X