Kisah Bocah-bocah Pengasuh di Sampang, Bersekolah Sambil Mengasuh Adik (1) Halaman 1 - Kompas.com

Kisah Bocah-bocah Pengasuh di Sampang, Bersekolah Sambil Mengasuh Adik (1)

Kompas.com - 12/10/2018, 07:56 WIB
Ismail (11) siswa SDN Palenggiyan 1 sambil mengasuh kedua adiknya di sekolah. Di SDN Palenggiyan 1, anak-anak sekolah sambil mengasuh anak sudah turun temurun. KOMPAS.com/TAUFIQURRAHMAN Ismail (11) siswa SDN Palenggiyan 1 sambil mengasuh kedua adiknya di sekolah. Di SDN Palenggiyan 1, anak-anak sekolah sambil mengasuh anak sudah turun temurun.

SAMPANG, KOMPAS.com - Adzan subuh berkumandang, penduduk Desa Palenggiyan, Kecamatan Kedungdung, Kabupaten Sampang, mulai berduyun-duyun ke masjid setempat untuk shalat berjamaah.

Ismail, bocah berusia sebelas tahun, ikut bergegas menuju masjid yang jaraknya 400 meter dari rumahnya dengan berjalan kaki. Ia sendirian, karena ayahnya Khatib pergi merantau ke Malaysia empat tahun yang silam. Menyusul ibunya tiga tahun berikutnya.

Usai shalat berjamaah di masjid, Ismail segera membangunkan kedua adiknya, Mila (4) dan Dila (3). Bersama kakaknya, Musrifah (14), Ismail memandikan adiknya.

Mila lebih suka dimandikan Ismail, sedangkan Dila lebih senang dimandikan Musrifah. Begitu pula dalam berpakaian, Mila dan Dila lebih suka kepada kakaknya yang sudah memandikannya.

Baca juga: Kisah Siswa SD yang Bawa Adik Sepupunya ke Sekolah...

Remmeh (60) nenek Ismail, mulai menyiapkan sarapan pagi untuk keempat cucunya. Remmeh juga harus siap-siap berangkat ke ladang-ladang di sekitar rumahnya setelah menyiapkan sarapan keempat cucunya, untuk mencari rumput pakan dua sapi ternaknya.

Sebelum memastikan sarapan lengkap, Remmeh belum berangkat ke ladang. Setelah semuanya lengkap, perempuan yang mulai ubanan ini, pergi meninggalkan rumahnya.

Ismail bersama tiga suadaranya, kompak sarapan pagi yang sudah disiapkan oleh neneknya. Menu sarapan mereka berupa nasi jagung, telur goreng. Terkadang ikan laut dicampur sambal dan mie instan rebus.

"Kalau sedang punya beras untuk dimasak, anak-anak bisa sarapan pagi. Kalau tidak ada, mereka disuruh beli jajan di sekolahnya," ujar Remmeh saat ditemui Kompas.com, Kamis (11/10/2018).

Baca juga: Kisah Dokter Fajri: Asli Aceh, Mengabdi di Papua (2)

Usai sarapan, Ismail kemudian bergegas ke sekolahnya di SDN Palenggiyan 1 di Dusun Tebbes. Mila dan Dila ikut Ismail ke sekolahnya dengan jalan kaki.

Sedangkan Musrifah, menjaga ruam, karena sudah lulus SMP dan tidak melanjutkan lagi ke jenjang SMA karena masalah biaya. Ismail butuh waktu 10 menit untuk sampai ke sekolahnya.

"Harus jalan kaki bersama-sama karena saya tidak punya sepeda," kata Ismail.


Page:

Close Ads X