Banjir dan Longsor di Sumbar, Dua Meninggal 100 KK Mengungsi - Kompas.com

Banjir dan Longsor di Sumbar, Dua Meninggal 100 KK Mengungsi

Kompas.com - 10/11/2018, 21:43 WIB
Alat berat membersihkan material banjir berupa kayu dan sampah yang tersangkut di jembatan rel kereta api pasca banjir,  di kelurahan Alai Parak Kopi, Padang, Sumatera Barat, Sabtu (3/11/2018). Banjir yang melanda Kota Padang dan meluapnya debit air sungai mengakibatkan belasan rumah rusak dan dua jembatan putus.  ANTARA FOTO/Muhammad Arif Pribadi/hp.ANTARAFOTO/Muhammad Arif Pribadi Alat berat membersihkan material banjir berupa kayu dan sampah yang tersangkut di jembatan rel kereta api pasca banjir, di kelurahan Alai Parak Kopi, Padang, Sumatera Barat, Sabtu (3/11/2018). Banjir yang melanda Kota Padang dan meluapnya debit air sungai mengakibatkan belasan rumah rusak dan dua jembatan putus. ANTARA FOTO/Muhammad Arif Pribadi/hp.

PADANG, KOMPAS.com-Bencana banjir dan longsor kembali menerjang Sumatera Barat. Tiga kabupaten/kota dilaporkan mengalami dampak terparah.

Akibatnya, dua orang meninggal, dua orang luka-luka, satu korban hanyut belum ditemukan dan 100 KK mengungsi ke wilayah terdekat.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho merilis, longsor terjadi di Desa Sintuak Nareh Kecamatan Pariaman Utara Kota Pariaman, Jumat (9/11/2018) dan mengakibatkan satu orang meninggal atas nama Sawitri (23) karena diterjang material longsor yang melanda rumahnya.

Sementara penghuni lainnya Sri Wahyuni (16) dan Sahrial (52) hanya mengalami luka-luka.

Baca juga: Banjir Rendam 2 Kecamatan di Aceh Singkil

Tak hanya itu, di Desa Sungai Pandahan Kecamatan Lubuk Sikaping, Kabupaten Pasaman satu orang dilaporkan hanyut dan tim SAR masih dalam upaya pencarian. Banjir menerjang pada Kamis (17/11) lalu.

Sementara itu, Di Pasaman Barat, banjir dan longsor melanda Desa Parik Kecamatan Koto Balingka pada Kamis (7/11) yang menyebabkan satu orang meninggal dunia atas nama Ahmad (10).

Akibat banjir dan longsor tersebut dilaporkan 100 KK mengungsi ke jorong terdekat, dua rumah hanyut, satu musala rusak dan dua jembatan gantung rusak berat.

Terkait bencana ini menurut Sutopo, BPBD setempat telah melakukan beberapa penanganan. Diantaranya melakukan evakuasi, membagikan bantuan, mendirikan dapur umum dan pos darurat.

"Masyarakat diimbau untuk selalu meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan menghadapi banjir, longsor dan puting beliung. Intensitas hujan akan terus meningkat sehingga potensi bencana juga meningkat," terang Sutopo dalam rilisnya, Sabtu (10/11).

Selain itu masyarakat diingatkan untuk tidak melakukan aktivitas saat cuaca mendung atau hujan. Cermati tanda-tanda potensi longsor di sekitar lereng perbukitan.

"Beberapa tanda potensi longsor adalah munculnya retakan, munculnya rembesan atau mata air, pohon miring dan lainnya," tutup Sutopo.



Close Ads X