Dugaan Korupsi Pelabuhan Dompak, Polisi Tetapkan 2 Tersangka - Kompas.com

Dugaan Korupsi Pelabuhan Dompak, Polisi Tetapkan 2 Tersangka

Kompas.com - 28/09/2018, 13:27 WIB
Tersangka Hariadi dan tersangka Berto, pihaknya akan menjeratnya dengan Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 3 UU RI Nomor 20 tahun 2001 tentang perubahan atas UU RI Nomor 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi Jo Pasal 55, 56 KUHP.KOMPAS.COM/ HADI MAULANA Tersangka Hariadi dan tersangka Berto, pihaknya akan menjeratnya dengan Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 3 UU RI Nomor 20 tahun 2001 tentang perubahan atas UU RI Nomor 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi Jo Pasal 55, 56 KUHP.

 

TANJUNGPINANG. KOMPAS.com - Kasus dugaan korupsi pembangunan Pelabuhan Dompak Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau (Kepri) memasuki babak baru.

Pembangunan pelabuhan itu bersumber dari dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2015 yang dilaksanakan KSOP Kelas II Tanjungpinang dengan nilai kontrak Rp 9.242.350.000.

Penyidik Polres Tanjungpinang akhirnya menetapkan dua tersangka dalam kasus ini yakni Hariyadi yang merupakan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) atau PNS di KSOP-nya dan Berto Riawan, pemenang tender yang juga merupakan Direktur Cabang PT Karya Tunggal Mulya Abadi.

Ditemui di Mapolda Kepri, Kapolres Tanjungpinang AKBP Ucok Lasdin Silalahi mengatakan, setelah melalui proses penyelidikan, pihaknya menetapkan Hariyadi dan Berto Riawan sebagai tersangka.

"Penetapan status tersangka kepada kedua orang ini setelah penyidik menemukan dua alat bukti yang cukup," kata Ucok.

Baca juga: KPK Supervisi Kasus Dugaan Korupsi Pembangunan Fasilitas Pelabuhan Dompak Riau

Ucok menjelaskan, dari hasil pemeriksaan penyidik, tidak sedikit kesalahan yang dilakukan Hariyadi sebagai PPK.

Ia melakukan perubahan pengerjaan proyek yang seharusnya dalam kontrak membangun gardu listrik 10 KVA. Kenyataannya, ia malah membangun breakwater.

"Parahnya pembangunan ini tanpa adanya pengkajian dari tenaga hhli," jelas Ucok.

Selain itu, meski di lapangan proyek tersebut belum rampung atau selesai semua, namun Hariyadi tetap membayarkan uang pengerjaan sebanyak 100 persen alias pengerjaan proyek tersebut dianggap selesai.

Bahkan, untuk biaya perawatan, tersangka juga dengan sengaja melakukan pemalsuan dokumen, seolah-olah yang dibangunnya tersebut dalam perawatan rutin.

"Selain memalsukan dokumen PHO, tersangka Hariadi juga memalsukan tanda tangan Tamrin selaku pejabat penerima hasil pekerjaan," terang Ucok.

Dalam hal ini, lanjut Ucok pihaknya juga melakukan koordinasi dengan BPK RI perwakilan Kepri.

Setelah dilakukan diaudit, BPK menemukan kerugian negara yang ditimbulkan dari proyek ini yang nilainya mencapai Rp 5.054.740.904 atau hampir 55 persen dari nilai proyek.

"Hasil dari hitungan BPK kerugian negara yang ditimbulkan mencapai Rp 5.054.740.904 atau hampir 55 persen dari nilai proyek," papar Ucok.

Baca juga: MA Akui Belum Berikan Salinan Putusan Kasasi Perkara Korupsi Pelabuhan NTB

Sementara tersangka Berto Irawan, menurut Ucok, keterlibatan tersangka ini hanya seputar penyediaan barang, dimana dalam pengecekan di lapangan ternyata barang yang diminta tersebut tidak ada.

"Parahnya lagi tersangka Berto kembali memberikan pekerjaan ini kepada perusahaan lain. Padahal apa yang telah dilakukan tidak sesuai dengan perjanjian awal dan melanggar aturan," ungkap Ucok.

