Menjaga Toleransi di Tenjowaringin Tasikmalaya

Kompas.com - 16/11/2018, 11:28 WIB
Amatul Shaffa (17) dan Shifa Risnasari (17) siswa SMA Plus Al Wahid tengah swafoto. Mereka bersahabat sejak beberapa tahun lalu. KOMPAS.com/RENI SUSANTI Amatul Shaffa (17) dan Shifa Risnasari (17) siswa SMA Plus Al Wahid tengah swafoto. Mereka bersahabat sejak beberapa tahun lalu.


TASIKMALAYA, KOMPAS.com – Pergantian jam pelajaran SMA Plus Al-Wahid di Tenjowaringin, Tasikmalaya, riuh.

Sejumlah siswa dan guru keluar ruangan. Ada yang ke toilet, berganti pakaian olah raga, atau hanya mengobrol di dalam kelas.

Di antara mereka terlihat Mufid Ahmad Yusuf (18) dan Taufik Hidayat (17). Mereka tengah asyik mengobrol dan tertawa sambil menyiapkan buku pelajaran.

“Taufik itu pecicilan, enggak bisa diam, anaknya rame, jadinya cepat akrab,” ujar Mufid kepada Kompas.com, belum lama ini.

Taufik baru sekolah di SMA Al-Wahid satu tahun. Ia dipindahkan dari Makassar karena dinilai nakal oleh sang ayah. Awalnya Taufik menolak. Namun baru beberapa minggu di Al-Wahid ia merasa betah.

“Sekarang udah enggak nakal lagi. Apalagi ada sahabat saya ini, Mufid dan beberapa orang lainnya,” ucap Taufik sambil terkekeh.

Baca juga: Toleransi Jadi Dasar Inovasi dan Kreativitas

Kedekatan Taufik dengan Mufid dan beberapa teman lainnya tidak hanya berlangsung di sekolah. Di luar sekolah mereka kerap belajar dan bermain bersama.

“Seringnya main PS, apalagi kalau dah suntuk belajar. Kadang saya juga nginap di tempatnya Mufid,” tutur Taufik yang berharap sahabatnya itu ikut kuliah di Yogyakarta bersama dirinya.

Bukan hanya Mufid dan Taufik, persahabatan lainnya terjalin di sekolah ini, seperti yang dialami Amatul Shaffa (17) dan Shifa Risnasari (17).

“Kami satu SMP, tapi baru bersahabat pas SMA. Dari kelas 1 kami sebangku,” ungkap Shaffa.

Mereka cukup terkenal di sekolah. Di mana ada Shaffa di situ pasti ada Shifa, dan itu terjadi pula di luar sekolah. Keduanya kerap bermain bersama, saling curhat, dan berkunjung ke rumah masing-masing.  

SMA Al-Wahid memiliki 256 siswa terdiri dari warga Ahmadi dan non Ahmadi. Para siswa bersahabat satu sama lain, seperti yang terjadi pada persahabatan Mufid dan Taufik maupun Shaffa dan Shifa.

 

Sama seperti sekolah lainnya, mereka mengikuti kurikulum nasional 2013.

“Sekolah kami terbuka untuk umum. Siapa pun boleh sekolah di sini,” ujar Kepala SMA Al Wahid Luki Abdurrahman.

Halaman:


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Close Ads X