Perajin Batik Kulon Progo Kesulitan Kelola Limbah

Kompas.com - 09/10/2018, 14:46 WIB
Limbah cair dari produksi batik meluber sampai ke halaman utama rumah produksi batik. Limbah ini tidak terserap tanah, berbau, dan kental. Perajin batik di Lendah ini mengawatirkan limbah ini bisa meluber sampai ke jalanan bila musim hujan datang suatu saat nanti. KOMPAS.com/ Dani JLimbah cair dari produksi batik meluber sampai ke halaman utama rumah produksi batik. Limbah ini tidak terserap tanah, berbau, dan kental. Perajin batik di Lendah ini mengawatirkan limbah ini bisa meluber sampai ke jalanan bila musim hujan datang suatu saat nanti.

KULON PROGO, KOMPAS.com-Cairan berwarna pelangi pekat dan berbau menggenangi halaman sebuah rumah produksi batik di Dusun Sembungan, Desa Gulurejo, Kecamatan Lendah, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Genangan nyaris menggenangi semua halaman, baik di tengah, samping rumah, sela-sela antar dinding rumah dengan dinding tetangga, hingga belakang sebuah rumah.

“( Limbah) semakin banyak, akhirnya meluber, sampai sekarang tidak teratasi,” kata Hanang, 33 tahun, pemilik industri rumah tangga batik ‘Banyu Sabrang’ di Gulurejo, Selasa (9/10/2018).


Cairan itu limbah yang berasal dari pabrik miliknya yang terus menumpuk berbulan-bulan sejak tahun lalu di halaman rumah.

Hanang bersama istrinya menjadi motor bagi Banyu Sabrang. Mereka bisa memproduksi sedikitnya 25 lembar batik sehari dengan harga minimal Rp 100.000 per lembar atau 1 batik tulis yang diproduksi antara 1-5 lima hari sekali.

Baca juga: Pecahkan Rekor Muri, 5.000 Perempuan Kenakan Batik di Gedung Sate

Banyu Sabrang salah satu perajin batik yang maju di Gulurejo. Selain Hanang, masih ada puluhan kelompok perajin lain di sana berada di sana sehingga menaikkan pamor desa menjadi sentra batik Kulon Progo. Ribuan orang menggantungkan hidup pada produksi batik ini.

Hanang mulai menekuni batik sejak 2014. Saat itu, Gulurejo sudah naik daun sebagai desa wisata batik. Dengan latar pendidikan dari sekolah seni lukis, Hanang terjun juga ke dunia batik khusus tulis dan cap dengan motif abstrak.

Ia mengawali produksi di rumah milik orang tuanya di perkampungan padat penduduk di Sembungan ini.

Semula, kata Hanang, rumah itu mampu menangani limbah sendiri pada tahun pertama berjalan.

Namun, pesanan batik terus meningkat di tahun-tahun berikutnya berkat pemasaran online.

Sejak itu, ia bisa memasarkan batik rutin ke Jakarta, Surabaya, hingga Makassar di Sulawesi Selatan.

Penjualannya pun bisa tembus Rp 50 juta per bulan saat sedang ramai. Ia bahkan sanggup membuka galeri di lokasi lebih strategis di jalan umum di Gulurejo ini.

Seiring pertumbuhan produksi Banyu Sabrang, Hanang mengakui kesulitan menangani limbah yang dihasilkan dari produksi batik. Hanang mengaku punya semangat untuk membangun sendiri pengolahan limbah itu.

Awalnya cuma membuat tampungan comberan, namun tetap meluap. Kini ia mempertimbangkan membangun instalasi pengolah limbah sendiri di halaman rumah.

Ia menyadari, harganya tidak murah, antara Rp 15-25 juta. Itu pun belum tentu berhasil dan bisa berfungsi baik mengingat banyak perajin batik di Gulurejo juga membuatnya tapi juga kurang berhasil.

Ia pun berharap pemerintah turut campur tangan.

“Apakah bisa pindah ke tempat yang lebih strategis, misal dekat sungai mengingat senior-senior saya juga ada di sana, atau bagaimana,” kata Hanang.

Hanang mengakui mengelola limbah tidak bisa ditunda. Ia sudah menemui tanda bahwa air sumur di rumah produksi itu mulai menguning. Rasa air juga sudah berubah. Air tak lagi layak dikonsumsi. Hanang mengatakan, air sumur terpaksa hanya dipakai untuk mandi.

“Kalau minum kami minta dari tetangga,” kata Hanang.

Tantangan lain terjadi bila musim hujan. Ia mengkhawatirkan kalau limbah batik yang sudah menggenang di halaman samping dan belakang rumah bisa meluber bahkan sampai ke jalanan milik warga.

“Kemarin kalau hujan sampai halaman depan. Tahun depan bisa ke luar,” kata Hanang.

Hanang meyakini sebagian besar pembatik di Gulurejo menghadapi persoalan serupa. Mereka belum sempurna mengatasi limbah.

“Saya berharap pemerintah membantu solusi,” kata Hanang.