Untuk saat ini, Ucok mengaku pihaknya masih menetapkan dua tersangka. Namun, seiring dengan hasil penyidikan ke depan tidak menutup kemungkinan akan ada tersangka baru.

Sebab, ditemukan sejumlah bukti baru dari hasil penyidikan kasus ini.

"Penyidik masih melakukan pengembangan dan penyidikan. Jadi, lihat saja apakah ada tambahan tersangka baru atau tidak," katanya menjelaskan.

Lebih jauh Ucok menjelaskan, untuk tersangka Hariadi dan tersangka Berto, pihaknya akan menjeratnya dengan Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 3 UU RI Nomor 20 tahun 2001 tentang perubahan atas UU RI Nomor 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi Jo Pasal 55, 56 KUHP.


Terkini Lainnya

PAN Dinilai Realistis jika Lebih Pentingkan Pileg daripada Kampanyekan Prabowo

PAN Dinilai Realistis jika Lebih Pentingkan Pileg daripada Kampanyekan Prabowo

Nasional
AS Sulit Diterka, Wapres Kalla Ajak Uni Eropa Pererat Hubungan dengan Asia

AS Sulit Diterka, Wapres Kalla Ajak Uni Eropa Pererat Hubungan dengan Asia

Nasional
Tersangka Peluru Nyasar Pernah Mengikuti Sertifikasi Tembak Reaksi

Tersangka Peluru Nyasar Pernah Mengikuti Sertifikasi Tembak Reaksi

Megapolitan
Di Gresik, Bayar SIM dan SKCK Bisa Pakai Uang Elektronik

Di Gresik, Bayar SIM dan SKCK Bisa Pakai Uang Elektronik

Regional
Menuju Indonesia 4.0 dan Membangun Budaya Penelitian Generasi Milenial

Menuju Indonesia 4.0 dan Membangun Budaya Penelitian Generasi Milenial

Edukasi
BNNP DKI Amankan 6 Orang Penghuni Rusun Jatinegara yang Pakai Narkoba

BNNP DKI Amankan 6 Orang Penghuni Rusun Jatinegara yang Pakai Narkoba

Megapolitan
Pemerintah Negosiasi Ulang Pengembangan Jet Tempur KFX/IFX dengan Korsel

Pemerintah Negosiasi Ulang Pengembangan Jet Tempur KFX/IFX dengan Korsel

Nasional
Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi CPNS Kemensetneg Ditunda

Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi CPNS Kemensetneg Ditunda

Nasional
Anggaran untuk Bangun Rusunami DP 0 Rupiah di Cilangkap Rp 350 Miliar

Anggaran untuk Bangun Rusunami DP 0 Rupiah di Cilangkap Rp 350 Miliar

Megapolitan
Berfoto dengan Kontestan Israel, Gelar Miss Earth Lebanon Dicopot

Berfoto dengan Kontestan Israel, Gelar Miss Earth Lebanon Dicopot

Internasional
Kisah Pasukan Oranye Jual Stiker demi Membantu Korban Gempa Sulawesi Tengah...

Kisah Pasukan Oranye Jual Stiker demi Membantu Korban Gempa Sulawesi Tengah...

Megapolitan
Saksikan Rekonstruksi, Ketua DPR Pastikan Tembakan Peluru karena Ketidaksengajaan

Saksikan Rekonstruksi, Ketua DPR Pastikan Tembakan Peluru karena Ketidaksengajaan

Nasional
Transjakarta Buka Rute Baru dari Stasiun Tanah Abang ke Stasiun Gondangdia

Transjakarta Buka Rute Baru dari Stasiun Tanah Abang ke Stasiun Gondangdia

Megapolitan
Kepala Lapas Pamekasan: Saat Pembalut Dibuka, Ternyata Isinya Handphone...

Kepala Lapas Pamekasan: Saat Pembalut Dibuka, Ternyata Isinya Handphone...

Regional
Rusunami DP 0 Rupiah di Cilangkap Dibangun April 2019, Totalnya 900 Unit

Rusunami DP 0 Rupiah di Cilangkap Dibangun April 2019, Totalnya 900 Unit

Megapolitan
Close Ads X