5 Fakta Baru Tragedi Lion Air JT 610, Operasi Pencarian Resmi Dihentikan hingga KNKT Siapkan Alat Canggih

Kompas.com - 12/11/2018, 09:43 WIB
Kepala Badan SAR Nasional Marsekal Madya M Syaugi memberikan keterangan kepada awak media di Dermaga JICT 2 Pelabuhan Tanjung Priok, Rabu (7/11/2018).KOMPAS.com/Ardito Ramadhan D Kepala Badan SAR Nasional Marsekal Madya M Syaugi memberikan keterangan kepada awak media di Dermaga JICT 2 Pelabuhan Tanjung Priok, Rabu (7/11/2018).

KOMPAS.com - Operasi pencarian korban Lion Air JT 610 telah resmi dihentikan. Namun, Kantor Basaranas di Bandung dan Jakarta masih akan tetap menerima laporan terkait korban.

Selain itu, KNKT masih belum memastikan kapan pencarian CVR Lion Air JT 610 akan dihentikan. Sebuah alat canggih baru sedang dipersiapkan untuk melakukan pencarian CVR.

Berikut ini fakta baru pencarian dan penyelidikan kecelakaan Lion Air JT 610.

1. Operasi pencarian korban resmi dihentikan

Anggota Basarnas melakukan persiapan untuk mencari korban jatuhnya pesawat Lion Air JT-610 ke laut, di Pelabuhan Jakarta, 29 Oktober 2018. Pesawat Lion Air tujuan Pangkalpinang tersebut membawa 188 orang.AFP PHOTO/RESMI MALAU Anggota Basarnas melakukan persiapan untuk mencari korban jatuhnya pesawat Lion Air JT-610 ke laut, di Pelabuhan Jakarta, 29 Oktober 2018. Pesawat Lion Air tujuan Pangkalpinang tersebut membawa 188 orang.

Badan SAR Nasional menyudahi operasi pencarian korban jatuhnya pesawat Lion Air PK-LQP penerbangan JT 610, Sabtu (10/11/2018) siang. Kepala Basarnas Marsekal Madya M Syaugi mengatakan, keputusan itu diambil karena bagian tubuh korban yang ditemukan semakin sedikit.

"Kami dari tim SAR Basarnas mengambil keputusan bahwa operasi SAR ini secara terpusat disudahi atau ditutup hari ini," kata Syaugi di Dermaga JICT 2 Pelabuhan Tanjung Priok, Sabtu siang.

Syaugi menyampaikan, operasi pencarian pada Jumat kemarin hanya menghasilkan temuan satu kantong jenazah.

Baca Juga: Operasi Pencarian Korban Lion Air Disudahi

2. Kepala Basarnas meminta maaf kepada keluarga korban

Kepala Badan SAR Nasional menyapa seorang anggota keluarga penunpang Lion air JT 610 di KRI Banjarmasin, Selasa (6/11/2018).KOMPAS.com/Ardito Ramadhan D Kepala Badan SAR Nasional menyapa seorang anggota keluarga penunpang Lion air JT 610 di KRI Banjarmasin, Selasa (6/11/2018).

Kepala Badan SAR Nasional Marsekal Madya M Syaugi meminta maaf kepada keluarga korban jatuhnya pesawat Lion Air PK-LQP penerbangan JT 610 setelah ia menyudahi pencarian korban, Sabtu (10/11/2018).

"Kami juga mohon maaf pada seluruh masyarakat terutama kepada keluarga korban apabila pelaksanaan evakuasi korban ini belum menyenangkan semua pihak," kata Syaugi di Dermaga JICT 2 Pelabuhan Tanjung Priok, Sabtu siang.

Syaugi menyampaikan, pihaknya sudah berupaya sekuat tenaga melakukan pencarian selama tiga belas hari terakhir. Namun, ia mengakui bahwa ada hal-hal yang perlu dievaluasi dari proses pencarian.

"Kami bukan sempurna jadi pasti ada kekurangan ya kami akan evaluasi kekurangan-kekurangan yang ada," ujar dia.

Baca Juga: Hentikan Pencarian Korban Lion Air, Kepala Basarnas Minta Maaf

3. KNKT belum pastikan kapan hentikan pencarian CVR

Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono di Dermaga JICT 2 Pelabuhan Tanjung Priok, Sabtu (10/11/2018).KOMPAS.com/Ardito Ramadhan D Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono di Dermaga JICT 2 Pelabuhan Tanjung Priok, Sabtu (10/11/2018).

