Risma Sebut Penertiban PKL di Gembong yang Berlangsung Ricuh Demi Keadilan

Kompas.com - 14/11/2018, 15:16 WIB
Penertiban yang dilakukan Satpol PP Kota Surabaya terhadap pedagang kaki lima di Jalan Kapasari atau Gembong, Surabaya, Senin (12/11/2018), berakhir ricuh. KOMPAS.com/GHINAN SALMANPenertiban yang dilakukan Satpol PP Kota Surabaya terhadap pedagang kaki lima di Jalan Kapasari atau Gembong, Surabaya, Senin (12/11/2018), berakhir ricuh.

SURABAYA, KOMPAS.com - Bentrok antara pedagang dan Satpol PP di kawasan Jalan Kapasari atau Gembong, Surabaya, Senin (12/11/2018) lalu, membuat Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini atau Risma angkat bicara.

Risma memastikan bahwa penertiban pedagang kaki lima (PKL) di Jalan Kapasari atau Gembong itu murni untuk keadilan.

Alasannya, sudah beberapa tahun lalu, pemilik rumah di sepanjang jalan itu tidak bisa leluasa keluar masuk rumahnya karena ditutup oleh PKL yang berjualan di area tersebut.


"Itu sudah beberapa tahun (digunakan PKL) sampai kasihan aku sama pemilik rumah. Pemilik rumah ini sudah bayar pajak, bayar PBB, tapi kemudian tidak bisa banyak yang meninggalkan rumahnya dan tidak bisa membuka usahanya. Saya mohon ini untuk keadilan. Saya mohon pengertiannya, itu banyak usahanya yang mati,” kata Risma.

Baca juga: Surabaya Bertransformasi Jadi Kota Industri Kreatif di Asia

Menurut Risma, meski Pemkot Surabaya menertibkan PKL di kawasan Jalan Kapasari, pemkot juga telah menyiapkan sentra baru bagi PKL di Gembong Asih.

Apabila sentra baru bagi PkL saat ini masih sepi, kata Risma, itu hal yang biasa terjadi. Namun, Risma yakin ke depannya sentra PKL itu akan ramai.

"Kalau sekarang masih sepi, ya biasalah. Dulu di Keputran juga awalnya begitu, tapi sekarang sudah puluhan juta penghasilannya. Pasar ikan di Gunungsari juga begitu, tapi coba sekarang dilihat," tutur dia.

Wali kota perempuan pertama di Kota Surabaya ini juga memastikan bahwa yang boleh masuk ke sentra PKL itu hanyalah PKL warga Kota Surabaya.

Ia menyatakan, tidak bisa memasukkan PKL warga luar Surabaya ke sentra PKL. Alasannya, karena di sentra PKL itu gratis dan merupakan aset Pemkot Surabaya.

"Jadi, itu masalahnya. Tidak bisa aku memasukkan. Itu untuk warga Surabaya dan sudah dihitung semuanya. Saya mohon lah sekali lagi pengertiannya," kata Risma.

Baca juga: Polisi Gerebek Pesta Mabuk Lem Anak-anak di Surabaya

Kendati demikian, Risma mengakui bahwa ke depan tanggung jawabnya dalam menertibkan PKL dan mengembalikan fungsi jalan masih menyisakan pekerjaan rumah (PR).

Risma menyebut masih berusaha untuk mengatur PKL di sekitar Tugu Pahlawan dan juga pasar di Wonokromo.

"Kalau yang PT Iglas menang (dari kasasi), maka Pasar Wonokromo yang malam itu bisa dimasukkan ke situ, pabrik karung juga bisa. Kalau sudah masuk, maka tidak akan lagi diusir oleh Satpol PP dan tidak akan diobrak-obrak lagi," imbuh Risma.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Potre Koning, Seni Lingkungan, dan Tiga Seniman

Potre Koning, Seni Lingkungan, dan Tiga Seniman

Regional
4 Pembunuh Korban Penculikan di Surabaya Ditangkap, 2 Masih Buron

4 Pembunuh Korban Penculikan di Surabaya Ditangkap, 2 Masih Buron

Regional
ASN Pemkot Padang Terjaring OTT Saber Pungli Terkait Pengurusan BPHTB

ASN Pemkot Padang Terjaring OTT Saber Pungli Terkait Pengurusan BPHTB

Regional
Fakta Dua Nenek Kakak-Beradik yang Setia Tingal Bersama, Buta dan Jual Barang untuk Makan

Fakta Dua Nenek Kakak-Beradik yang Setia Tingal Bersama, Buta dan Jual Barang untuk Makan

Regional
Perjuangan Petugas Padamkan Karhutla di OKI, Lokasi Sangat Jauh dan Motor Digotong Seberangi Kanal

Perjuangan Petugas Padamkan Karhutla di OKI, Lokasi Sangat Jauh dan Motor Digotong Seberangi Kanal

Regional
Kronologi Pasutri di Cianjur Tewas Digigit Ular Menurut Warga

Kronologi Pasutri di Cianjur Tewas Digigit Ular Menurut Warga

Regional
7 Fakta Remaja 17 Tahun Jadi Tulang Punggung karena Ayah dan Ibu Tewas Digigit Ular, Kerja Serabutan Agar Adik Tetap Sekolah

7 Fakta Remaja 17 Tahun Jadi Tulang Punggung karena Ayah dan Ibu Tewas Digigit Ular, Kerja Serabutan Agar Adik Tetap Sekolah

Regional
Perusahaan China Siap Investasi Rp 2 Triliun di Aerocity Kertajati

Perusahaan China Siap Investasi Rp 2 Triliun di Aerocity Kertajati

Regional
Kesal Ditagih Utang Minuman Arak, Pemuda Bunuh Kakek dan Lari ke Depok

Kesal Ditagih Utang Minuman Arak, Pemuda Bunuh Kakek dan Lari ke Depok

Regional
Atasi Anak Kecanduan Gawai, Indonesia Harus Belajar ke Jepang

Atasi Anak Kecanduan Gawai, Indonesia Harus Belajar ke Jepang

Regional
Ratusan Personel TNI-Polri Siaga di Mimika Jelang Pelantikan Presiden

Ratusan Personel TNI-Polri Siaga di Mimika Jelang Pelantikan Presiden

Regional
Pasutri Tewas Digigit Ular, Ini Cerita Warga

Pasutri Tewas Digigit Ular, Ini Cerita Warga

Regional
19 Tahun Hidup di 'Dunia Malam' Lokalisasi Sunan Kuning: Saya Sudah Betah di Sini...

19 Tahun Hidup di "Dunia Malam" Lokalisasi Sunan Kuning: Saya Sudah Betah di Sini...

Regional
Kabupaten Lingga Kembali Diselimuti Kabut Asap Kiriman dari Jambi

Kabupaten Lingga Kembali Diselimuti Kabut Asap Kiriman dari Jambi

Regional
Mengenal Sunan Kuning Penyebar Agama Islam di Semarang, Makamnya Ada di Komplek Lokalisasi

Mengenal Sunan Kuning Penyebar Agama Islam di Semarang, Makamnya Ada di Komplek Lokalisasi

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X