5 Fakta Studi Ahli Geologi ITS, Potensi Gempa di Surabaya hingga Arahan Mitigasi Bencana

Kompas.com - 16/10/2018, 12:00 WIB
Salah satu rumah milik warga di Desa Gayam, Kecamatan Gayam, Sumenep, yang ambruk setelah terjadi gempa pada Kamis (11/10/2018) dini hari. Dok Kecamatan GayamSalah satu rumah milik warga di Desa Gayam, Kecamatan Gayam, Sumenep, yang ambruk setelah terjadi gempa pada Kamis (11/10/2018) dini hari.

KOMPAS.com - Buku Pusat Gempa Nasional (Pusgen) yang dirilis oleh Kementerian PUPR Pada Oktober 2017, membeberkan peta sumber dan bahaya gempa di Indonesia.

Menurut Amien Widodo, ahli geologi dari Pusat Studi Kebumian, Bencana, dan Perubahan Iklim (PSKBPI) Institut Teknologi Sepuluh Nopember ( ITS) Surabaya, menjelaskan ada dua sumber gempa yang mengancam Jawa Timur, khususnya Surabaya.

Amien dan sejumlah ahli mengusulkan sejumlah langkah untuk mitigasi bencana agar mengantisipasi jatuhnya banyak korban saat gempa benar-benar terjadi.

Berikut ini fakta dari para ahli geologi ITS Surabaya tentang ancaman gempa di Jawa Timur.

1. Tumbukan lempeng tektonik dan sesar aktif

Peta Geologi Kota SurabayaITS Peta Geologi Kota Surabaya

Amien Widodo mengatakan, dua sumber gempa di jawa Timur adalah tumbukan lempeng di selatan Jawa Timur dan sesar aktif di Jawa. Kedua sumber gempa tersebut mengancam wilayah di sebagian besar Jawa Timur dan berpotensi tsunami.

"Gempa akibat tumbukan lempeng dikenal dengan Gempa Megathrust dengan magnitudo maksimum M 8,7 dan berpotensi tsunami melanda pantai selatan Jawa Timur," ujar Amien kepada Kompas.com, Sabtu (13/10/2018).

Untuk sesar aktif di Jawa Timur, terpantau melewati Banyuwangi, Probolinggo, Pasuruan, Surabaya, dan Waru, Caruban, Sidoarjo, Mojokerto, Jombang, dan Nganjuk.

"Sesar aktif di daratan umumnya sangat merusak, hal ini disebabkan besarnya guncangan yang merupakan fungsi kekuatan sumber gempa dan jarak sumber gempa," kata dia. "Walau kekuatan sumber gempanya kecil, kalau letaknya yang dekat di bawah kita, maka guncangannya akan berdampak besar," kata Amien.

Baca Juga: Ada Dua Sesar Aktif di Surabaya, ITS Usulkan Pemetaan Kawasan Risiko Bencana

2. Usulan para ahli 

Kerusakan kontur tanah akibat gempa di Palu akhir September 2018.Humas ITB/ Adi Permana Kerusakan kontur tanah akibat gempa di Palu akhir September 2018.

Melihat ancaman gempa bumi di wilayah Jawa Timur, para ahli mengusulkan untuk segera dilakukan pemetaan jenis tanah.

Menurut Amien, salah satu tujuan pemetaan jenis tanah tersebut adalah untuk pengaturan tata ruang wilayah. Dari pemetaan tersebut akan diketahui tingkat kerawanan sebuah wilayah terhadap gempa bumi.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X