Harga Bawang Merah Tinggal Rp 900 per Kilogram, Petani Blokade Jalan

Kompas.com - 10/10/2018, 19:50 WIB
Petani memblokade jalan lintas Desa Ngali, Kecamatan Belo, Bima karena kecawa anjloknya harga bawang merah, Rabu (10/10/2018)KOMPAS.com/Syarifudin Petani memblokade jalan lintas Desa Ngali, Kecamatan Belo, Bima karena kecawa anjloknya harga bawang merah, Rabu (10/10/2018)


BIMA, KOMPAS.com- Ratusan petani di Desa Ngali, Kecamatan Belo, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), berunjuk rasa dengan cara memblokade jalan, Rabu (10/10/2018).

Mereka menuntut pemerintah untuk mengatasi keterpurukan harga bawang merah yang anjlok secara terus menerus hingga mencapai titik paling terendah.

Camat Belo Bambang Setiawan mengaku, petani bawang merah berunjuk rasa karena harga bawang merah di tingkat petani hingga Oktober 2018 belum juga stabil.

"Ada ratusan petani turun melakukan aksi unjuk rasa. Mereka memblokade jalan karena kecewa dengan harga bawang merah yang turun," kata Bambang saat dihubungi Kompas.com.


Khusus di Kecamatan Belo, sejak awal tahun tahun ini harganya mengalami penurunan. Bahkan, harganya berada di level terendah yakni di bawah Rp 1000 per kilogram.

"Menurut petani harga bawang merah kini hanya Rp 900 per kilogram dari sebelumnya Rp 6.000 hingga Rp 15.000 per kilogram. Petani menganggap harga itu tidak memihak dan tidak sebanding dengan biaya untuk pembelian bibit, pestisida termasuk pupuk," ujar Bambang.

Baca juga: Polisi Gagalkan Penyelundupan Bawang Merah dari Malaysia di Dumai

Aksi demonstrasi ratusan petani bawang berlangsung sejak pukul 08.00 Wita hingga siang.

Bambang mengatakan, mereka memblokade atau menutup paksa jalan lintas Desa Ngali yang menghubungkan Kecamatan Langgudu hingga lumpuh total.

"Mereka memasang meja kayu, batu, bambu, ban bekas serta bawang di badan jalan, sehingga menghambat arus lalu lintas," tuturnya.

Dalam tuntutannya, mereka meminta agar pemerintah segera menstabilkan harga bawang.

Selain itu, pemerintah juga diminta untuk mengawasi penjualan pestisida dan pupuk subsidi yang melebihi harga eceran tertinggi.

Khusus untuk pupuk subsidi, lanjut Bambang, ditingkat petani kini dibandrol hinggap Rp 150.000 per zak. Padahal harga eceran tertinggi (HET) hanya Rp 95.000 per zak.

"Tingginya harga pupuk subsidi juga merugikan petani, sehingga pemerintah diminta turun tangan untuk mengawasi para distributor," ucapnya.

Halaman:


Terkini Lainnya


Close Ads X