Rumah Terakhir Habitat Gajah Sumatera Terancam Tambang Batubara (1)

Kompas.com - 08/10/2018, 14:11 WIB
Gajah di Sebelat, Bengkulu UtaraKOMPAS.COM/FIRMANSYAH Gajah di Sebelat, Bengkulu Utara


BENGKULU, KOMPAS.com - Koalisi Penyelamat Bentang Seblat Bengkulu mendorong Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya untuk mencabut izin operasi pertambangan batubara PT. Inmas Abadi yang beroperasi antara kawasan Hutan Produksi dan Taman Wisata Alam (TWA) Seblat.

Kawasan ini membentang di Kabupaten Bengkulu Utara dan Mukomuko dengan luasan 750 hektar.

Bentang alam Seblat di perbatasan Kabupaten Bengkulu Utara dan Kabupaten Mukomuko merupakan “rumah” terakhir habitat gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) yang tersisa di Provinsi Bengkulu.

Penyusutan kawasan hutan akibat berbagai kepentingan membuat ruang hidup satwa terancam punah ini semakin menyempit yang berujung pada penurunan populasi. 


Berdasarkan survei Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu-Lampung bersama tim Mitigasi Konflik Manusia-Gajah (MKMG) pada 2004-2009, estimasi populasi kelompok gajah Air Ipuh-Air Teramang berjumlah 47 ekor.

Pada 2010, berdasarkan data WCS-IP memperkirakan populasi kelompok gajah hutan produksi fungsi khusus Pusat Latihan Gajah (PLG) Seblat-HPT Lebong Kandis sekira 60-100 ekor.

Kemudian, pada 2017, berdasarkan data BKSDA Bengkulu-Lampung estimasi populasi kelompok gajah Hutan Produksi (HP) Air Rami-HPT Lebong Kandis pada 2017 sebanyak 37 ekor.

Gangguan terhadap habitat dan ruang hidup yang semakin menyempit terus melanggengkan konflik antara manusia dan gajah yang hingga kini belum tertangani dengan baik.

Kondisi ini makin diperparah dengan pemberian izin usaha pertambangan (IUP) batu bara PT Inmas Abadi dari pihak terkait di bentang Seblat.

Baca juga: Kunjungi Kenya, Melania Trump Beri Makan Bayi Gajah dan Bersafari

 Berdasarkan penelusuran tim, IUP PT Inmas Abadi telah berkali-kali terbit di sekitar lokasi HPT Lebong Kandis dan TWA Seblat dimulai pada 1996.


Izin terbaru terbit pada 2017 berdasarkan Keputusan Gubernur Bengkulu nomor I.315. DESDM tahun 2017 tentang IUP operasi produksi di wilayah Kabupaten Bengkulu Utara seluas 4.051 hektar.

Berdasarkan analisis Yayasan Genesis Bengkulu, 735 ha konsesi masuk dalam TWA Sebelat, 1915 ha dalam HPT Lebong Kandis Register 69 dan seluas 540 ha masuk dalam hutan produksi yang dapat dikonversi (HPK).

Untuk mendapatkan wilayah TWA Seblat di mana di dalamnya terdapat Pusat Latihan Gajah (PLG) Seblat, PT Inmas Abadi telah bersurat ke Menteri LHK meminta pelepasan kawasan tersebut untuk pertambangan.

Halaman:


Terkini Lainnya


Close Ads X