Tenaga Honorer K2 di Yogya Demo Minta Seleksi CPNS 2018 Dibatalkan

Kompas.com - 04/10/2018, 18:38 WIB
Tenaga Kerja Honorer Kategori II di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) saat mengelar aksi di kantor Gubernur KOMPAS.com / Wijaya KusumaTenaga Kerja Honorer Kategori II di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) saat mengelar aksi di kantor Gubernur


YOGYAKARTA,KOMPAS.com - Tenaga kerja honorer Kategori 2 (K2) di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) melakukan aksi demo di DPRD DIY dan Kantor Gubernur DIY.

Para tenaga kerja honorer ini mendesak seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) tahun 2018 dibatalkan dan pemerintah merevisi Undang-Undang ASN Nomor 5 Tahun 2014.

Membawa berbagai tulisan dan spanduk, para tenaga honorer K2 mengawali aksinya dengan mendatangi kantor DPRD DIY. Usai mediasi dengan anggota dewan, mereka melanjutkan aksinya di kantor Gubernur DIY.

"Kami mendesak supaya penerimaan CPNS 2018 ditunda," ujar Eka Mujiyanta, Ketua Forum Honorer Kategori II Korwil DIY, Kamis (04/10/2018).

Baca juga: Tenaga Honorer K2 Demo, Selipkan Doa untuk Palu dan Donggala

Eka menuturkan, dalam aksi ini pihaknya mendesak agar pemerintah merevisi UU ASN yang tidak berpihak kepada tenaga kerja honorer kategori II. Sebab, yang berhak mengikuti proses CPNS maksimal berusia 35 tahun.

Sementara tenaga honorer K2 rata-rata usianya sudah menginjak 40 tahun dan bahkan ada yang berusia 50 tahun.

"UU ASN harus direvisi agar tenaga honorer K2 bisa diangkat menjadi PNS, itu solusi satu-satunya untuk menyelesaikan ini," tegasnya.

Menurutnya, seharusnya tidak ada pembatasan usia. Namun, yang menjadi pertimbangan untuk pengangkatan tenaga kerja honorer K2 menjadi PNS adalah lamanya pengabdian.

"Usia kami di sini minimal 40 tahun dan ada yang 50 tahun. Kami mengabdi paling sedikit 14 tahun, ada yang lebih dari 30 tahun, harusnya diangkat tanpa tes," tuturnya.

Eka menjelaskan, saat ini di DIY ada sekitar 3.000 pekerja honorer kategori 2. Di luar kategori, jumlahnya mencapai 10.000 orang.

Setiap bulannya, para pekerja honorer K2 ini mendapat upah sekitar Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu. Upah tersebut jauh dari kata layak, padahal harus menghidupi keluarga.

"Kami ingin UU ASN segera di revisi dan tenaga honorer K2 bisa diangkat," pungkasnya. 

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Komisi X DPR: Komcad Pertahanan Jangan Berujung Indoktrinasi Militerisme

Komisi X DPR: Komcad Pertahanan Jangan Berujung Indoktrinasi Militerisme

Regional
Tak Terpengaruh Aksi Teror, Bali Tetap Aman Dikunjungi

Tak Terpengaruh Aksi Teror, Bali Tetap Aman Dikunjungi

Regional
Kisah Pengungsi Gempa Maluku, Sengsara di Tenda, Dipungut Rp 100.000 untuk Nikmati Penerangan

Kisah Pengungsi Gempa Maluku, Sengsara di Tenda, Dipungut Rp 100.000 untuk Nikmati Penerangan

Regional
Rektor UMI Bentuk Tim Pencari Fakta Usut Pelaku Penyerangan Mahasiswa

Rektor UMI Bentuk Tim Pencari Fakta Usut Pelaku Penyerangan Mahasiswa

Regional
Hujan Es Hingga Pohon Tumbang Terjadi di Kota Serang

Hujan Es Hingga Pohon Tumbang Terjadi di Kota Serang

Regional
Pergi Mancing sejak Tiga Hari Lalu, Pria di Bali Ditemukan Tak Bernyawa

Pergi Mancing sejak Tiga Hari Lalu, Pria di Bali Ditemukan Tak Bernyawa

Regional
Pelaku Bom Bunuh Diri di Mapolrestabes Medan, Warga: Orangnya Baik

Pelaku Bom Bunuh Diri di Mapolrestabes Medan, Warga: Orangnya Baik

Regional
Pasca Bom Bunuh Diri di Medan, Markas Polisi di Jabar Tingkatkan Keamanan

Pasca Bom Bunuh Diri di Medan, Markas Polisi di Jabar Tingkatkan Keamanan

Regional
Tembak Kontraktor, Anak Bupati Majalengka Masih Jadi Saksi

Tembak Kontraktor, Anak Bupati Majalengka Masih Jadi Saksi

Regional
Pelaku Bom Bunuh Diri di Medan Dikenal Sebagai Pengemudi Ojek Online dan Penjual Bakso Bakar

Pelaku Bom Bunuh Diri di Medan Dikenal Sebagai Pengemudi Ojek Online dan Penjual Bakso Bakar

Regional
Mantan Menaker Hanif Dhakiri Ramaikan Bursa Calon Wali Kota Surabaya

Mantan Menaker Hanif Dhakiri Ramaikan Bursa Calon Wali Kota Surabaya

Regional
Denny Indrayana Optimistis Maju Sebagai Calon Gubernur Kalsel Lewat Jalur Partai

Denny Indrayana Optimistis Maju Sebagai Calon Gubernur Kalsel Lewat Jalur Partai

Regional
Menteri hingga Gubernur Kirim Karangan Bunga untuk Keluarga Djaduk Ferianto

Menteri hingga Gubernur Kirim Karangan Bunga untuk Keluarga Djaduk Ferianto

Regional
Polda Jatim Akan Tetapkan Tersangka Baru Kasus Sekolah Ambruk di Pasuruan

Polda Jatim Akan Tetapkan Tersangka Baru Kasus Sekolah Ambruk di Pasuruan

Regional
Buntut Kematian Mahasiswa di Kampus, Rektor UMI Minta Polisi Berjaga 1 Bulan

Buntut Kematian Mahasiswa di Kampus, Rektor UMI Minta Polisi Berjaga 1 Bulan

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X