“Bukan HIV yang Membunuh, Tapi Stigma” (2)

Kompas.com - 06/11/2018, 00:33 WIB
Kepala Puskesmas Ibrahim Adjie (Ibra), S Nurhasi Jati Ningsih. KOMPAS.com/RENI SUSANTIKepala Puskesmas Ibrahim Adjie (Ibra), S Nurhasi Jati Ningsih.


BANDUNG, KOMPAS.com – J (22) duduk dalam antrean sebuah Puskesmas di wilayah Cicaheum, Bandung. Begitu namanya disebut, J masuk ke dalam ruangan yang berisi dokter dan sejumlah perawat.

Dokter kemudian mendekat dan memeriksa J. Begitu melihat berkas pasien, dokter tersebut kaget dan mundur beberapa langkah.

“B20 ya? Kenapa datang kesini? Nanti kalau minta rujukan tidak usah kesini,” ujar J menirukan ucapan tenaga kesehatan saat mengetahui dirinya pasien B20 atau HIV.

J menceritakan, perlakuan diskriminatif dari tenaga kesehatan sempat membuatnya sedih. Sebab bagi penderita HIV seperti dirinya, stigma dari masyarakat saja tidak cukup. Dokter pun, orang yang ia anggap memahami kesehatan, melakukannya.

“Dulu saya pikir bisa ke puskesmas mana saja, kebetulan saya ada di Cicaheum, saya ke puskesmas itu. Tapi sejak dapat perlakuan itu, saya akhirnya ke Puskesmas Ibrahim Adjie atau RSUD Ujungberung jika ada keluhan atau ingin mengambil obat,” ungkapnya.

Klinik Someah

Kepala Puskesmas Ibrahim Adjie (Ibra), S Nurhasi Jati Ningsih mengaku, proses meyakinkan tenaga medis dan staf puskesmas untuk tidak memberikan stigma atau mendiskriminasi pasien HIV memerlukan waktu bertahun-tahun.

Setidaknya, itulah yang terjadi di Puskesmas Ibra. Ia berulang kali menyamakan visi misi dengan pegawai puskesmas mulai dari dokter, bidan, perawat, bagian administrasi, hingga satpam.

“Intinya, saya sampaikan, bahwa kita sedang memutus mata rantai HIV-AIDS. Untuk mencapainya, kita tidak boleh memberikan stigma dan mendiskriminasi pasien B20. Perlakukan mereka seperti pasien biasanya,” ungkapnya.

Baca juga: “Bukan HIV yang Membunuh, Tapi Stigma” (1)

Perempuan yang akrab disapa Ning ini pun mengirimkan dokter, suster, maupun bidan ke pelatihan HIV-AIDS. Bahkan ada yang sengaja diikutsertakan pelatihan konselor HIV-AIDS untuk lebih mengenal HIV-AIDS.

Kemudian di tahun 2013, puskesmas yang dipimpinnya mengambil langkah besar. Puskesmas Ibra menyatakan diri sebagai puskesmas ramah komunitas. Salah satunya dengan mengganti poli HIV-IMS menjadi Klinik Someah agar terdengar lebih akrab.

“Capaiannya tinggi. Dulu kunjungan ke poli HIV-IMS paling hanya 1-2 pasien. Namun di 2017, kunjungan ke Klinik Someah di angka 1.600-an,” ungkap Ning.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X