Kisah Kakak Beradik Caleg Beda Partai, Keluarga Tetap Nomor Satu

Kompas.com - 24/09/2018, 08:44 WIB
Andreas Gatot Wibowo (Kiri Baju Putih) Chandra Febri Anggaramanis (Baju Kuning) Kakak Beradik Maju Pemilu Legislatif 2019 Berbeda Partai Kompas.com/Markus YuwonoAndreas Gatot Wibowo (Kiri Baju Putih) Chandra Febri Anggaramanis (Baju Kuning) Kakak Beradik Maju Pemilu Legislatif 2019 Berbeda Partai

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Hari Minggu sering digunakan untuk berkumpul dengan keluarga. Tak terkecuali keluarga besar Prawoto (65), warga Desa Playen, Kecamatan Playen, Gunungkidul, Yogyakarta.

Hari itu, Minggu (23/9/2018), dua dari tiga anaknya berkumpul untuk menghabiskan akhir pekan di rumah orang tuanya.

Andreas Gatot Wibowo (42) yang bertempat tinggal di Kecamatan Wonosari sengaja datang untuk mengunjungi orangtuanya. Adiknya, Chandra Febri Anggaramanis (34) yang bertempat tinggal tak jauh dari rumah sang orangtua, juga datang.

Baca juga: Cerita di Balik Video Viral Mahasiswa yang Bisa Tiru Suara Jokowi (1)


Saat ditemui Kompas.com, ketiganya, Prawoto, Andre, dan Chandra, tengah beristirahat di teras rumah di Padukuhan Playen II ini. Sambil menikmati teh panas dan jagung rebus, ketiganya bercerita tentang politik yang sudah memasuki masa kampanye hingga dinamika yang ada di masyarakat.

Diskusi berlangsung seru karena kedua putra Prawoto itu saat ini maju sebagai Calon Anggota Legislatif Gunungkidul.

Andreas yang merupakan politisi dari Perindo mencalonkan diri untuk dapil V, yakni Paliyan, Panggang, Purwosari, Saptosari, dan Tanjungsari. Sementara itu, Chandra merupakan caleg dari Hanura dari dapil I Gunungkidul yang meliputi Kecamatan Playen dan Wonosari.

Baca juga: Viral, Video Gubernur Sumut Edy Rahmayadi Tampar Suporter PSMS Medan

Andreas mengaku sudah turun ke dunia politik sejak tahun 1990-an. Sejak muda, dia mengaku sudah bergabung ke Partai Demokrasi Indonesia (PDI), namanya waktu itu.

Saat itu, PDI dianggap partai anak muda dan melawan arus pada masa orde baru. Lalu pasca-reformasi, dia bergabung ke PDI Perjuangan. Setelah muncul perpecahan di tubuh partai besutan Megawati itu, dirinya memutuskan hijrah ke Partai Demokrasi Pembaharuan (PDP) pada tahun 2009 dan maju sebagai caleg tetapi gagal.

Setelah vakum beberapa tahun, dan bekerja. Dia lantas kembali ke partai politik. Kali ini yang dipilihnya merupakan Perindo.

"Saya sejak dulu memilih partai yang nasionalis. Kenapa saat ini memilih Perindo karena Nasionalis dan juga ketua umumnya HT (Hari Tanoesudibyo) merupakan tokoh nasionalis," ucapnya.

Baca juga: Kisah Nenek Habsah Melipat Harapan di Gubuk Reyot dalam Kesendirian...

Dia mengaku, sebelum masuk ke Perindo, sempat diajak oleh adiknya Chandra untuk masuk ke Hanura. Namun, karena berbagai pertimbangan, dia menempuh jalan berbeda.

"Awalnya sempat diajak Chandra saat awal dia masuk ke sana (Hanura), tetapi setelah dipikir-pikir dengan pertimbangan yang matang akhirnya memilih Perindo," ujarnya

Sementara itu, Chandra mengaku awalnya turun ke dunia politik bersama PDI Perjuangan pada tahun 2009. Saat itu, sebagai kader, dia duduk sebagai pengurus sayap partai.

Dia sempat vakum dari dunia politik selama beberapa tahun lalu memilih bekerja di kapal pesiar serta mengembangkan bisnisnya. Chandra lalu kembali ke dunia politik tahun 2015 dan bergabung dengan Hanura.

"Bagi saya politik itu harus sesuai dengan hati nurani,"katanya

Untuk mencegah kampanye di satu wilayah, Chandra mengaku memilih untuk dapil I dan Andreas sebagai kakak tertuanya di dapil V.

"Setelah keluarga berembug, karena saya yang duluan masuk ke partai, saya maju dari dapil I sesuai rumah saya. Sementara mas Andreas ke dapil V," ucapnya.

Keluarga nomor satu

Keduanya sepakat untuk mengedepankan keluarga dibanding politik. Meski berbeda partai, tidak menyebabkan keduanya bersaing dalam hal partai.

"Kakak beradik itu selamanya, tetapi partai politik kan sementara, maka kami saling membantu," ucap Chandra.

"Saling membantu itu, misal ada teman saya di dapil mas Andreas, akan saya kenalkan kakak saya agar membantu dia, begitu juga sebaliknya," tambahnya lagi.

Setiap minggu keluarga ini berkumpul. Dalam pertemuan itu, mereka juga membicarakan perkembangan sosialisasi yang dilakukan keduanya.

Keduanya juga punya  visi dan misi yang mirip, sama -sama ingin memajukan Gunungkidul dari sisi wisata. Sebab, keduanya menilai bahwa selama ini Gunungkidul belum maksimal dalam mengelola pariwisata meski kunjungannya mencapai jutaan orang.

"Kami sepakat untuk mendorong pengembangan sektor wisata dan budaya. Sisi budaya kami mengajak masyarakat kembali mencintai budayanya yang sudah mulai luntur," ujarnya.

Bahkan mereka memiliki mimpi yang unik. Jika sukses di dalam pemilihan legislatif, muncul wacana untuk maju sebagai Bupati dan Wakil Bupati Gunungkidul.

"Mimpi kami berdua menjadi Bupati dan Wakil Bupati. Kan beda partai, boleh dong bermimpi," pungkas keduanya.

Pesan ayah

Prawoto, sang ayah, tidak ingin terlalu mencampuri cita-cita dan kehidupan anak-anaknya. Politik adalah jalan yang dipilih sendiri oleh kedua anaknya.

"Saya tidak pernah mengintervensi anak-anak saya harus jadi apa, setelah selesai (kuliah) terserah masing-masing mau bekerja sebagai apa. Begitu juga memilih partai politik, terserah mereka saja," kata Prawoto.

Menurut dia, dinamika politik tergantung tujuannya masing-masing pribadi. Sebab, tujuan partai politik semuanya sama, ingin menyejahterakan masyarakat.

"Yang terpenting, jika mereka diberikan kepercayaan dari masyarakat jangan melupakan (Masyarakat)," ucapnya.

Baca tentang
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X