Jemparingan, tentang Perasaan yang Tak Pernah Menipu dan Indahnya Silaturahim Halaman 1 - Kompas.com

Jemparingan, tentang Perasaan yang Tak Pernah Menipu dan Indahnya Silaturahim

Kompas.com - 11/11/2018, 12:08 WIB
Beragam cara dilakukan oleh berbagai pihak untuk menyemarakkan sekaligus meneladani perjuangan para pahlawan sebelum dan sesudah kemerdekaan Republik Indonesia. Salah satunya dilakukan oleh ratusan orang yang memanah gaya kerajaan Mataram di Kampung Jemparingan Mataraman di Pedukuhan Pengasih, Kecamatan Pengasih, Sabtu (10/11/2018) kemarin. KOMPAS.com/ DANI J Beragam cara dilakukan oleh berbagai pihak untuk menyemarakkan sekaligus meneladani perjuangan para pahlawan sebelum dan sesudah kemerdekaan Republik Indonesia. Salah satunya dilakukan oleh ratusan orang yang memanah gaya kerajaan Mataram di Kampung Jemparingan Mataraman di Pedukuhan Pengasih, Kecamatan Pengasih, Sabtu (10/11/2018) kemarin.

KULON PROGO, KOMPAS.com - Mbah Dono (60), warga Kota Yogyakarta, menarik gendewa (bahasa Jawa dari busur) dan melepaskan anak panah.

Satu dari lima anak panah yang ia lesatkan itu menembus bagian bandulan yang berwarna putih. Terdengar kerincingan bergerincing nyaring ketika salah satu anak panah menembus bandul.

Mbah Dono tampak gagah dalam balutan surjan warna krem, jarit, blangkon, dan slop. Baju adat jawa itu lengkap dengan keris di pinggul. Ketika memanah, ia duduk menyamping sambil bersila. Cara dan busana begini tak mengganggu Mbah Dono memanah akurat.

Baca juga: Cerita Pilu Sahluki Lihat Putrinya Tersambar Kereta Saat Tonton Surabaya Membara

Dia tidak seorang diri. Ada lebih 100 orang yang bersamaan melakukan hal serupa, duduk bersila, dan melepas panah berbarengan.

Mereka sedang terlibat titis-titisan (akurat) memanah di sebuah perhelatan Gladhen Jemparingan Hari Pahlawan di Kampung Jemparingan Mataraman di Pedukuhan Pengasih, Kecamatan Pengasih, Kulon Progo. Jemparingan sebutan bagi olahraga tradisional memanah ini.

Selain berbusana adat, jemparingan dilakukan sambil bersila. Mereka mengadu kemampuan siapa paling jago memanah tepat sasaran. KOMPAS.com/ DANI J Selain berbusana adat, jemparingan dilakukan sambil bersila. Mereka mengadu kemampuan siapa paling jago memanah tepat sasaran.
Memanah di sini sebenarnya bukan sekadar adu titis atau siapa paling jago dalam menancapkan busur ke bandulan bergerincing sebagai sasarannya. Mereka memanah biasanya sebanyak 20 rambahan (putaran atau babak). Dalam tiap rambahan, satu pemanah punya kesempatan melesatkan 5 anak panah.

Bandulan jadi target. Jaraknya antara 29-33 meter. Bandulan itu bulat panjang terbikin dari karet tebal diberi warna putih, kuning, dan merah. Bandulan digantung berdiri dan terhubung pada kerincingan. Tiap kali anak panah mengenai bandulan, maka kerincingan bergerincing.

Terdapat karet gabus tebal di belakang bandulan untuk menahan anak panah yang meleset dari sasaran.

Baca juga: Jemparingan Mataraman, Adu Memanah Ala Prajurit Keraton Sambil Ngabuburit

Semakin sering mengenai sasaran, semakin banyak poin terkumpul dan pemanah pun meraih kemenangan.