Baca juga: Harapan di Balik Lahirnya Museum Batik Tiga Negeri di Lasem

Bupati Kulon Progo Hasto Wardoyo mengakui persoalan limbah ini sebagai pekerjaan rumah yang belum juga kelar. Upaya menciptakan pengelolaan limbah batik yang baik sejatinya sudah dirintis sejak lama, belum juga berhasil.

Bupati Hasto berjanji akan meningkatkan upaya pengelolaan yang lebih baik bagi produksi limbah akibat tumbuhnya industri batik ini.

“Kami akan mengoreksi Amdal biar limbah bisa dikelola baik dan tidak mengganggu lingkungan. Konsekuensi dari hidupnya industri rumah tangga adalah pengendalian dari Amdal,” kata Hasto di peresmian padepokan Nithik Chanting di Gulurejo beberapa hari lalu.

Sejauh ini, menurut Hasto, pemerintah sudah melakukan banyak hal, termasuk menjalin kerja sama dengan UGM untuk mengelola Amdal. Namun, semua belum menunjukkan hasil maksimal.

“Akan ditingkatkan. Jangan dilupakan itu,” kata Hasto.

Sekadar diketahui, batik merupakan salah satu andalan industri di Kulon Progo. Perajin batik muncul hingga 38 kelompok di seluruh kabupaten ini. Kecamatan Lendah, utamanya Gulurejo, Sidorejo, dan Ngentakrejo merupakan desa pembatik utama. Ribuan orang bergantung pada bisnis rumah tangga ini.

Dinas Perindustrian dan Pedagangan Kulon Progo mencatat, produksi batik di 2017 saja sampai 120.000 potong. Omsetnya menembus Rp 120 miliar tahun lalu.

Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kabut Asap Pekat di Jambi: Jam 12 Siang Gelap, Warga Nyalakan Lampu dan Kipas Angin

Kabut Asap Pekat di Jambi: Jam 12 Siang Gelap, Warga Nyalakan Lampu dan Kipas Angin

Regional
Diselimuti Asap Pekat Kebakaran Lahan di Muarojambi, Siang di Desa Ini Seperti Jelang Malam

Diselimuti Asap Pekat Kebakaran Lahan di Muarojambi, Siang di Desa Ini Seperti Jelang Malam

Regional
Kasus Pencabulan Santri, Pimpinan dan Guru Pesantren Segera Diadili di Aceh

Kasus Pencabulan Santri, Pimpinan dan Guru Pesantren Segera Diadili di Aceh

Regional
[POPULER NUSANTARA] Mulan Jameela Ditetapkan Jadi Anggota DPR | Adian Napitupulu Tolak Tawaran Jadi Menteri

[POPULER NUSANTARA] Mulan Jameela Ditetapkan Jadi Anggota DPR | Adian Napitupulu Tolak Tawaran Jadi Menteri

Regional
Anak yang Dipaksa Mengemis oleh Orangtua Kini Ditangani Dinas Sosial

Anak yang Dipaksa Mengemis oleh Orangtua Kini Ditangani Dinas Sosial

Regional
Viral di Media Sosial, TKI Asal Sumedang Meninggal di Arab Saudi

Viral di Media Sosial, TKI Asal Sumedang Meninggal di Arab Saudi

Regional
Petugas Gunakan Sepatu dan Kayu Padamkan Kebakaran Lahan di Toraja

Petugas Gunakan Sepatu dan Kayu Padamkan Kebakaran Lahan di Toraja

Regional
2 Hari Kualitas Udara di Pekanbaru di Level Berbahaya, Warga Pilih Pindah ke Sumbar

2 Hari Kualitas Udara di Pekanbaru di Level Berbahaya, Warga Pilih Pindah ke Sumbar

Regional
Ini Pengakuan Istri dari Bandar Narkoba yang Ditembak Mati di Samarinda

Ini Pengakuan Istri dari Bandar Narkoba yang Ditembak Mati di Samarinda

Regional
Padamkan Api di Gunung Slamet, Personel Mesti Tempuh Jalan Kaki 8 Jam

Padamkan Api di Gunung Slamet, Personel Mesti Tempuh Jalan Kaki 8 Jam

Regional
Dua TKI Ilegal Asal NTT Meninggal Dunia di Malaysia, Ini Sebabnya...

Dua TKI Ilegal Asal NTT Meninggal Dunia di Malaysia, Ini Sebabnya...

Regional
Alami Mual dan Pusing, 64 Warga Denpasar Dilarikan ke Rumah Sakit

Alami Mual dan Pusing, 64 Warga Denpasar Dilarikan ke Rumah Sakit

Regional
Polres Tulang Bawang Ringkus Perampok Spesialis Rumah Mewah

Polres Tulang Bawang Ringkus Perampok Spesialis Rumah Mewah

Regional
Coba Rebut Senjata Petugas Saat Kejar-kejaran, Bandar Narkoba Tewas Tertembak di Kepala

Coba Rebut Senjata Petugas Saat Kejar-kejaran, Bandar Narkoba Tewas Tertembak di Kepala

Regional
Kemarau, Pemkot Padang Salurkan 10.000 Liter Air Bersih ke Warga

Kemarau, Pemkot Padang Salurkan 10.000 Liter Air Bersih ke Warga

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X