Satu Sore di Pantai Talise, Palu - Kompas.com

Satu Sore di Pantai Talise, Palu

Kompas.com - 02/10/2018, 15:57 WIB
Masjid Apung atau Masjid Argam Bab Al Rahman. Masjid yang berjarak 30 meter dari bibir Pantai Talise, Kota Palu, Sulawesi Tengah, terendam air. Jembatan penghubung dari daratan ke masjid rusak tersapu gelombanghandout/BNPB Masjid Apung atau Masjid Argam Bab Al Rahman. Masjid yang berjarak 30 meter dari bibir Pantai Talise, Kota Palu, Sulawesi Tengah, terendam air. Jembatan penghubung dari daratan ke masjid rusak tersapu gelombang

MESKI sudah setahun lalu, dia masih mengingat jelas suasana masjid terapung di Pantai Talise, Palu, Sulawesi Tengah, sore itu.

Bisik angin pantai Sulawesi tenggelam oleh riuh rendah suara anak mengaji bersahut-sahutan. Mereka puluhan, sebagian tidur-tiduran menunggu giliran, bercengkerama dengan yang lain, dan beberapa berlari-lari karena mungkin kelebihan energi.

Sore itu, dia dan temannya dari Jakarta mampir sejenak untuk shalat di masjid terapung, sekalian janjian dengan teman asli Palu, sebelum melanjutkan perjalanan ke Donggala untuk penelitian tentang dampak perubahan iklim yang dilakukan oleh Kemitraan.

Anak-anak yang entah sudah mendapatkan giliran mengaji atau belum dengan penuh semangat memberitahu, begitu dia dan temannya kebingungan mencari air wudhu. Ketika air di keran tidak mengalir, salah satu dari mereka langsung sigap mencari solusi.

"Tenang, Pak, Bu, nanti dihidupkan airnya dari keran di sebelah sana," ucap salah satu anak sambil berlari pergi.

Ketika dia dan temannya shalat, seperti dikomando, anak-anak berhenti berlari di dalam dan pindah ke luar. Volume suara obrolan yang tadinya cukup tinggi dikurangi, sehingga yang terdengar hanya lantunan ayat-ayat suci.

Selesai shalat, dia dan temannya beranjak pergi dan sebagian anak mengikuti. Mungkin anak-anak heran karena wajah dia dan temannya belum familiar dan sering terlihat di sekitar.

Temannya berinisiatif memberi uang receh untuk mereka jajan. Seketika raut muka mereka berubah senang, bergerombol mereka pindah ke warung jajanan sosis goreng yang ada di trotoar depan masjid.

Sementara dia dan temannya pergi melanjutkan perjalanan ke Donggala, segerombolan anak tenggelam dalam suka menunggu sosisnya siap sedia. Sebagian lagi masih asyik masyuk mengaji, dan sisanya menikmati sepoi angin pantai dengan berlari kesana-kemari.

Pantai Talise selalu ramai setiap sore, terlebih saat akhir pekan. Rumah makan berjejer sepanjang pantai, tempat bermain anak-anak juga tersedia dengan luasnya. Ada juga tempat nongkrong anak muda, lengkap dengan kopi, kelapa muda, jagung bakar dan jajanannya, serta pasar ikan dengan bau khasnya.

Salah satu yang menarik dari Pantai Talise, selain fasilitasnya, adalah keindahan pemandangannya saat matahari terbenam. Hampir setiap sore, momen matahari tenggelam diikuti guratan-guratan keemasan di langit-langit menunjukkan keindahan yang terus-menerus ingin lekat dilihat.

Daya tarik Pantai Talise mampu menyedot warga Palu dan sekitarnya. Banyak kegiatan, baik yang dilakukan oleh pemerintah daerah maupun perusahaan-perusahaan yang ingin mempromosikan produknya, digelar di tempat ini.

Jembatan Kuning, ikon Kota Palu, yang membentang di atas Teluk Talise seperti terlihat di Google Earth. Jembatan sepanjang sepanjang 300 meter ini menghubungkan wilayah Palu Barat dan Palu Utara. Jembatan ini juga merupakan jalur menuju Donggala. GOOGLE EARTH Jembatan Kuning, ikon Kota Palu, yang membentang di atas Teluk Talise seperti terlihat di Google Earth. Jembatan sepanjang sepanjang 300 meter ini menghubungkan wilayah Palu Barat dan Palu Utara. Jembatan ini juga merupakan jalur menuju Donggala.
Suasana itu kembali tergambar jelas, dalam perjalanan ke Pekalongan, Jawa Tengah, menggunakan kereta, sesaat setelah dia tahu bahwa Donggala digoyang gempa bumi dan Palu dihantam tsunami. Tiba-tiba raut mukanya berubah penuh khawatir.

Bagaimana nasib mereka (anak-anak dan guru mengaji)? Bisakah mereka menyelamatkan diri di tengah bencana gempa dan tsunami yang kejadiannya cepat sekali?

Dia tidak dapat membayangkan, bagaimana ketika gempa datang dan melenyapkan jembatan yang menjadi satu-satunya akses orang menuju masjid, sementara anak-anak masih mengaji, rebahan menunggu giliran, dan sebagian kecil membantu para pelancong dengan memberikan informasi dimana tempat wudhu.

Dia berdoa, semoga anak-anak yang ditemuninya sore itu semuanya selamat, lari tunggang-langgang ke arah bukit bersama guru mengaji, bukan ke rumah yang letaknya tidak jauh dari bibir pantai. Sebab, dengan kekuatan tsunami yang kedahsyatannya banyak bertebaran di media sosial, rumah-rumah mereka saat ini mungkin sudah rata dan tidak meninggalkan sisa.

Dia juga berdoa, anak muda yang sedang menikmati senja sembari menyantap jagung bakar, orangtua yang membawa anaknya untuk bertamasya sempat melarikan diri dari tsunami.

Suara kereta yang mengantarkannya ke Pekalongan nyaris tidak terdengar, berganti dengan riuh rendah suara anak-anak mengaji, suara berisik anak berlari kesana kemari disertai senyum sumringah.

Raut muka para penumpang yang terlelap tenang, seketika berganti dengan wajah senang, anak-anak yang riang menikmati indahnya sore di pantai talise.

#Prayforpalu #Prayfordonggala



Close Ads X