Komite Nasional Keselamatan Transportasi ( KNKT) belum memutuskan tenggat waktu pencarian black box berisi cockpit voice recorder milik pesawat Lion Air PK-LQP penerbangan JT 610 yang jatuh di perairan Karawang.

Kendati demikian, Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono menyatakan, proses pencarian black box bisa terhenti karena alasan pendanaan.

"Kami belum tahu sampai kapan pencarian ini bisa kami lakukan, tentunya juga kami harus juga nantinya berpikir masalah biaya karena biaya pencarian black box ini cukup masif," kata Soerjanto di Dermaga JICT 2 Pelabuhan Tanjung Priok, Sabtu (10/11/2018).

Ia menyampaikan, biaya tersebut dibutuhkan untuk mendatangkan alat-alat canggih yang berfungsi mendeteksi letak black box.

Baca Juga: KNKT Belum Tentukan Akhir Pencarian Kotak Hitam Lion Air Berisi CVR

4. KNKT siapkan alat canggih untuk mencari CVR

Pasukan Intai Amfibi, Denjaka, tim investigator dari KNKT Indonesia, Singapuran, serta tim ahli Boeing memeriksa lokasi yang diduga terdapat Cocpit Voice Recorder (CVR) Lion Air JT 610, di perairan Tanjung Karawang, Sabtu (3/11/2018).KOMPAS.com/DAVID PURBA Pasukan Intai Amfibi, Denjaka, tim investigator dari KNKT Indonesia, Singapuran, serta tim ahli Boeing memeriksa lokasi yang diduga terdapat Cocpit Voice Recorder (CVR) Lion Air JT 610, di perairan Tanjung Karawang, Sabtu (3/11/2018).

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) akan kembali menurunkan alat canggih untuk menemukan black box berisi cockpit voice recorder milik pesawat Lion Air PK-LQP penerbangan JT 610.

Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono mengatakan, alat tersebut bernama sub-bottom profiling yang bisa mendeteksi keberadaan black box meski terendam lumpur.

"Ada equipment baru yang on boat-kan di ROV yaitu sub-bottom profiling yang bisa mendeteksi benda-benda di dalam lumpur sampai kedalaman empat meter," kata Soerjanto di Dermaga JICT 2 Pelabuhan Tanjung Priok, Sabtu (10/11/2018).

Soerjanto menyatakan, alat tersebut belum diterjunkan karena saat ini masih dalam proses persiapan di Surabaya. Alat itu diprediksi tiba di lokasi pencarian dalam tiga hari ke depan.

Baca Juga: KNKT Akan Turunkan Alat Canggih Ini untuk Cari "Black Box" Lion Air

5. Dua jenazah berhasil teridentifikasi

Petugas memeriksa satu kantong jenazah yang tiba di Dermaga JICT 2 Pelabuhan Tanjung Priok, Jumat (9/11/2018).Dokumentasi/ Badan SAR Nasional Petugas memeriksa satu kantong jenazah yang tiba di Dermaga JICT 2 Pelabuhan Tanjung Priok, Jumat (9/11/2018).

Rumah Sakit Polri Kramatjati, Jakarta Timur, kembali berhasil mengidentifikasi dua korban jatuhnya pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT 610 registrasi PK-LQP.

Kepala Disaster Victim Identification (DVI) Kombes Pol Lisda Cancer mengatakan, identitas dua korban ini diketahui dari hasil sidang rekonsiliasi pada Sabtu (10/11/2018).

"Hasil sidang rekonsiliasi pada hari Sabtu, tanggal 10 November, pukul 11.00, di RS Bhayangkara Tk 1 RS Soekanto, ada dua penumpang yang dinyatakan teridentifikasi," ujar Lisda melalui keterangan tertulis.

Dengan bertambahnya dua korban yang teridentifikasi, total ada 79 penumpang yang telah diketahui identitasnya.

"Hingga saat ini, penumpang yang telah teridentifikasi sebanyak 79 penumpang dengan rincian 59 laki-laki dan 20 perempuan," kata Lisda, Sabtu (10/11/2018).

Dua penumpang Lion Air JT 610 yang teridentifikasi adalah Rivandi Pranata (28) dan  Joyo Nuroso (50).

Baca Juga: 2 Penumpang Lion Air JT 610 Teridentifikasi Lagi, Berikut Identitasnya

Sumber: KOMPAS.com ( Nursita Sari, Ardito Ramadhan)

 


Terkini Lainnya


Close Ads X