5 Fakta Perjuangan Dapatkan Air Bersih, Turuni Bukit Terjal hingga Berjalan Kiloan Meter

Kompas.com - 18/10/2018, 19:24 WIB
Warga  Dusun Plarung, Desa  Desa Sawahan, Kecamatan Ponjong, Gunungkidul, Yogyakarta,  Membersihkan Sungai dan Sumber Mata Air Untuk Kembali Mendapatkan Air Bersih Kamis (20/9/2018) Kompas.com/Markus YuwonoWarga Dusun Plarung, Desa Desa Sawahan, Kecamatan Ponjong, Gunungkidul, Yogyakarta, Membersihkan Sungai dan Sumber Mata Air Untuk Kembali Mendapatkan Air Bersih Kamis (20/9/2018)

KOMPAS.com - Musim kemarau melanda sejumlah wilayah di Indonesia. Akibatnya, warga terpaksa berjalan hingga berkilo-kilo jauhnya untuk mendapatkan air.

Tak sedikit warga harus menuruni tebing curam untuk mencapai air bersih untuk keperluan sehari-hari.

Fakta perjuangan warga untuk mendapatkan air bersih terungkap di sini.

1. Jalan dua kilometer setiap hari untuk "ngangsu"

Seorang warga Dusun Kowang, Desa Ngargotirto, Kecamatan Sumberlawang, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah memikul ember berisi air bersih, Jumat (31/8/2018).KOMPAS.com/Labib Zamani Seorang warga Dusun Kowang, Desa Ngargotirto, Kecamatan Sumberlawang, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah memikul ember berisi air bersih, Jumat (31/8/2018).

Dalam empat bulan terakhir, kekeringan melanda Dukuh Kowang, Desa Ngargotirto, Kecamatan Sumberlawang, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah.

Akibatnya, warga harus rela berjalan kaki ke sumur yang berada di area persawahan berjarak sekitar dua kilometer dari tempat tinggal mereka.

"Ada sumur di area persawahan. Tapi jaraknya dari sini (Dukuh Kowang) sekitar dua kilometer," kata Doto (60), warga RT 006/ RW 003, Dusun Kowang, kepada Kompas.com, Jumat (31/8/2018).

Doto pun menceritakan perjuangan warga desanya untuk mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari dan ternak.

Doto berjalan kaki sambil memikul dua ember berukuran 10 liter menggunakan bambu untuk memenuhi kebutuhan air bersih.

"Saya gunakan untuk keperluan memasak, minum, mandi, dan ternak. Saya punya tiga ekor sapi di rumah. Jadi dua hari sekali harus ambil air ke sumur," kata dia.

Selain memanfaatkan air dari sumur, Doto mengaku pernah membeli air bersih dari penjual air bersih di kawasan Sumberlawang. Sebanyak 1.000 liter air bersih dia beli dengan harga Rp 50.000-Rp 60.000.

Baca Juga: Warga di Sragen Rela Jalan Kaki 2 Kilometer untuk Dapatkan Air Bersih

2. Pompa air diterjang banjir, warga mencari air di sungai

Warga saat membawa air dari sungai Kangga, Desa Doridungga, Kecamatan Donggo, Kabupaten Bima, Rabu (6/6/2018)KOMPAS.com/Syarifudin Warga saat membawa air dari sungai Kangga, Desa Doridungga, Kecamatan Donggo, Kabupaten Bima, Rabu (6/6/2018)

Warga Desa Doridungga, Kecamatan Donggo, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), harus menerima kenyataan.

Sejak pompa penyedot air rusak diterjang banjir, mereka harus berjalan kaki lebih dari satu kilometer dengan membawa jeriken untuk mengambil air di Sungai Kangga sebelah utara Desa Doridungga.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Sleman dan Klaten Siap Terima Pengungsi Gunung Merapi Lintas Wilayah

Sleman dan Klaten Siap Terima Pengungsi Gunung Merapi Lintas Wilayah

Regional
179 Siswa SMK Negeri Jateng Terpapar Covid-19, Uji Coba Belajar Tatap Muka Dihentikan

179 Siswa SMK Negeri Jateng Terpapar Covid-19, Uji Coba Belajar Tatap Muka Dihentikan

Regional
Ganjar Minta Penyintas yang Sembuh dari Covid-19 Donorkan Plasma Darah

Ganjar Minta Penyintas yang Sembuh dari Covid-19 Donorkan Plasma Darah

Regional
3 Dokter Kandungan RSD dr Soebandi Positif Covid-19, Berstatus Tanpa Gejala

3 Dokter Kandungan RSD dr Soebandi Positif Covid-19, Berstatus Tanpa Gejala

Regional
Masa Tenang Pilkada, Kepala Daerah di Jateng Diminta Tak Politisasi Program Pemerintah

Masa Tenang Pilkada, Kepala Daerah di Jateng Diminta Tak Politisasi Program Pemerintah

Regional
Suami Pulang Mabuk, Wanita Ini Aniaya dengan Kapak hingga Tewas

Suami Pulang Mabuk, Wanita Ini Aniaya dengan Kapak hingga Tewas

Regional
Perjuangan Dokter Ririn Rawat Pasien Covid-19: Lihat Pasien Sembuh, Itu Sebuah Kepuasan...

Perjuangan Dokter Ririn Rawat Pasien Covid-19: Lihat Pasien Sembuh, Itu Sebuah Kepuasan...

Regional
Ada 74 Klaster Keluarga di Sleman Selama 2 Bulan Terakhir

Ada 74 Klaster Keluarga di Sleman Selama 2 Bulan Terakhir

Regional
Respons Pemkab Gresik Usai Video Keranda Jenazah Dihanyutkan Menyeberangi Sungai Viral

Respons Pemkab Gresik Usai Video Keranda Jenazah Dihanyutkan Menyeberangi Sungai Viral

Regional
Ada Siswa Positif Covid-19, Rencana Sekolah Tatap Muka di Jateng Terancam Ditunda

Ada Siswa Positif Covid-19, Rencana Sekolah Tatap Muka di Jateng Terancam Ditunda

Regional
Mobil Milik Seorang Dokter Tiba-tiba Terbakar di Parkiran RS Pekanbaru

Mobil Milik Seorang Dokter Tiba-tiba Terbakar di Parkiran RS Pekanbaru

Regional
Dirilis KPK sebagai Calon Wakil Kepala Daerah Terkaya, Muhidin: Alhamdulillah

Dirilis KPK sebagai Calon Wakil Kepala Daerah Terkaya, Muhidin: Alhamdulillah

Regional
Tertular dari Dosen, 48 Anak dan Pengurus Panti Asuhan Positif Covid-19

Tertular dari Dosen, 48 Anak dan Pengurus Panti Asuhan Positif Covid-19

Regional
Keluarga Mengamuk dan Tolak Pemakaman Pasien Corona Sesuai Prosedur Covid-19

Keluarga Mengamuk dan Tolak Pemakaman Pasien Corona Sesuai Prosedur Covid-19

Regional
Pengemudi 'Speedboat' yang Tabrakan di Musi Banyuasin Ditemukan Tewas

Pengemudi "Speedboat" yang Tabrakan di Musi Banyuasin Ditemukan Tewas

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X