Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 11/11/2018, 12:08 WIB

KULON PROGO, KOMPAS.com - Mbah Dono (60), warga Kota Yogyakarta, menarik gendewa (bahasa Jawa dari busur) dan melepaskan anak panah.

Satu dari lima anak panah yang ia lesatkan itu menembus bagian bandulan yang berwarna putih. Terdengar kerincingan bergerincing nyaring ketika salah satu anak panah menembus bandul.

Mbah Dono tampak gagah dalam balutan surjan warna krem, jarit, blangkon, dan slop. Baju adat jawa itu lengkap dengan keris di pinggul. Ketika memanah, ia duduk menyamping sambil bersila. Cara dan busana begini tak mengganggu Mbah Dono memanah akurat.

Baca juga: Cerita Pilu Sahluki Lihat Putrinya Tersambar Kereta Saat Tonton Surabaya Membara

Dia tidak seorang diri. Ada lebih 100 orang yang bersamaan melakukan hal serupa, duduk bersila, dan melepas panah berbarengan.

Mereka sedang terlibat titis-titisan (akurat) memanah di sebuah perhelatan Gladhen Jemparingan Hari Pahlawan di Kampung Jemparingan Mataraman di Pedukuhan Pengasih, Kecamatan Pengasih, Kulon Progo. Jemparingan sebutan bagi olahraga tradisional memanah ini.

Selain berbusana adat, jemparingan dilakukan sambil bersila. Mereka mengadu kemampuan siapa paling jago memanah tepat sasaran. KOMPAS.com/ DANI J Selain berbusana adat, jemparingan dilakukan sambil bersila. Mereka mengadu kemampuan siapa paling jago memanah tepat sasaran.
Memanah di sini sebenarnya bukan sekadar adu titis atau siapa paling jago dalam menancapkan busur ke bandulan bergerincing sebagai sasarannya. Mereka memanah biasanya sebanyak 20 rambahan (putaran atau babak). Dalam tiap rambahan, satu pemanah punya kesempatan melesatkan 5 anak panah.

Bandulan jadi target. Jaraknya antara 29-33 meter. Bandulan itu bulat panjang terbikin dari karet tebal diberi warna putih, kuning, dan merah. Bandulan digantung berdiri dan terhubung pada kerincingan. Tiap kali anak panah mengenai bandulan, maka kerincingan bergerincing.

Terdapat karet gabus tebal di belakang bandulan untuk menahan anak panah yang meleset dari sasaran.

Baca juga: Jemparingan Mataraman, Adu Memanah Ala Prajurit Keraton Sambil Ngabuburit

Semakin sering mengenai sasaran, semakin banyak poin terkumpul dan pemanah pun meraih kemenangan.

Inilah keunikan gaya Mataraman. Disebut demikian lantaran aktivitas ini awalnya berkembang di lingkungan keraton Yogyakarta saja. Jemparingan Mataraman ini kemudian berkembang luas, diminati semua kalangan, hingga berkembang sampai berbagai daerah di Indonesia.

"Kenal jemparingan sejak kecil. Sekarang, ketika yang muda-muda muncul, bersyukur sekali berkembang sampai generasi ini," kata Mbah Dono di tengah mengikuti Gladhen Jemparingan Hari Pahlawan ini, Sabtu (10/11/2018).

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

BPKH bersama Dompet Dhuafa Bagikan 250 Kitchen Kit untuk Penyintas Gempa Cianjur

BPKH bersama Dompet Dhuafa Bagikan 250 Kitchen Kit untuk Penyintas Gempa Cianjur

Regional
Gubernur Sulsel Nilai Keberhasilan Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Karena Kepimimpinan Jokowi

Gubernur Sulsel Nilai Keberhasilan Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Karena Kepimimpinan Jokowi

Regional
Pemkot Semarang Luncurkan BUMP, Plt Walkot Ita Harap Kesejahteraan Petani Meningkat

Pemkot Semarang Luncurkan BUMP, Plt Walkot Ita Harap Kesejahteraan Petani Meningkat

Regional
Kisah Agus Falahudin, Penyintas Gempa Cianjur yang Gotong Royong Bangun Huntara

Kisah Agus Falahudin, Penyintas Gempa Cianjur yang Gotong Royong Bangun Huntara

Regional
Tanggapi Keluhan Masyarakat, Pemkot Semarang dan BBWS Tangani Timbunan Sampah di Kampung Nelayan Tambakrejo

Tanggapi Keluhan Masyarakat, Pemkot Semarang dan BBWS Tangani Timbunan Sampah di Kampung Nelayan Tambakrejo

Regional
Dompet Dhuafa Gandeng Beramaljariyah dan Evermos Salurkan Al-Qur'an dan Alat Salat

Dompet Dhuafa Gandeng Beramaljariyah dan Evermos Salurkan Al-Qur'an dan Alat Salat

Regional
LKPP Gandeng Telkom Gagas Platform Baru Pengadaan Barang/Jasa

LKPP Gandeng Telkom Gagas Platform Baru Pengadaan Barang/Jasa

Regional
Songsong Kemajuan Desa, BUMDes Wadas Studi Banding ke 4 Desa Sekaligus

Songsong Kemajuan Desa, BUMDes Wadas Studi Banding ke 4 Desa Sekaligus

Regional
BERITA FOTO: Banjir Terjang Aceh Utara, 11.000 Warga Mengungsi

BERITA FOTO: Banjir Terjang Aceh Utara, 11.000 Warga Mengungsi

Regional
Plt Walkot Semarang Optimistis Capai Target Nol Kasus Stunting pada 2023

Plt Walkot Semarang Optimistis Capai Target Nol Kasus Stunting pada 2023

Regional
Pelayanan Publik Jateng Diapresiasi Ombudsman RI, Ganjar: Saya Senang

Pelayanan Publik Jateng Diapresiasi Ombudsman RI, Ganjar: Saya Senang

Regional
Kisah Haru Nenek Berusia 90 Tahun Alami Kelumpuhan, Selamat Berkat Kartu Jateng Sejahtera

Kisah Haru Nenek Berusia 90 Tahun Alami Kelumpuhan, Selamat Berkat Kartu Jateng Sejahtera

Regional
Tahun 2023, Pemkot Balikpapan Fokus pada Pendidikan, Kesehatan, dan Infrastruktur

Tahun 2023, Pemkot Balikpapan Fokus pada Pendidikan, Kesehatan, dan Infrastruktur

Regional
Per September 2022, Angka Kemiskinan di Jateng Turun 0,27 Persen

Per September 2022, Angka Kemiskinan di Jateng Turun 0,27 Persen

Regional
Mewaspadai Generasi Shortcut dan Nirmoral

Mewaspadai Generasi Shortcut dan Nirmoral

Regional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.