Guru Cabuli Murid, Dinas Pendidikan Tak Akan Beri Pendampingan Hukum - Kompas.com

Guru Cabuli Murid, Dinas Pendidikan Tak Akan Beri Pendampingan Hukum

Kompas.com - 11/10/2018, 20:40 WIB
KHS (36), Guru SDN terduga pelaku kasus pencabulan terhadap 2 anak SD, didampingi Kasat Reskrim Polres Jombang, AKP Gatot Setyo Budi (kiri) dan Kasubbag Humas Polres Jombang, Iptu Sarwiaji (Kanan)KOMPAS.com/Moh. Syafii KHS (36), Guru SDN terduga pelaku kasus pencabulan terhadap 2 anak SD, didampingi Kasat Reskrim Polres Jombang, AKP Gatot Setyo Budi (kiri) dan Kasubbag Humas Polres Jombang, Iptu Sarwiaji (Kanan)

JOMBANG, KOMPAS.com - Dinas Pendidikan Kabupaten Jombang, Jawa Timur, menyatakan prihatin atas keterlibatan guru sebagai pelaku pencabulan terhadap siswinya, sebagaimana terbongkar beberapa hari lalu.

Pada Senin (8/10/2018) lalu, polisi mengamankan KHS (36), guru salah satu SDN di Kecamatan Sumobito Kabupaten Jombang.

Guru Bahasa Indonesia itu diduga melakukan pencabulan terhadap dua anak didiknya.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Jombang Budi Nugroho mengaku tak habis pikir dengan banyaknya guru yang terjerat dalam kasus kejahatan seksual terhadap anak.

"Kami sangat prihatin, karena masih saja ada kasus seperti itu. Padahal kami sudah tidak kurang-kurang (melakukan) sosialisasi dan juga sudah ada kasus terdahulu," katanya, Kamis (11/10/2018).

Terhadap kasus dugaan pencabulan yang menjerat KHS, PNS di lingkungan pendidikan yang bertugas sebagai guru bahasa Indonesia, Dinas Pendidikan menyerahkan kepada polisi untuk memproses kasus tersebut secara adil.

Dinas Pendidikan, ujar Budi Nugroho, tidak akan memberikan pendampingan hukum kepada pegawai yang terindikasi kuat melakukan tindakan pidana.

"Kami sangat mendukung aparat penegak hukum untuk melakukan kewenangannya," ujarnya.

Baca juga: Dituduh Cabul, Bocah Kelas 2 SD Diikat dan Ditelanjangi

Berdasarkan catatan Lembaga Perlindungan Perempuan dan Anak (LP2A) Jombang, kasus kejahatan seksual yang dilakukan oleh guru dengan korban anak sekolah, pada tahun 2018 tercatat sebanyak 3 kasus.

"Salah satunya kasus yang melibatkan Eko Agriawan, guru di SMPN 6 Jombang. Korbannya ada 26 anak. Pengadilan sudah memvonis 14 tahun penjara kepada Eko," kata Mohammad Sholahuddin, Ketua LP2A Jombang.

Dipaparkan, dalam 2 tahun terakhir, sebanyak 9 orang guru menjadi pelaku dalam pencabulan atau pelecehan seksual terhadap anak sekolah, bahkan anak didiknya sendiri.

Pada tahun 2017 terdapat 6 orang pendidik yang harus berurusan dengan aparat penegak hukum karena kasus kejahatan seksual terhadap anak.

"Untuk yang tahun lalu, vonis hukumannya rata-rata 7 tahun," ungkap Mohammad Sholahuddin.

"Harapan kami, pelaku kejahatan seksual terhadap anak-anak mendapatkan hukuman maksimal. Apalagi jika pelakunya adalah guru. Guru itu punya tanggung jawab mencetak generasi, kalau kelakuannya seperti itu, lalu bagaimana nasib masa depan bangsa kita," ujar Udin, sapaan akrabnya.

Direktur Lingkar Indonesia untuk Keadilan (LINK), Aan Anshori, menyatakan kekhawatirannya terkait banyaknya guru yang menjadi pelaku kejahatan seksual terhadap anak-anak.

Menurut Aan Anshori, di saat publik belum benar-benar lupa terhadap kasus pencabulan 26 siswi SMP oleh gurunya sendiri, namun kini sudah muncul kasus baru.

Dia khawatir kasus pelecehan seksual terhadap anak oleh oknum pendidik menjadi fenomena gunung es.

"Aku meyakini, data-data yang muncul merupakan permukaan saja. Situasinya bisa jadi jauh lebih buruk dari itu," paparnya.

Terhadap KHS, guru berstatus PNS yang kini jadi tersangka kasus pencabulan, Koordinator GUSDURian Jombang ini berharap ada sanksi setimpal diberikan.

"Pelakunya dihukum setimpal dan dicopot sebagai PNS dengan tidak hormat," ujar Aan.

Diberitakan sebelumnya, KHS (36), guru di salah satu SD Negeri di wilayah Kecamatan Sumobito, Kabupaten Jombang, ditangkap polisi atas dugaan kasus pencabulan terhadap 2 muridnya.

Berdasarkan hasil pemeriksaan polisi, PNS Guru Bahasa Indonesia itu diduga berbuat cabul terhadap kedua anak didiknya sejak Maret 2017, dimana masing-masing korban dicabuli hingga 9 dan 10 kali.

KHS kini ditahan polisi dengan status sebagai tersangka. Dia dijerat dengan pasal 82 Undang-undang 35 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak.



Close Ads X