Inilah keunikan gaya Mataraman. Disebut demikian lantaran aktivitas ini awalnya berkembang di lingkungan keraton Yogyakarta saja. Jemparingan Mataraman ini kemudian berkembang luas, diminati semua kalangan, hingga berkembang sampai berbagai daerah di Indonesia.

"Kenal jemparingan sejak kecil. Sekarang, ketika yang muda-muda muncul, bersyukur sekali berkembang sampai generasi ini," kata Mbah Dono di tengah mengikuti Gladhen Jemparingan Hari Pahlawan ini, Sabtu (10/11/2018).


Page:

Terkini Lainnya

PT MRT Buka Kesempatan UMKM Berbisnis di Stasiun Mereka

PT MRT Buka Kesempatan UMKM Berbisnis di Stasiun Mereka

Megapolitan
Diperiksa Bawaslu, TKN Bantah Jokowi Kampanye di Deklarasi Alumni Universitas Negeri

Diperiksa Bawaslu, TKN Bantah Jokowi Kampanye di Deklarasi Alumni Universitas Negeri

Megapolitan
Nasdem Minta Bupati Mesuji yang Kena OTT KPK Mundur atau Diberhentikan

Nasdem Minta Bupati Mesuji yang Kena OTT KPK Mundur atau Diberhentikan

Regional
Pemkot Depok Siapkan 130 Sekolah untuk Terima Siswa Berkebutuhan Khusus

Pemkot Depok Siapkan 130 Sekolah untuk Terima Siswa Berkebutuhan Khusus

Megapolitan
Boeing Klaim Sukses Gelar Uji Terbang Taksi Udara Otonom Pertama

Boeing Klaim Sukses Gelar Uji Terbang Taksi Udara Otonom Pertama

Internasional
Pemerintah Impor 30.000 Ton Jagung, Buwas Jamin Tak Ganggu Produksi Panen Februari-Maret

Pemerintah Impor 30.000 Ton Jagung, Buwas Jamin Tak Ganggu Produksi Panen Februari-Maret

Nasional
KPK Perpanjang Masa Penahanan 4 Tersangka Kasus Suap DPRD Kalteng

KPK Perpanjang Masa Penahanan 4 Tersangka Kasus Suap DPRD Kalteng

Nasional
12 Lampu Solar Cell di Jalur Pendakian Gunung Ijen Raib Dicuri

12 Lampu Solar Cell di Jalur Pendakian Gunung Ijen Raib Dicuri

Regional
Bagaimana Media Asing Mengabarkan Pembebasan Ahok

Bagaimana Media Asing Mengabarkan Pembebasan Ahok

Internasional
Sudin Dukcapil Jakpus Lakukan Pelayanan Administrasi di RPTRA

Sudin Dukcapil Jakpus Lakukan Pelayanan Administrasi di RPTRA

Megapolitan
Dua Pemeran Video Mesum Viral di Madiun Sudah Keluar dari Sekolah

Dua Pemeran Video Mesum Viral di Madiun Sudah Keluar dari Sekolah

Regional
Bawaslu Temukan 1.000 Lebih Tabloid Indonesia Barokah di Karawang

Bawaslu Temukan 1.000 Lebih Tabloid Indonesia Barokah di Karawang

Regional
Soal Wacana Pembebasan Ba'asyir, Manajemen Pemerintah Dinilai Buruk

Soal Wacana Pembebasan Ba'asyir, Manajemen Pemerintah Dinilai Buruk

Nasional
Menristek Dikti: Rektor UNG Harus Menindak Mahasiswa Pelaku Kekerasan

Menristek Dikti: Rektor UNG Harus Menindak Mahasiswa Pelaku Kekerasan

Regional
Puting Beliung Rusak Rumah Wakil Ketua DPRD dan Pasar di Maluku Tenggara

Puting Beliung Rusak Rumah Wakil Ketua DPRD dan Pasar di Maluku Tenggara

Regional

Close Ads X